Tampilkan postingan dengan label FIKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIKSI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2019

ANAK GEMBALA YANG TERTIDUR PANJANG DI AKHIR ZAMAN (RCO 6 TINGKAT 2)



Judul novelnya memang terlihat cukup panjang, “Anak Gembala Yang Tertidur Panjang Di Akhir Zaman”. Novel yang menjadi pemenang kedua Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta di tahun 2018 ini serta merta menarik perhatianku tatkala sedang sibuk mencari novel yang cocok untuk dibaca dan diulas untuk RCO batch 6 komunitas ODOP. Apa yang membuat novel ini menjadi pemenang kedua sayembara tersebut? Tema apa yang diusung oleh sang penulis? Magnet apa yang membuatku ingin membelinya? Pertanyaan-pertanyaan itu otomatis muncul di benakku.

Di bagian blurb, dituliskan bahwa novel “Anak Gembala Yang Tertidur Panjang Di Akhir Zaman” menuturkan kisah Rara Wilis dan Suko Djatmoko. Rupanya novel ini diangkat dari sebuah kisah nyata. Menariknya lagi, novel ini mengangkat tema seks, agama, keimanan, pelacuran, dan epos Mahabarata. Hmmm, apa yang membuat semua tema itu berkelindan dalam satu buku novel ini?

Novel ini dibuka dengan munculnya sesosok tokoh bernama Mbok Wilis. Dia digambarkan sebagai seorang yang feminin, berbadan tambun, berambut panjang, dan gemar bersolek. Kegemarannya berdandan dilukiskan melalui meja rias Mbok Wilis yang ramai sekali, ‘Berbagai jenis kosmetik berjejalan di atas permukaan meja yang tidak terlampau lebar itu’ (halaman 15).

Mbok Wilis atau Rara Wilis, ternyata adalah seorang waria yang berprofesi sebagai pelacur yang mangkal di area sekitaran kota Semarang. Pamor Mbok Wilis sebagai waria dan mucikari paling top sudah terkenal di dunia malam pelacuran, dia adalah Ratu Simpang Lima. Mbok Wilis memiliki sifat yang tegas serta cerewet layaknya wanita tulen. Namun dia juga sosok yang welas asih, dan sensitif. Tak jarang dia mengeluarkan air mata ketika dia ditinggal pergi atau disakiti oleh lelaki yang disayanginya. Lucunya, Mbok Wilis akan mengingat Tuhan dalam keterpurukan kondisinya.

Hingga pada suatu masa, Mbok Wilis ingin melakukan pertobatan, dia ingin melepaskan predikat pelacur dan ratu waria yang disandangnya. Dia juga ingin melepaskan diri dari jerat iblis yang menyaru menjadi manusia bernama Haris. Dia ingin menjadi manusia yang kembali menjalani kodratnya sebagai seorang pria. Tampaknya jalan menuju pertobatan penuh liku dan cobaan.

Di sisi lain, muncul pula tokoh bernama Suko Djatmoko Purwo Carito. Dikenal pula sebagai Pak Wo. Seseorang yang sangat menyukai cerita pewayangan yang kesehariannya menjalani profesi sebagai pedagang jamu keliling. Dia menjajakan jamunya sambil bertablig, mensyiarkan agama Islam. Ya, dia mantan orang berlumur dosa. Namun kini dia telah menemukan jalan hidupnya kembali. Seorang yang sabar dalam menghadapi segala dera dan cobaan hidup. Pak Wo menerima segala cibiran orang-orang di sekitarnya, bahkan keluarga terdekatnya dengan lapang dada dan penuh keikhlasan.

Pak Wo telah bertobat untuk menjadi seorang muslim yang taat. Namun rupanya, menjadi seorang muslim yang taat saja belum cukup baik di mata orang-orang. Tudingan sebagai penganut ajaran Islam yang salah dan sesat selalu diujarkan kepada Pak Wo.

Novel ini cukup membuatku bergidik jijik tatkala membaca beberapa bagian yang menggambarkan tokoh Rara Wilis sedang melacur. Penulis menceritakan aktivitas seksual menyimpang Rara Wilis bersama pelanggannya dengan cukup detil. Tetapi ada juga bagian yang membuatku ikut gemas dengan perlakuan Haris, si tokoh antagonis, kepada Rara Wilis.

A. Mustafa sebagai sang penulis novel, ikut mengaitkan epos Mahabarata dengan kedatangan Imam Mahdi dan Al Masih ke dunia. Menurut novel ini ada kemiripan antara Kresna, Sang Avatara dewa dengan Imam Mahdi dan Al Masih. Hal yang mungkin akan memicu kontroversi bagi pembaca novel ini.

