Tampilkan postingan dengan label TRAVELING DAN KULINER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TRAVELING DAN KULINER. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2020

YUK BIKIN MIE AYAM SENDIRI, ENAK DAN GAMPANG LOH!



Mie ayam plus bakso, beuh ini adalah perpaduan yang nikmat tiada tara, menurut saya sih. Mie dan bakso seakan menjadi dua sejoli sejodoh yang tak bisa dipisahkan. Hihihi. 

Di kotaku, Mojokerto, tak sulit untuk menemukan pedagang mie ayam yang menjajakan dagangannya. Begitu juga di kota-kota lainnya. Karena mie dan bakso masih menjadi menu favorit keluarga. Ya kan? Coba siapa di sini yang tidak suka mie ayam atau bakso? Tuh ga ada kaannn.

Ada satu depot mie ayam di kotaku yang sangat laris dagangannya. Namanya “Mie ayam Gajah Mada”. Tak bisa dipungkiri bahwa rasanya memang pas dan mantul di lidah. Saking enaknya, sampai-sampai terbawa mimpi loh. Iya, ini terjadi pada temanku yang menjadi fans garis keras mie ayam Gajah Mada ini.

Nah, sebagai ibu rumah tangga ya tidak mau rugi, hehe, akupun ingin berkreasi mie ayam sendiri dong. Selain bisa dapat topping ayam banyak, pastinya juga lebih enak, sehat dan higienis.

Oke, penasaran? Yuk ikuti step by stepnya yaaa. Pertama-tama siapkan bahan-bahannya terlebih dahulu. Bahan yang dibutuhkan antara lain :

Mie kering merk apa aja, atau pakai mie basah, mie sayur, mie homade juga sah-sah saja (asal bukan miempi, krik krik krik). Rebus mie yang akan digunakan dengan air mendidih. Setelah matang tiriskan. Jika memakai mie basah, cukup dicuci dengan air panas sebentar saja, jangan direbus ya, nanti menjadi terlalu lembek. Sisihkan.

Untuk topping ayamnya, siapkan ayam, mau ayam kampung atau potong, bebas. Seadanya di kang sayur aja yaa. Untuk bumbu topping ayamnya hanya butuh duo bawang, kemiri, merica, saos tiram, dan kecap manis saja.

Cara membuat topping ayamnya juga gampang banget. Pisahkan daging ayam dari kulit dan tulangnya, tetapi jangan dibuang ya karena akan kita gunakan sebagai bahan minyak bawang. Lalu iris kecil-kecil daging ayamnya. Kemudian haluskan seluruh bumbu.

Langkah selanjutnya tumis bumbu halus hingga harum, masukkan irisan ayam, saos tiram, dan kecap manis. Koreksi rasa dengan menambahkan garam dan gula. Jika sudah matang, angkat.

Untuk minyak bawang, membuatnya juga mudah sekali. Siapkan minyak sayur, bawang putih 5-8 butir yang dirajang kasar, dan tulang serta kulit ayam dan. Selanjutnya tumis rajangan bawang putih hingga setengah matang, lalu masukkan juga kulit dan tulang ayam. Tumis dengan api kecil hingga bawang berubah kecoklatan dan kulit ayam sudah kering. Minyak bawang ini fungsinya untuk menambah level kesedapan mie ayam loh. Jadi jangan sampai diskip ya.

Untuk side topping tentu saja harus ada si bakso ya. Bisa bakso homade atau bakso yang siap makan ya. Bisa tambahkan juga sayuran, misalnya sawi atau selada, irisan daun bawang, serta bawang goreng.

Saatnya plating mie ayam. Pertama-tama siapkan mangkuk lalu beri satu setengah sendok minyak bawang beserta bawangnya, campur dengan sedikit merica, garam dan penyedap rasa, aduk-aduk. Selanjutnya masukkan mie ke dalam mangkuk aduk kembali dengan bumbu tadi hingga tercampur rata.

Setelah itu tata isian mie ayam di atas mie, mulai dari bakso, tumisan ayam, sayur, irisan daun bawang, dan bawang goreng. Oh iya, saya termasuk tim mie ayam kering, alias tanpa kuah. Kalau ada penikmat mie ayam yang suka menambahkan kuah, bisa banget. Cukup rebus air, tambahkan penyedap rasa, sedikit garam, dan merica.

Taraaa, mie ayam ala saya sudah jadi. Gampang banget bukan? Dengan porsi mie dan topping yang bisa kita tentukan sendiri, dijamin lebih puas menyantapnya. Hyuk, silahkan yang mau mempraktekkannya. Bisa dijadikan menu berbuka puasa juga loh, biar tidak bosan. Hehehe. Selamat mencoba!

 

 

Sabtu, 14 Desember 2019

BERKREASI BERSAMA PIZZA MAKER JUNIOR


Hal yang dapat membuat orang tua menjadi bangga dan bahagia salah satunya adalah menlihat buah hati mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan kreatif. Itulah sebabnya di masa-masa golden age, orang tua dianjurkan untuk menstimulasi daya kreativitas anak-anaknya dengan mengajak mereka bermain sepuasnya. Dengan membebaskan mereka bermain sesuka hati diharapkan anak-anak dapat mengasah syaraf-syaraf sensorik, motorik, serta kreativitas mereka.

Kembali ke saat si sulungku berada di kelas TK A, kami para orang tua iseng-iseng merencanakan kegiatan untuk anak-anak kami. Salah satu ibu dari teman si sulung mengutarakan idenya untuk mengajak anak-anak bermain sambil belajar membuat pizza. Loh, memang ada kegiatan semacam itu ya?, pikirku yang belum paham. Ternyata ada, yaitu di restoran pizza paling laris di Indonesia yang gerainya sudah menjamur dimana-mana. Apalagi jika bukan restoran Pizza Hut.

Ya, Pizza Hut ternyata memiliki agenda kegiatan bernama Pizza Maker Junior yang diperuntukkan bagi anak-anak berusia 5-12 tahun yang ingin tau bagaimana cara membuat pizza sendiri sebelum pizza disajikan di atas meja. Tentu saja mereka takkan melakukannya sendiri, karena akan ada kakak-kakak yang mendampingi anak-anak selama berada di dapur restoran. Harga yang ditawarkan untuk mengikuti kegiatan Pizza Maker Junior ini cukup murah. Per anak akan ditarik biaya Rp 42.000,00.