Belum lepas keterkejutanku dengan hubungan antara cerita wayang Mahabarata denagn kehadiran Al Mahdi dan Al Masih, aku juga dibuat bergidik kembali dengan hikayat babi yang merupakan sebuah kiasan tentang kehidupan manusia yang 'kotor' dan berkubang dosa. Menurut hematku, sebaiknya novel ini dinikmati oleh pembaca yang telah matang jasmani, rohani, dan religinya. (Itulah mengapa novel ini diperuntukkan bagi pembaca berusia 19+)

Adakah niatan tobat Rara Wilis bisa terwujud? Apakah ajaran Islam yang dianut teguh oleh Pak Wo yang membuatnya dicap sebagai muslim yang sesat? Apakah hubungan antara Rara Wilis dan Pak Wo? Temukan semua jawabannya di dalam novel yang beralur maju-mundur ini. Selamat membaca.

Sedikit spoiler percakapan antara Rara Wilis dan Haris yang membuatku ikut geram dengan kelakuan Haris (hihihi).


Rating buku : 4/5

Identitas Buku

Judul         : Anak Gembala Yang Tertidur Panjang Di Akhir Zaman
Penulis          : A. Mustafa
Penerbit        : Shira Media
Tahun terbit : 2019
Genre             : Fiksi dan Literatur
ISBN               :978-602-5868-80-1
Tebal              : 354 halaman

#RCO6_tingkat2
#komunitas_odop
#odop_batch7
#mengulas_tokoh_utama_novel

Minggu, 03 November 2019

DAWU (EPISODE 5 : ITULAH NAMAKU)

Dawu dan saudar-saudaranya
Sumber :  google

Aku masih teringat pada mendiang saudara lelakiku. Kejadian itu terlalu sakit untuk dilupakan. Sungguh kejam dan tak berperasaan lelaki yang seharusnya kupanggil ayah itu. Tak sudi rasanya  untuk bertemu dengannya lagi. Memori saat bermain dan bercanda dengan saudara lelakiku masih saja berputar di otak. Saudaraku yang malang, semoga engkau berbahagia di sana. 

Lamunanku tentang almarhum saudaraku di siang bolong itu mendadak terusik gegara panggilan keras pak haji. Oleh warga sekitar, pak haji sering dipanggil dengan sebutan Abah. 

Abah kini telah memasuki masa senja hidupnya, tinggal di rumah gedong bercat hijau prusi yang selalu kuintai kehidupan keluarganya. Abah jugalah yang kala itu, bersama anak gadisnya yang baik hati, menguburkan mayat saudara lelakiku.

Lagi-lagi Abah memanggil nama itu. “Dawu, dawu, dawu.” Dawu, hmmm. Baru kali itu kudengar namanya. Siapa gerangan Dawu? Namun tampaknya seseorang yang dia panggil tak jua kunjung datang.

Dari penglihatanku yang tajam, bisa kupastikan Abah sedang membawa sepiring makanan. Dan dari indra penciumanku, bisa kupastikan ada aroma ikan di dalam piring itu. Ahhh, andai saja makanan itu untukku. Pasti kulumat habis dalam waktu sekejap.

”Dawu, Dawu, sini kamu.” Aku tetap bergeming, buat apa bergerak toh dia tidak memanggilku. Namun dari pandangan mata Abah yang menjurus kepadaku, nama itu tertuju padaku.

“Hey, Pus kecil. Sini. Ini makanan buatmu.” Seketika aku bangkit, masih tidak percaya kalau yang dia panggil Dawu adalah aku. Karena aku tak bernama, ibuku tak pernah memberiku nama.

“Hey, cepat kemari. Keburu dimakan kucing lain nanti.” Spontan aku berlari mendekati lelaki tua baik hati itu. 

“Meong, meong, meong.” Jawabku tak sabar untuk segera memakannya.

“Ya, kucing pintar. Makanlah. Mulai sekarang, jika kupanggil kau dengan nama Dawu, datanglah. Dawu itu singkatan dari Damar Klawu." Jelasnya padaku yang sedang asyik masyuk dengan makanan di piring. Abah berkata padaku seolah dia sedang berkata kepada anak lelakinya sendiri.

"Dawu,  akan kusiapkan makanan untukmu dan saudara-saudaramu. Ajaklah mereka kemari ya. Tak tega aku melihat kalian mengais-ngais sampah untuk sekadar mendapatkan makanan.” Dia melanjutkan perkataannya padaku  sambil mengelus-elus bulu kelabuku yang kumal. Tak ada rasa jijik sedikitpun pada raut Abah.