Hari yag ditetapkan pun tiba. Kami, para ibu melakukan janji temu di lokasi yaitu di restoran Pizza Hut sore hari sekitar pukul 14.00. Suara riuh rendah anak-anak langsung disambut ramah oleh kakak-kakak pramusaji. Seperti pada umumnya anak-anak ketika bertemu dengan teman-temannya, mereka langsung berbaur, bermain, dan bersenda gurau. Tak butuh waktu lama bagi anak-anak untuk menunggu, karena selang beberapa saat mereka dipanggil dan disuruh berbaris rapi sebelum memasuki area dapur restoran.

Namun sayang, kami para ibu tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut. Hanya 1 orang ibu saja yang dapat mendampingi untuk mengabadikan momen anak-anak berkreasi. Sembari menunggu anak-anak berkegiatan, para ibu dapat bersantai sejenak di dalam restoran sambil ngobrol ngalor-ngidul, dan tentu saja berselfie ria. Cukup lama juga menunggu mereka selesai membuat pizzanya.  

Dari foto-foto yang dibagikan oleh salah satu ibu wali murid, kegiatan membuat pizza diawali dengan mecuci tangan, dilanjutkan dengan memasang sarung tangan plastik secara mandiri. Setalah tangan mereka higienis, mereka diberi dough pizza yang siap untuk diberi topping, tetapi  mula-mula mereka diajari terlebih dahulu oleh kakak juru masak. Mereka diperkenalkan aneka macam topping yang dapat diisikan ke atas pizza. Setelah itu barulah mereka mulai menata topping dan dilanjutkan dengan memberi aneka saos. Satu per satu anak-anak menyelesaikannya. Dan pizza pun siap dipanggang.


Kurang lebih 45 menit kemudian, anak-anak telah selesai melakukan kegiatan membuat pizza. Senyum bahagia dari keduabelas anak peserta kegiatan ini otomatis muncul di wajah mereka. Kembali mereka bersenda gurau sambil menunggu pizza hasil kreativitas mereka matang. Dan, akhirnya pizza hasil karya anak-anakpun telah matang. Dengan penuh kegembiraan, mereka menerima pizza hasil kreasinya. Sayang, pizza kreasi sulungku tak sempat kuabadikan, karena sudah dia nikmati di  perjalanan pulang.

Soal rasa, tetap sama seperti rasa Pizza Hut, yang membedakan hanyalah kerapian dalam menyusun topping pizza. Namanya juga anak-anak, menatanya masih asal. Namun bukan itu yang dinilai, tetapi lebih kepada keberanian mereka untuk mencoba dan belajar hal-hal baru. Belajar untuk berkreasi dalam memberikan topping, belajar untuk mandiri, dan belajar untuk mencintai kebersihan.

Dari kegiatan Pizza Maker Junior, anak-anak mendapatkan sertifikat yang menunjukkan bahwa mereka telah mengikuti acara ini, sekotak pizza ukuran personal, serta merchandise Pizza Hut. Acarapun berakhir, anak senang ibu pun bahagia. Melihat mereka bertumbuh menjadi anak-anak yang kreatif dan rasa ingin tau yang tinggi, rasanya tak sabar untuk melihat kesuksesan mereka di masa depan. Allahumma amin. 



Selasa, 10 Desember 2019

WISATA KULINER ANTAR KOTA DALAM PROPINSI

Apakah sih hal yang paling menyenangkan ketika kita berjalan-jalan keluar kota? Menjelajahi tempat-tempat wisata yang ada di kota yang kita singgahi? Berselfie ria di spot-spot foto yang disediakan oleh tempat wisatanya? Atau mencoba kuliner lokal kota tersebut?

Memang sih, ketika kita berkunjung ke suatu kota untuk berdarmawisata, kita pasti akan bersenang-senang di tempat wisatanya. Tak lupa juga berfoto ria untuk mengabadikan momen-momen indah bersama keluarga. Namun bagiku, yang paling menyenangkan, tak lain dan tak bukan adalah mencicipi makanan khas atau makanan yang paling populer di kota tersebut. Takkan lengkap rasanya kalau sudah ke suatu kota, namun tidak menyempatkan untuk menjajal masakannya.


Berikut akan aku tuliskan menu-menu makanan yang wajib dicoba jikalau berkunjung di kota-kota ini. Aku tak menanggung kalau tiba-tiba perut jadi terasa keroncongan karena membayangkan menu-menu makanan ini ya, hihihi. Mari aku bahas satu per satu, makanan apa sajakah itu.

Kota Tulungagung

Di tahun 2009, kantor menempatkanku di kota Tulungagung untuk mengerjakan proyek jembatan kereta api di daerah Ngujang. Jadi selama kurang lebih setahun, waktuku  lebih banyak kuhabiskan di Tulungagung. Lalu, apa kuliner khas di Tulungagung? Jawabannya adalah kacang shanghai dan ayam lodho. Ya, ayam lodho adalah primadona di kota ini. Dari penampilannya, ayam lodho mirip sekali dengan kare ayam. Namun dari segi rasa, ayam lodho dan kare ayam ada sedikit perbedaan. Jika kare ayam lebih terasa rempahnya, maka ayam lodho dominan dengan rasa pedasnya, dan ayam di masakan ini akan dibakar dahulu sebelum dimasukkan ke dalam kuah santannya. Jadi ada aroma-aroma gosong namun gurih jika dinikmati.

Bagi penikmat kuliner pedas, ayam lodho khas Tulungagung dijamin bikin huh hah huh hah. Bagaimana tidak kuahnya yang sudah terasa pedas, akan disajikan dengan side dish yaitu urap-urap yang rasanya, pedas pula. Masih kurang pedas? Jangan sedih, karena kita masih akan disuguhi dengan sambal bawang yang tidak kalah hot juga. Namun entah mengapa aku serasa tak ingin menyisakan sajian ini, meskipun harus rela sakit perut setelahnya, hahaha. Yang aku suka juga adalah, di salah satu warung langgananku kala itu, menu ayam lodho ini disajikan dengan nasi gurih yang semakin menambah nikmat. Bagaimana? Mau mencoba ayam lodho juga?

Kota Malang

Kota Malang merupakan salah satu kota yang sering aku datangi, karena aku blasteran Sidoarjo – Malang, ibuku yang asli Kota Apel. Hampir setiap tahun kami menyempatkan diri ke sana untuk bersilaturahim ke sanak saudara. Apakah makanan khas kota Malang? Bakso.

Tak salah kiranya kalau aku menjuluki Malang sebagai Kota Bakso. Karena hampir semua rasa bakso di kota ini nikmat rasanya. Jangankan bakso yang bermerk, bakso tiktoktiktok yang dijual gerobagan saja rasanya maknyus. Tak percaya? Silahkan berkunjung ke Malang, lalu random memilih dan menikmati bakso abang-abang. Dijamin enak.

Namun bakso favoritku masih saja bakso Presiden.  Ada juga bakso kota Pak Man  atau bakso di food court Mitra, semuanya enak dilidahku. Adakah bakso-bakso lainnya yang enak? Rekomendasikan ke aku, nanti jika aku ke Malang, tak segan aku untuk mencobanya.

Kota Surabaya

Bagiku, Surabaya adalah kota kedua setelah kota tempat tinggalku. Selama 12 tahun aku numpang tinggal di ibukota Jawa Timur ini untuk menyelesaikan studi S1-ku di salah satu PTN dan dilanjutkan untuk mengais rezeki. Jadi sedikit banyak aku hafal segala macam kuliner yang lezat di Surabaya.

Banyak makanan khas Surabaya yang menjadi favoritku. Ada tahu tek Pak Jayen Dharmahusada, pangsit mie KS (Kotamadya Surabaya), pecel samsat Kertajaya, tahu campur Kalasan, rujak cingur Genteng Durasim, bebek goreng Palupi, soto ayam cak Har, nasi campur Bu Rudi. Sepertinya bakal penuh daftar makanan yang menjadi favoritku di kota ini ya. Hehehe. 

Dari kesemuanya, jawaranya adalah rujak cingur Genteng Durasim. Enak sekali loh. Ahhh, aku jadi membayangkan rasa rujaknya. Bolehlah dicoba ketika teman-teman berkunjung ke kotanya Bu Risma. Adakah kuliner Surabaya yang wajib coba lainnya? Silahkan direkomendasikan padaku.

Pulau Madura

Nah, jika menyeberang ke Pulau Madura, yang kutuju sudah barang tentu, bebek goreng Sinjay. Kuliner ini memang sudah tersohor sejak lama. Kita akan melihat antrian yang mengular begitu sampai di tempat ini. Rasanya memang enak, bebeknya enak, sambal pencitnya (mangga muda) juga nendang.

Antriannya memang membuat malas sih. Saranku, pesanlah sekaligus agak banyak agar tidak mengantri kembali jika ternyata ingin menambah. Terakhir mengunjungi bebek sinjay di madura sudah beberapa tahun yang lalu. Namun tak usah berkecil hati, karena rupanya gerai bebek sinjay sudah merambah di beberapa kota di Jawa Timur. Jadi bagi yang penasaran, cukup mendatangi gerai bebek sinjay terdekat. Soal rasa dijamin sama, sama-sama nikmat.

Untuk sementara, cukup sekian info makanan di kota-kota yang pernah aku kunjungi. Kabari aku jikalau ada tempat-tempat kuliner yang wajib dicoba di kota teman-teman ya. Bila ada kesempatan, aku akan mengunjungi dan mencicipi makanannya. 

Kamis, 05 Desember 2019

YOGYAKARTA, SELALU DI HATIKU



Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat,
penuh selaksa makna


Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja

Bait di atas merupakan sepenggal lirik dari lagu berjudul “Yogyakarta” yang dipopulerkan oleh grup musik KLA Project di era ‘90an. Lagu lawas tersebut selalu mengena di hatiku, pun hingga saat ini. Selalu ada kerinduan yang mendalam bagiku untuk mengunjungi kota istimewa, Yogyakarta.

Sebenarnya, apakah yang membuat kota yang masih menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya Jawa ini istimewa? Apalagi jika bukan suasana kotanya. Ya, suasana Kota Bakpia yang hangat dan bersahabatlah  yang menjadi daya tariknya. Aku bisa melihat cerminan wajah Indonesia sesungguhnya yang terkenal santun dan murah senyum di kota Yogayakarta ini. Coba saja berjalan-jalan di seputar Malioboro, jalanan paling terkenal di kota ini. Kita akan bertemu dengan pedagang-pedagang yang menjajakan dagangan mereka dengan penuh keramahan. Atau cobalah menuju tempat-tempat wisata budaya dan sejarah macam Keraton Yogyakarta. Di sana kita akan disambut oleh para abdi dalem serta tour guide yang sangat santun, ramah dengan tutur bahasa yang njawani.  

Hampir di setiap tahunnya aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke kota yang terkenal dengan gudegnya. Tak harus melulu ke Malioboro, ke keraton, atau ke candi-candi saja jika sedang bertandang ke Yogyakarta. Banyak sekali tempat wisata lainnya yang mengasyikkan untuk dikunjungi beramai-ramai. Entah itu wisata sejarah dan budaya, wisata alam, wisata belanja, atau wisata kuliner.

Bahkan saat ini banyak wisata-wisata alam baru yang giat dipromosikan oleh kota Yogyakarta. Salah satunya adalah Taman Wisata Seribu Batu Songgo Langit yang berada di wilayah Bantul. Kita akan disambut dengan jajaran pohon pinus yang menguarkan aroma khas buah pinus sesaat tatkala memasuki wisata alam yang satu ini. Sejenak otakku seakan dipenuhi dengan asupan oksigen yang cukup untuk menyegarkan tubuh. Di sini kita dapat menikmati aktivitas outdoor berupa wahana flying fox. Bagi para pecinta selfie, akan sangat dimanjakan karena banyak spot-spot foto kece yang instagramable. Aku bersama para sahabatku tak mau ketinggalan untuk berwefie ria di wisata alam Songgo Langit.

Salah satu spot foto di wisata Taman Seribu Batu Songgo Langit.

Rumah Hobbit di wisata Taman Seribu Batu Songgo Langit

Tak jauh dari Taman Wisata Seribu Batu Songgo Langit, terdapat pula tempat wisata yang masih bertemakan hutan pinus, yaitu Hutan Pinus Mangunan. Jajaran pohon pinus kembali menyapa kedatangan aku bersama suami dan para sahabatku. Jalan menuju  hutan pinus sedikit menanjak, cukup untuk membakar lemak-lemak di badanku. Sekali lagi, tempat ini instagramable sekali. Sangat menyenangkan untuk dijadikan tempat mengabadikan momen-momen kebersamaan bersama sahabat.

Jajaran pohon pinus di
Taman Pinus Mangunan

Akrab bersama sahabat

Berdua lebih indah

Mengabadikan momen-momen kebersamaan
di spot-spot selfie/wefie yang menarik di Taman Pinus Mangunan

Pengalaman seru berwisata di Yogyakarta juga aku rasakan ketika mengunjungi Gumuk Pasir Parangkusumo yang masih berlokasi di sekitar Bantul. Di tempat ini aku merasa sedang berada di padang pasir, karena sejauh mata memandang kita hanya disuguhi pemandangan gundukan pasir. Nah, ada yang menarik di wisata Gumuk Pasir, kita bisa menjajal kemampuan untuk bersandboarding. Iya, berseluncur namun di atas pasir. Saking serunya hingga membikin suamiku ketagihan untuk terus mencobanya. Jatuh, bangun lagi, begitu seterusnya hingga berhasil.