“Meong, meong, meong.” Kuiyakan ajakannya dengan mengeong. Entah Abah paham atau tidak dengan jawabanku ini. Abah yang berhati tulus, ikhlas menyayangi makhluk ciptaan Sang Maha Pencipta tanpa memandang bulu.

Ya, aku hanyalah kucing kampung tak bertuan dan tak terawat yang selalu berkeliaran di sekitar perumahan Abah. Tak punya tempat bernaung , pun juga tak ada makanan nikmat pengganjal perut yang disediakan khusus untukku.

Namun kini kudapati lelaki baik hati yang akan memenuhi rasa laparku dan kedua saudaraku. Agaknya jadwal makanku akan teratur selayaknya anak-anak kucing di rumah Abah. 

Biarlah aku tidur di emperan teras rumah orang atau masjid. Itu sudah cukup. Aku sudah cukup bahagia dengan keadaanku saat ini. Hanya Sang Rahman Rahim yang akan membalas segala budi baik Abah padaku.


#tantangan_odop_pekan8
#menulis_cerbung
#kelasmenulisodop
#odopbatch7
#cerita_bersambung

Sabtu, 02 November 2019

DAWU (EPISODE 4 : DUKAKU)


Malam kian menggelap ketika aku hendak terlelap. Bulan membentuk purnama di langit. Sinarnya sedikit menerangi ruangan yang sedang kutempati untuk sekadar merebahkan tubuh. Ketiga saudaraku memilih tidur di luar, agaknya hawa panas akhir-akhir ini membuat mereka tak betah untuk tidur di dalam ruangan sepertiku.

Tak kulihat ibuku sedari sore. Dia sedang pergi entah kemana. Sudah menjadi kebiasaan ibuku pergi meninggalkan kami anak-anaknya. Tanpa pesan, tanpa pamit. Tak pernah kubertanya kemana atau untuk urusan apa dia pergi. Asal dia datang dengan membawa makanan, kami sudah senang.

Tiba-tiba perasaan tak enak menyelubungiku. Kubolak-balikkan badan yang sudah payah ini. Dan ketika mataku akan terpejam, kumendengar kegaduhan di luar.

Reflek, aku berlari keluar untuk mencari tau sumber kegaduhan. Aku khawatir dengan saudara-saudaraku yang berada di luar. Jangan-jangan terjadi sesuatu terhadap mereka.

Dan benar saja, ada pengganggu rupanya. Seketika mataku beradu dengan sosok itu. Lelaki yang sudah menjadikanku tersangka pencuri belanjaan ibu-ibu kompleks perumahan. 

Matanya nyalang menatap kami berempat. Dia mulai menggeram, aku dan saudara lelakiku ikut menggeram juga. Kami mencoba mengusirnya dari sini. Entah apa yang membuatnya berada di tempat kami dengan amarah yang terbakar.

Tiba-tiba dia menyerang saudara lelakiku. Memang, diantara kami berdua, saudaraku yang terlemah. Badan saudaraku lebih kecil dariku. Aku menyerang balik pada lelaki itu. Namun tubuhnya yang lebih besar berhasil menghalauku. 

Perkelahian beda postur tubuh yang terjadi di pertengahan malam tak dapat dielakkan. Aku dan saudara lelakiku versus lelaki berperawakan garong. Saudara lelakiku fix menjadi sasaran dia. Tak hentinya dia  menggolong dan menyerang saudaraku. 

Sekuat tenaga kucoba membantu saudaraku agar tidak menjadi bulan-bulanan dia. Kegaduhan yang kami buat sudah macam petasan. Ribut tak keruan. 

Sayang, aku belum sekuat itu, meskipun sudah kukerahkan segenap dayaku. Aku terengah-engah kehabisan tenaga. 

Di ketidakberdayaanku, saudaraku dibawa kabur loleh sosok itu. Aku mengejarnya dengan sisa tenagaku, tetapi tak berhasil menemukannya. Aku lunglai, terduduk di tengah-tengah jalan perumahan. Bagaimana nasib saudara lelakiku satu-satunya? 

Keesokan paginya, pikiranku masih kacau memikirkan saudaraku sambil terus mencoba mencari keberadaannya. Di saat itulah aku melihat pak haji bersama anak perempuan satu-satunya, membawa jasad saudaraku yang sudah terbujur kaku.

Sontak kuberlari mendekati mereka. Putri pak haji mendekatiku, dengan terisak dia berkata, “Hai kecil, dia saudaramu ya? Relakan dia ya, dia sudah pergi menemui Allah. Kamu jangan bersedih ya.”

Aku hanya mampu berduka. Tak ada kata-kata yang dapat kuucapkan melihat pemandangan dihadapanku. Kubalas perkataan gadis manis itu dengan pandangan penuh kesedihan.

Kelak baru kuketahui pejantan yang telah membunuh saudaraku, adalah ayah kami. Hanya karena tak ingin tersaingi keberadaannya, dia tega membunuh darah dagingnya sendiri.

Kemudian kulihat kembali jasad saudaraku untuk terakhir kalinya. Sebelum tanah menutup tubuh itu selamanya. 

Jumat, 01 November 2019

DAWU (EPISODE 3 : AKU BUKAN PENCURI)


Pagi itu kudengar ibu-ibu perumahan saling berdialog ketika sedang berbelanja di tukang sayur langganan mereka. Tak sengaja kucuri dengar obrolan seru yang sedang berlangsung.

“Iya Bu, belanjaan saya kemarin juga hilang satu. Pas saya buka di rumah, udah ga ada ikannya.” Kata ibu berdaster biru bunga-bunga.

“Sama, Jeng. Punya saya satu kresek hilang semua. Padahal saya taruh sebentar di badugan depan rumah. Pas balik mau ambil, eh, sudah ga ada, kreseknya sudah terkoyak,isinya ilang. Ngeselin kan.” Kali ini kata ibu berjilbab ungu panjang.

“Duh, kok jadi ga aman gini ya perumahan kita. Jangan suka kelupaan bawa belanjaannya kalau begitu Bu. Begitu selesai, langsung bawa masuk aja. Kalau ilang berkali-kali ya bisa rugi bandar kita.” Sahut ibu berjilbab merah muda.

Hmm, rupanya ada yang suka mencuri belanjaan ibu-ibu muda ini. Tapi siapa gerangan yang tega mengambil belanjaan mereka? Yang pasti bukan aku. Aku serba kekurangan, tapi aku tak mau melakukan tindakan terlarang itu.Mencuri adalah tindakan yang melanggar agama, Allah tidak suka itu. Aku mengetahuinya karena pak ustaz, yang biasa mengisi pengajian di masjid perumahan, melarangnya. Berdosa, begitu kata pak ustaz

Kulihat mereka masih melanjutkan obrolannya. Kali ini sambil melirik ke arahku. 
“Iya, jangan-jangan dia ya. Dia kadang ada di depan rumahku juga sih.” Ujar si ibu berdaster biru bunga-bunga.

Arrgghh. Hanya karena aku dekil, bukan berarti aku pencuri. Tak kugubris prasangka mereka. Lebih baik aku meninggalkan obrolan tanpa fakta itu. 

Aku berjalan cukup jauh meninggalkan ibu-ibu muda itu. Kutemukan tempat yang sepertinya nyaman untuk melamun, yaitu di bawah pohon yang cukup rindang. Kududuk di sana. 

Matahari sudah sepenggalah tatkala kulihat lelaki itu melintas di depanku. Salah satu diantara tiga lelaki yang selalu ada di sekeliling ibuku. Dia berjalan tanpa menghiraukan keberadaanku yang jelas-jelas dia lewati. Gayanya cuek dan terkesan angkuh, seolah-olah dia yang terkuat.

Kuhiraukan saja dia. Namun ada yang aneh dari gerak geriknya. Dari kejauhan kulihat diam-diam dia memasuki rumah ibu yang berdaster biru bunga-bunga. Sejurus kemudian, kulihat dia keluar sambil berlari dan membawa sesuatu. 

Ternyata dia pelaku yang dicari selama ini. Dia yang berbuat, aku yang kena pulutnya. Sial sekali.

Rabu, 30 Oktober 2019

DAWU (EPISODE 2 : PEJANTAN TANGGUH)

Lalu di mana peran ayahku? Ah, jangan ditanya di mana dia. Aku tak pernah mengenal sosoknya. Diantara tiga lelaki yang selalu berada di sekeliling ibuku, aku tak tau pasti yang mana ayahku. Ibuku tak pernah bercerita, pun aku tak mau tau.

Aku dan keluargaku berjuang keras untuk bertahan hidup. Tak ada ayah yang melindungi kami. Tak ada tempat berteduh permanen untuk kami. Tak jarang aku dan saudara-saudaraku harus rela kepanasan, kedinginan, dan bahkan kehujanan. 