Gumuk Pasir Parangkusumo
Serasa di padang pasir 
(Gumuk Pasir Parangkusumo)

Melompat lebih tinggi di
Gumuk Pasir Parangkusumo


Menjajal kemampuan sandboarding di Gumuk Pasir

Namun segala keseruan liburanku ke Yogyakarta akan kurang maksimal jika tidak dilakukan bersama keluarga tercinta atau dengan sahabat karib. Dan jika berlibur ke Yogya hanya sehari saja juga dirasa takkan cukup, karena banyak sekali tempat-tempat wisata  menarik yang ditawarkan kota ini. Tentu saja kita membutuhkan hotel atau penginapan yang bersih, nyaman, lega dan pastinya murah.

Tidak perlu bingung, tidak perlu ribet. Di era digital yang serba online, sekarang tak perlu repot-repot lagi untuk mencari hotel atau penginapan. Kini telah hadir jaringan hotel terbesar yang menyediakan 1000+ hotel di Indonesia, apalagi jika bukan  OYO Hotels Indonesia. Cukup klik saja website OYO di https://www.oyorooms.com/id/ atau bisa juga download aplikasinya di playstore atau appstore. Di sana kita bisa mencari berbagai macam tipe hotel atau penginapan yang sesuai dengan budget, fasilitas, atau lokasi yang diinginkan. Jaringan layanan hotel OYO sudah tersebar di 100 kota di Indonesia. Jika ingin berlibur ke Yogyakarta, tinggal pilih saja menu pilihan kota di website OYO atau klik https://www.oyorooms.com/id/hotels-in-yogyakarta/. Maka akan terpampang puluhan hotel atau penginapan, lengkap dengan harga dan detail-detail lainnya. Di situs OYO juga terdapat artikel panduan pilihan destinasi wisata di Yogyakarta loh, bisa klik di di sini  atau di sini . Sangat memudahkan bukan?


Tampilan website OYOrooms.com


Gunakan fitur filter untuk mengatur pencarian hotel yang diinginkan

Menariknya lagi, kita akan mendapatkan diskon yang cukup besar jika mencari hotel atau penginapan di OYO Hotels Indonesia. Jangan khawatir, harga penginapan yang ditawarkan OYO juga sangat ramah di kantong. Hotel nyaman, harga bersahabat, hati puas. Akan lebih girang lagi apabila aku berhasil mendapatkan voucher diskon 70% dari OYO Hotels Indonesia. Otomatis aku akan langsung menginap di salah satu hotel jaringan OYO Hotels Indonesia di Yogyakarta. Tak lupa aku akan mengajak serta suami dan anak-anak untuk berlibur selama beberapa hari di Kota Pelajar ini. Kita akan mengeksplorasi kota Yogyakarta dan sekitarnya bersama-sama. Sudah dapat kubayangkan  ekspresi bahagia anak-anakku ketika berlibur dan menghabiskan waktu bersama abi serta bundanya.

Seperti tagline yang diusung oleh OYO Hotels Indonesia “Dekat Di Mata, Dekat Di Hati, Dekat Di Jari”, bagiku kota Yogyakarta meskipun jauh di mata, namun selalu dekat di hati dan dekat di memori. Seberapapun seringnya aku ke Yogyakarta, aku takkan pernah bosan untuk menuju ke sana lagi.

Nah, bagi teman-teman yang ingin berlibur ke kota-kota di Indonesia jangan sedih jangan gusar ketika ingin mencari hotel yang nyaman namun tetap terjangkau harganya. Percayakan saja kepada OYO Hotels Indonesia. Jangan lupa untuk memfollow akun sosial media OYO Hotels Indonesia di instagram @oyo.indonesia, serta twitter @oyoindonesia, untuk mendapatkan info-info menarik serta promo-promo heboh lainnya. Liburan tetap seru, istirahat tak perlu ragu. Selamat berlibur bersama OYO Hotels Indonesia!

#pastiadaoyo 
#oyoindonesia
#oyoblogcompetion
#oyohotelsindonesia


Bukti screenshoot telah memfollow
akun OYO Hotels Indonesia di twitter
Bukti screenshoot telah memfollow
akun OYO Hotels Indonesia di instagram







Kamis, 28 November 2019

BERAS KENCUR VS KUNYIT ASAM



Masih mau membahas tentang minuman. Setelah kemarin aku menulis tentang teh, kali ini aku akan menulis tentang minuman tradisional segar yang tentunya berkhasiat juga untuk kesehatan dan kebugaran tubuh kita. Minuman yang sudah ada secara turun temurun dari buyut-buyut kita, apalagi kalau bukan minuman tradisional khas Indonesia, jamu.

Bagi orang-orang yang awam dengan jamu, pasti yang terlintas dipikirannya adalah rasa pahit (sepahit kenangan dengan mantan). Tak dapat disalahkan memang, ada beberapa jenis jamu yang rasanya tidak bersahabat untuk lidah. Misalnya adalah jamu pahitan, dari judulnya saja sudah menggambarkan rasanya. Jamu pahitan biasanya berbahan dasar brotowali, sambiloto, widoro laut, dara putih, dan babakan pule (sumber : hipwee.com). meskipun pahit, dia berkhasiat untuk menyembuhkan beberapa macam penyakit semisal gatal-gatal, diabetes, atau diare.

Minuman jamu berbahan dasar herbal alami, bisa berasal dari akar rimpang, daun, bunga, bahkan batang dari suatu tanaman. Tetapi tidak semua jenis tanaman bisa dijadikan jamu ya. Bahan-bahan jamu yang terkenal antara lain kencur,  kunyit, jahe, mengkudu, secang, bunga pala, kayu manis, dan cengkeh. Dengan takaran yang pas, mereka akan berpadu menghasilkan rasa yang segar, nikmat, dan pastinya berkhasiat.

Ada dua jenis minuman jamu yang menjadi kegemaran keluargaku, yaitu jamu beras kencur dan jamu kunyit asam. Bahkan beberapa tahun yang lalu, aku sempat berjualan dua jamu ini loh. Dan laris manis (Alhamdulillah). Bukan hanya orang dewasa yang menyukainya, bahkan anak-anakpun ikut menggemarinya. Pahitkah? Tentu tidak, dua jamu yang aku produksi ini rasanya manis. Mari kuulas satu per satu tentang 2 jamu ini.

Jamu Beras Kencur




Dari namanya saja kita sudah tahu bahwa bahan dasar utamanya adalah beras dan kencur. Iya, beras yang kalau dimasak jadi nasi. Selain jadi makanan pokok sehari-hari, nyatanya beras juga dapat dijadikan jamu. Jamu beras kencur dipercaya berkhasiat untuk menambah nafsu makan, meredakan flu, dan mengobati sariawan.

Untuk membuat jamu beras kencurpun tidak terlalu sudah. Siapkan bahan-bahannya, antara lain beras, kencur, jahe, bawang putih, dan air. Kupas semua jenis rimpang dan bawang putih, lalu cuci bersih semuanya. Rebuslah air secukupnya, kira-kira 1-2 liter air. Sambil menunggu mendidih, sangrai beras yang telah dicuci sejenak saja. Lalu haliskan semua bahan (kecuali bawang putih) dengan menggunakan blender. Setelah air mendidih, masukkan bahan jamu yang telah diblender. Ada baiknya jika hasil blenderan disaring terlebih dahulu agar jamu yang dihasilkan jernih dan minim ampas. Tak lupa untuk memasukkan gula, dapat menggunakan gula pasir ataupun gula jawa.

Sebelum diangkat, iris-iris bawang putih dan masukkan ke dalam rebusan jamu. Koreksi rasanya. Tunggu hingga bawang putih layu dan  jamu mendidih kembali, lalu angkat. Angin-anginkan hingga dingin. Dan jamupun siap dinikmati.

Jamu Kunyit Asam




Jamu kunyit asam atau kunir asem merupakan salah satu jamu yang paling banyak diminati oleh ibu-ibu. Alasannya karena jamu ini dipercaya dapat mengurangi nyeri tatkala datang bulan tiba. Rasanya yang manis dengan sedikit rasa kecut membuat minuman segar ini enak jika dinikmati dingin-dingin. Apalagi kala hari terik, segelas kunyit asem dingin mampu menyegakan tenggorokan kita loh.

Cara membuatnya tidak telalu sulit, siapkan saja rimpang kunyit, asam jawa, dan kayu manis untuk menambah cita rasa si jamu. Blender kunyit hingga halus, dan tak lupa untuk mendidihkan air sebanyak 1-2 liter terlebih dahulu. Saring kunyit yang telah diblender, masukkan air hasil saringan ke dalam air yg telah mendidih. Seduh asam dengan air panas lalu masukkan air seduhan asam jawa. Kemudian jangan lupa untuk menambahkan kayu manis.

Terakhir masukkan gula pasir atau gula jawa, opsional, sejumput garam untuk menambah rasa gurih. Biarkan mendidih dan angkat. Hmm, sudah dapat kubayangkan aromanya yang wangi. Selain membantu memperlancar haid, jamu kunyit asam juga bermanfaat untuk mengatasi bau badan, meningkatkan daya tahan tubuh karena kandungan antioksidan pada kunyit, serta menurunkan berat badan.

Bagaimana, apakah sudah tertarik untuk membuatnya? Dijamin rasanya haucek sincinping alias enak. Dengan membuat jamu setidaknya kita ikut melestarikan minuman tradisional warisan nenek moyang kita. Selamat mencoba.

Rabu, 27 November 2019

MARI NGETEH


Alhamdulillah, hujan deras akhirnya mengguyur kotaku, Mojokerto. Udara panas yang terasa menyengat di kala siang, sedikt tersejukkan dengan kehadiran sang hujan. Aku yakin banyak sekali jiwa-jiwa yang bersyukur karena turunnya air penuh berkah dari langit ini.

Nah, hujan-hujan seperti ini enaknya ngapain? Leyeh-leyeh di atas kasur? Makan gorengan? Baca buku? Atau merenung sambil menatap rintik-rintik hujan yang menetes? Kalau aku bilang sih, apapun yang kamu lakukan di kala hari hujan seperti ini, cocoknya jika ditemani dengan secangkir minuman hangat. Dan kamu masuk tim mana, tim teh, kopi, atau coklat? Kalau aku termasuk tim teh. Teh dan hujan, perpaduan yang sempurna bagiku.

Iya, aku suka sekali dengan teh, mau teh hangat, es teh manis, lemon tea, atau teh apalah aku suka. Aku menyukainya semenjak kecil. Aku mengenal kenikmatan teh karena ibuku. Cara ampuh yang dipakai ibuku untuk membangunkanku di pagi hari adalah dengan menyodorkan segelas teh hangat. Teh yang dihasilkan dari adukan tangan seorang ibu dapat dipastikan sebagai teh ternikmat di dunia. Sungguh, karena ibu akan mencurahkan kasih sayangnya dalam setiap pembuatannya.

Berbicara mengenai teh, rupa-rupanya banyak sekali macam teh yang ada di dunia. Dan mumpung lagi hujan, aku akan membagikan macam-macam teh yang dijamin enak dan sehat untuk tubuh kita. Teh apa sajakah itu, langsung saja aku bahas satu per satu.

Teh Hijau

Setiap melihat bungkus teh bertuliskan teh hijau terpajang di rak-rak pasar swalayan, aku pasti mengasumsikan teh ini diperuntukkan bagi orang (wanita khususnya) yang ingin tubuhnya menjadi langsing. Teh hijau yang lebih dikenal sebagai green tea, atau ocha bagi orang Jepang, ternyata memiliki beberapa manfaat yang baik untuk tubuh. Teh hijau diyakini memiliki antioksidan yang tinggi.

Beberapa manfaatnya yaitu untuk meredakan stress, menyehatkan jantung, mencegah penuaan dini, serta menurunkan risiko kanker dan diabet. Ternyata selain baik untuk tubuh, teh hijau juga bagus untuk kulit. Tak heran jika beberapa produk perawatan wajah menggunakan teh hijau sebagai bahan dasarnya.

Aku masih teringat kebiasaan teman kuliah dahulu yang wajahnya berjerawat, dia berikhtiar dengan menggunakan teh hijau untuk mengobatinya. Teh hijau rupanya kaya akan zat antiinflamasi, antibakteri, dan antiseptik. Caranya cukup mudah, yaitu dengan menyeduh teh hijau celup dengan air panas, biarkan dingin. Setelah dingin, tuangkan seduhan teh ke dalam baki es yang biasa ada di dalam freezer lemari es. Dinginkan di freezer, setelah menjadi es batu, ambil beberapa balok kecil-kecil es teh hijau lalu kompres dan gosok secara perlahan di area yang berjerawat. Lakukan secara teratur, jerawat in syaa allah akan berkurang.

Kombucha (Teh Jamur)

Satu lagi teh yang manfaatnya bagus untuk kesehatan tubuh manusia, kombucha. Mungkin kombucha masih terasa asing di telinga kita. Kombucha atau teh jamur merupakan minuman dihasilkan dari fermentasi larutan teh (jenis apa saja) dan gula dengan menggunakan starter mikroba kombucha. Kombucha berasal dari Asia Timur, dan kini sudah dikenal di seluruh penjuru dunia.
Beberapa manfaat bagi kita yang rutin mengonsumsi kombucha adalah dapat mengobati sembelit, menawarkan racun, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah kanker. Kita juga bisa loh membuat teh kombucha. Namun untuk membuatnya sendiri kita perlu mendapatkan starter kombuchanya terlebih dahulu.

Streter kombuca inilah yang disebut sebagai si jamur, meski sesungguhnya dia adalah kumpulan dari bakteri yang menguntungkan dan ragi yang hidup berkoloni dan membentuk kultur atau disebut sebagai SCOBY (symbiotic culture of bacteria and yeast). Mendapatkannya pun mudah, sudah banyak onlineshop yang menjualnya. Harganya memang sedikit agak mahal, tergantung ukuran sterter kombucanya. Namun dia dapat digunakan seumur hidup jika kita bisa merawatnya dengan baik.

Cara membuat teh kombucha adalah pertama-tama siapkan teh jenis apa saja secukupnya (bisa teh celup atau teh kering), 2 liter air dan setengah kilogram gula. Rebus air hingga mendidih, masukkan teh dan gula, setelah aroma teh telah menguar dan gula larut sempurna, angkat. Diamkan hingga teh telah benar-benar dingin. Siapkan jamur kombucha dalam sebuah wadah kaca. Pilih wadah kaca ya, bisa toples atau apa saja yang terbuat dari kaca, karena kombucha rasanya asam, jika memilih wadah selain kaca akan mudah terjadi oksidasi sehingga wadah mudah berkarat. Tuangkan teh yang telah dingin ke dalam wadah kaca yang telah berisi jamur kombucha. Lalu tutup wadah kaca dengan kain berpori besar. Tunggulah 10-15 hari baru dapat memanen dan menikmati teh kombucha.

Jangan kaget dengan rasa sedikit asam yang dihasilkan oleh teh kombucha, karena teh manis yang kita tuangkan ke dalam toples tadi telah berfermentasi dengan si jamur. Penasaran dengan rasanya? Silahkan dipraktekkan caranya.

Teh Tubruk

Dan teh manis tubruk inilah favoritku. Teh paling sederhana cara pembuatannya. Hanya perlu menuangkan air panas ke dalam gelas yang telah diisi dengan rajangan daun teh kering dan gula pasir. Iya, daun tehnya tidah perlu di saring. Begitu siap bisa langsung di sruput. Pastikan tehnya sudah hangat ya.

Aku suka sekali dengan aroma teh yang menguar dari segelas teh tubruk, seolah-olah aromanya dapat meredakan ketegangan syaraf-syaraf otak, juga dapat merilekskan badan yang tengah capek setelah aktivitas seharian. Ketika anak-anak sedang tidak enak badan atau meriang karena gejala flu, biasanya kubuatkan teh tubruk, setidaknya si teh tubruk bisa menghangatkan tubuh mereka dari dalam.

Sebenarnya masih banyak jenis teh yang lain, mungkin akan kutuliskan lain waktu. Lalu apa teh favorit kawan-kawan? Apapun tehnya, terasa nikmat jika dinikmati bersama orang terkasih. Mari ngeteh.


Sumber untuk penunjang tulisan :
Wikipedia
http://indokombucha.com/apa-itu-kombucha/

Selasa, 26 November 2019

NIKMATNYA SAJIAN SATE KHAS SENAYAN (REVIEW RESTORAN)


Tantangan pekan kedua kelas non-fiksi ODOP 7 telah diposting, dan tantangannya adalah membuat review produk atau jasa sesuai dengan niche blog yang telah ditentukan. Hmm, aku langsung teringat dengan acara makan siang bersama keluarga besar omku beberapa waktu lalu ketika aku berkunjung ke Jakarta. Mengapa? Karena rasa masakannya sangat maknyus kalau kata almarhum Pak Bondan Winarono.

Saking maknyusnya, kelezatan rasanya masih terngiang di memoriku. Yakinlah kawan, kalau aku bilang makanannya enak, pasti enak kok, lidahku cukup terpercaya jika berurusan dengan kuliner. Hihihi. Jadilah aku ingin mengulas tentang menu makanan yang disajikan sekaligus cerita dibalik berdirinya restoran tersebut. Dan restoran yang akan aku ulas adalah restoran SATE KHAS SENAYAN.

Cerita Di Balik Restoran Sate Khas Senayan


Resto yang sudah berdiri sejak tahun 1974 ini awalnya bernama Satay House Senayan. Baru kemudian di tahun 1982, resto berubah nama menjadi Sate Khas Senayan. Sang pemilik resto adalah Bapak Budi Purnomo Hadisurjo yang tak lain adalah bos Melawai Group yang terkenal dengan usaha jual beli kacamata.

Rupanya keluarga besar Pak Hadisurjo adalah pecinta kuliner. Perpaduan antara  bisnis dan  kuliner di tangan yang tepat, membuat keberadaan restoran ini semakin menggurita. Oleh sang pemilik, warung pertama didirikan di Jalan Pakubuwono, Jakarta Selatan. Dan seiring dengan berjalannya waktu, di usianya yang ke-45 tahun, tercatat sudah ada 54 gerai yang dimiliki restoran Sate Khas Senayan. Jumlah yang terbilang banyak ya kawan.

Suasana Restoran

Seperti yang telah aku tulis di atas, gerai Sate Khas Senayan tersebar di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kebetulan aku mendapatkan kesempatan untuk berkunjung di restonya yang berada di kawasan Cinere, Depok, karena dekat dengan lokasi rumah om.

Sewaktu dikabari untuk janji temu di resto ini, aku berpikir bahwa om mengajak aku dan suami makan di warung sate pada umumnya (tau kan maksudku? Warungnya dipenuhi asap karena pak penjualnya lagi bakar-bakar sate, begitu). Namun, ketika sampai di tujuan, tempat makan di hadapanku itu jauh dari penggambaran warung sate pada umumnya (di otakku lebih tepatnya, wakwakwak, noraknya diriku).

Begitu berada di parkiran, kita bisa melihat papan nama Sate Khas Senayan dengan kata “Senayan” ditulis lebih besar dan berwarna lebih eye catching dibandingkan tulisan lainnya. Bangunannya bergaya modern minimlais dengan dinding bangunan resto didominasi oleh kaca-kaca berukuran besar, sehingga kita bisa melihat pelanggan yang sedang bersantap di dalamnya. Hal ini menurutku bisa juga dipakai sebagai daya tarik pengunjung, jika kebetulan ada orang yang lewat dan melihat restonya ramai, anggapannya resto tersebut laris karena makanannya enak (benar tidak sih asumsiku?).

Namun menurutku (lagi), kaca-kaca besar yang digunakan sebagai dinding restoran adalah untuk memberikan pandangan yang luas bagi pengunjung, agar tidak melulu memandang ke dalam interior restorannya saja (iyain aja ya). Begitu masuk ke dalam restoran, nuansa Jawa terasa sekali. Terbukti dengan adanya pramusaji, berseragam coklat tua dipadu lilitan kain batik motif parang sebagai bawahannya, yang menyambut hangat di depan pintu. Keluarga besar om juga ikut menyambut kedatangan kita sesampainya kita di dalam ruangan.

Ambience ruangannya terasa nyaman, dengan hiasan lampu-lampu gantung bercahaya kuning , serta ada juga hiasan tokoh-tokoh pewayangan yang menggantung di salah satu dinding resto. Interior ruangan dicat putih gading dengan furniture yang didominasi bahan kayu jati atau sejenisnya. Om memilih duduk di bangku kayu panjang sebagai tempat duduk perjamuan. Sekali lagi tidak ada asap sate yang menyelubungi ruangan ya kawan-kawan.

sumber gambar : ig @satekhassenayan

sumber gambar : ig @satekhassenayan

Menikmati Sajian Makanan Sate Khas Senayan

Saat yang dinantikanpun tiba yaitu mencicipi hidangan makanan Sate Khas Senayan. Di atas meja sudah terhidang beberapa jenis masakan. Rupanya aku dan suami sudah dipesankan makanan sebelum kita datang. Ada sate ayam, sate gule kambing, ayam goreng, cah kangkung, sayur asem, gurame pesmol, nasi putih, dan tahu tek (tahu telur). Ternyata masih banyak pilihan kuliner khas Indonesia yang terdapat di dalam buku menunya. Jika aku tidak salah, sepertinya restoran ini ingin mengenalkan dan mengangkat kuliner Nusantara ke level yang lebih tinggi.

Tidak ada yang gagal menyangkut soal rasa masakan di resto ini, semuanya enak, lezat, dan nikmat. Cara penyajiannyapun terlihat sangat cantik dan berkelas. Namun pasti ada yang menjadi bintang diantara sajian-sajian tersebut, dan sate ayamlah yang menjadi jawara di hatiku lidahku. Belum pernah aku merasakan sate ayam seenak ini.  Ketika digigit, ayamnya terasa lembut sekali, gurihnya pas, bumbu satenya juga lembut, kental, dan ahhh sedapnya. Tak salah jika restorannya diberi nama Sate Khas Senayan, karena rasa satenya sungguh menggoyang lidah.


sumber gambar : ig @satekhassenayan

Ada satu menu lagi yang membuatku tidak ingin berhenti mengunyah andai perut ini masih muat, yaitu hidangan tahu telur atau di tempatku terkenal dengan sebutan tahu tek. Eits, tapi ini rasanya jauh berbeda dengan tahu tek ala abang-abang yang biasanya ngider depan rumahku ya. Hihihi. Di atas tahu tek ala Sate Khas Senayan terdapat topping semacam gimbal udang, yaitu udang yang diberi tepung. Rasanya, maa syaa allah lezat.

Namun ada yang membuatku sedih tatkala kulihat buku menu, karena harga setiap porsi makanannya cukup menguras isi dompet. Memang benarlah kata pepatah, ada harga ada rupa. Restoran ini benar-benar mengedepankan kualitas serta rasa di setiap hidangan yang tersaji untuk pelanggannya. Tak heran jika beberapa waktu lalu Bapak Presiden Jokowi juga melakukan santap siang bersama Bapak Prabowo di sini.
sumber gambar : ig @satekhassenayan

Jadi kalau ditanya apakah masih ingin mencicipi hidangan lainnya di restoran Sate Khas Senayan, akan kujawab, tentu saja mau asalkan ada yang dengan sukarela mentraktirku (wakwakwak). Demikian ulasanku tentang restoran Sate Khas Senayan sebagai jawaban untuk tantangan pekan kedua kelas non-fiksi ODOP 7. Semoga bermanfaat.

Rating Restoran Sate Khas Senayan Di Cinere, Depok

Rasa             : 5/5
Harga           : 2/5 (duh, gabisa gitu diturunin harganya, wakwakwak, maklum aku aliran porsi banyak, rasa enak, harga bersahabat garis keras)
Suasana        : 4/5

Sumber penunjang tulisan:
Klik di sini
Intagram Sate Khas Senayan

#tantangan_pekan2_kelas_nonfiksi_odop7
#reviewrestoran
#odop_batch&
#onedayonepost

Sabtu, 23 November 2019

FAMILY ROAD TRIP (MAMPIR SEJENAK KE JOGJAKARTA)

Akhirnya tiba saatnya kami mengucapkan sayonara kepada kota Jakarta. Serangkaian acara pernikahan anak bungsu omku usai sudah.  Sebelum pulang, kami sudah berpamitan kepada keluarga besar om di acara resepsi pernikahan. Tak lupa kami mengucapkan terimakasi atas sambutan hangat serta undangan untuk menghadiri setiap prosesi menjelang pernikahan hingga acara resepsinya.

Semua barang bawaan sudah kami packing  sejak pagi hari sebelum kami bertolak pulang. Kami memutuskan untuk melakukan perjalanan pulang malam hari, karena ingin menghindari kemacetan yang terjadi di gerbang tol Cikampek. Itupun karena saran dari kakak kami yang mengatakan kalau gerbang tol Cikampek di sore hari pasti padat merayap, maklumlah jam pulang kantor.

Kami menurut saja.setelah melaksanakan salat magrib, kamipun berpamitan kepada kakak yang selama ini telah menjadi tuan rumah yang baik kepada adik-adik dan keponakan-keponakannya. Dan benarlah kata kakak, beberapa kilometer sebelum memasuki gerbang tol Cikampek, volume kendaraan semakin banyak, macetpun tak dapat dihindari. Ya, kita nikmati saja, entah kapan lagi kami dapat merasakan macetnya  tol Cikampek. Hehehe.

Seperti halnya  saat berangkat ke Jakarta, sepanjang perjalanan pulang kali ini pak suami masih kuat untuk memegang kendali mobil.sedangkan aku full menjaga dan memperhatikan kenyamanan anak-anak. Hari telah menjelang subuh tatkala kami memasuki kota Magelang. Mobil berbelok sejenak ke pelataran masjid. Sembari menunggu azan Subuh, suami memejamkan mata sejenak untuk melepas lelah. Lumayanlah tidur-tidur ayam 30 menit.

Setelah menuntaskan salat subuh, perjalanan kami lanjutkan.  Ah, sampai hampir lupa aku. Kami tidak berencana langsung pulang menuju Mojokerto, tetapi singgah sejenak di kota yang selalu  berhasil membuatku rindu, Jogjakarta. Kami menginap di Jogja semalam. Jarak Magelang-Jogja tidak terlalu jauh, kira-kira membutuhkan waktu 1 - 1,5 jam. Namun karena pak suami mengemudi dengan santai (sambil mampir foto-foto di depan kampus Akmil dan SMA Taruna, hihihi), 2 jam kemudian  baru sampai d Jogja.


Pukul 8 pagi ketika kami berada di kota gudeg, dan perut sudah meraung-raung minta diisi. Namun kami tidak mencari sarapan gudeg, kami ingin mencoba sarapan menu lain. Dan pilihannya jatuh kepada soto seger Hj. Fatimah (kalau tidak salah ya) yang terletak di daerah Deresan, Jogjakarta. Tersedia dua macam soto di sini, soto ayam dan soto daging, ada juga menu pecel bagi yang kurang menyukai soto.

Soto seger bu Hj. Farida

Soto seger bu Hj. Farida disajikan dalam sebuah mangkuk yang berukuran tidak terlalu besar, kuahnya bening dengan cita rasa gurih dengan sedikit rasa manis. Dan yang menggiurkan adalah, kondimennya itu loh, banyak sekali pilihannya. Beraneka macam sate bumbu manis, dari sate daging, sate ayam, aneka jerohan, ada juga perkedel , gorengan, dan kerupuk. Duh, inginnya sih incip semuanya, tapi tahan, tahan, ingat kolesterol. Hahaha. Semuanya nikmat.

Setelah perut kenyang dan hati riang, kami mulai jalan kembali berkeliling menyusuri kota Jogja sambil menunggu waktu check-in hotel.  Kami memilih menginap di Hotel Airlangga yang berlokasi di jalan Prawirotaman. Banyak bule-bule yang menginap di hotel daerah ini, yang membuat auranya mirip dengan jalan Legian di Bali (kata temenku sih, soalnya aku sudah lama sekali tidak ke Bali). Pilihan hotelnya banyak, dan cukup bersahabat di kantong.

Karena masih capek, siang hari itu kami habiskan dengan merecharge energi saja. Malam harinya kami kembali berburu makanan. Dan menu makan malam kami kala itu adalah mencicipi kuliner bakmi Mbah Gito yang super duper laris manis. Iya, sesampainya di sana, meja-meja sudah nyaris terisi penuh. Syukurlah kami masih kebagian tempat duduk. Kami memilih bakmi goreng, bakmi nyemek, dan nasi goreng untuk diincipi.

Waktu tunggu kedatangan kuliner si  bakmi terbilang cukup lama, mungkin karena jumlah pengunjung yang ramai  jadi harus ekstra sabar untuk menunggunya (tapi masih lebih lama untuk mengantre bakmi Kadin kok). Setelah cukup lama menunggu akhirnya pesanan kami datang juga. Tanpa babibu, segera kami santap hidangan tersebut. Rasanya, enaaakkk. Gurih dan mantul deh kalau anak jaman now bilang.
Bakmi Mbah Gito
Namun, menurutku harganya sedikit pricey sih, untuk sepiring bakmi kita harus membayar 30 ribu rupiah (soalnya dibandingin sama mie goreng abang-abang di komplek perumahan yang cuma 11 ribu sih, wkwkwkwk). Eits, tidak mengapa karena harga tersebut membuat kami bahagia dan kenyang pastinya. Kami lantas berkendara kembali sambil berkeliling untuk melihat suasana kota Jogjakarta. Waktu sudah larut ketika kami memutuskan untuk kembali ke hotel.

Waktu sehari semalam memang tak cukup untu kami melepas rindu dengan kota dengan sebutan kota pelajar ini. Namun apa daya, rutinitas sudah menunggu kami di rumah. Keesokan harinya kami sudah harus melanjutkan perjalanan pulang. Lagi-lagi kami berwisata kuliner. Karena diiming-iming suami sate klathak, aku jadi ingin mencicipinya juga dong. Ada beberapa pilihan sate klathak di kota ini. Sebenarnya penasaran dengan sate klathak Pak Pong yang fenomenal itu, tapi bayangan harus mengantri berjam-jam menyurutkan niat itu. Akhirnya kami mencoba sate klathak Pak Jede khas Jejeran yang berada di jalan Nologaten.

Tak perlu berlama-lama untuk menunggu pesanan kami. Seporsi sate klathak, tengkleng, nasi goreng kambing , dan nasi putih terhidang di meja. Rasa sate klathak Pak Jede jika dinikmati tanpa kuah, sangat sederhana sekali, sepertinya hanya dibumbui garam saja. Rasanya dibuat sederhana karena memang makannya mesti dicocol di kuah yang mirip kuah gule (atau memang kuah gule?hahaha), jadi agar tidak terjadi tabrakan rasa kalau satenya diberi bumbu kompleks (ini analisaku saja sih). Cukup unik menurutku.

Sate klathak ala Pak Jede
Dan, kamipun benar-benar meninggalkan kota Jogja setelah menandaskan kuliner sate klathak Pak Jede. Anak-anak cukup menikmati perjalanan di kota ini. Ada rasa tidak rela untuk berpisah, diri ini ingin tinggal barang dua atau tiga hari lagi. Kata pak suami, “In syaa allah kapan-kapan kembali ke Jogja, sambil menjelajah lebih banyak tempat lagi”. Yayaya, semoga kami dapat  kembali berkunjung ke kota yang penuh kenangan bagiku dan pak suami ini, entah kapan. Namun aku yakin kami pasti kembali. Sayonara Jogja, sampai berjumpa pula.