Diusir dan digusur sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kami. Seperti sore itu ketika tak sengaja aku lewat di depan rumah bergaya minimalis bercat putih gading itu. Kupandangi rumah itu dengan penuh harap semoga sang empunya rumah berbaik hati memberiku sedikit makanan, walaupun hanya makanan sisa. Namun usiran yang ku terima.

“Ih, sana, sana, pergi kamu dari sini. Dekil sekali kamu. Jangan berani-berani kamu masuk rumah ini lagi.Oke!” Kata perempuan muda berkepang dua, berumur belasan tahun yang menghuni rumah itu.
Dengan langkah gontai kutinggalkan rumah itu. Sehina itukah aku dihadapan mereka, Ya Rabb? Tak ada sedikit pun niat burukku kepada mereka. 

Hidupku mungkin terlihat mengenaskan di mata kebanyakan orang, tetapi kuterima takdir Sang Maha Pencipta dengan lapang dada. Bersyukur masih bisa bermain dan bersenda gurau dengan ketiga saudaraku. Sebagai lelaki tertua di antara ketiga saudaraku , aku harus bisa melindungi mereka.

Ya, aku bertekad untuk menjadi pejantan tangguh bagi keluargaku. Takkan kubiarkan diriku menjadi pribadi yang lemah dan cengeng. Aku akan bertahan dalam kondisi sesulit apapun.

Selasa, 29 Oktober 2019

DAWU (EPISODE 1 : INTRO)


Kuhanya bisa menatap sirik saat melihat pemandangan di depan mataku. Adegan demi adegan dalam cerita panggung kehidupan nyata itu terlalu indah untuk bisa kumiliki. Kumelihat banyak kebahagiaan di dalam rumah bercat hijau prusi itu. Anak-anak seusiaku sedang bermain penuh canda tawa, ceria, riang gembira. Ah, andai saja aku menjadi salah satu pelakon dalam keluarga itu. 

Tak kulihat setitikpun kepiluan di sana. Awak anak-anak itu bersih terawat, hidup mereka pun seolah  teratur rapi. Terlebih waktu makannya, tak pernah luput walau semenit dari jadwal. Kehidupan mereka seakan berbanding terbalik dengan kehidupanku.

Apalah aku yang hanya semacam makhluk proletar. Dilahirkan ke dunia dan dibesarkan oleh ibunda di jalanan. Ya, hidupku banyak kuhabiskan di jalanan, berteman siang dan malam. Aku, ibu, dan ketiga saudaraku bisa makan enak tatkala ada uluran tangan dari orang yang mau berbaik hati memberi kami makanan. Jika tak ada, kumakan saja makanan seadanya, asal perutku kenyang.

Masih terkenang dalam memori ketika aku masih kecil. Di saat seharusnya kami mendapatkan asupan gizi asi dari ibuku, dia akan beringsut pergi bahkan sebelum aku atau saudaraku merebahkan badan di dekatnya. Bukan karena tak mau, tapi rupanya ibuku juga merasakan perih di lambung karena lapar yang teramat sangat. Kadangkala ketika ibuku mau menyusui, hanya setetes dua tetes asi yang keluar. Dan itu tak cukup untuk menutupi rasa lapar dan dahagaku.

Terkadang, ibuku mau berbagi makanan dengan kami. Itupun jika makanan yang dia bawa pulang cukup banyak, kalau tidak, ya akan dia makan sendiri. Cukup menyedihkan memang, tetapi itulah realita hidupku. Lalu di mana ayah yang seharusnya mencarikan rezeki buat kami? Entahlah.


#tantangan_odop_pekan8
#tantangan_odop_pekan8_episode1
#menulis_cerbung
#kelasmenulis
#komunitasODOP

Jumat, 25 Oktober 2019

HANCUR LEMBUR

"Flashdisk masih nancep di laptopku woi."

"Persetan Juuul, cepetaaannn. Lariii."

Entah apa yang merasukimu. Hingga kau tega menghianatiku. Entah apa yang merasukimu. Hingga kau tega menghianatiku. Entah apa yang merasukimu. Hingga kau tega menghianatiku. 

"Nomor siapa lagi ini?"

"Aaarrrggghhh. Siaaalll."


*******

Kantor kontraktor bernuansa ivory itu jauh dari kata menyeramkan. Bangunannya bergaya modern minimalis malahan, dengan papan nama besar merah menyala terpasang gagah di tembok bagian luar. Ruangan lobi kantor didominasi oleh kaca tembus pandang, dengan tirai roller blinds yang menutupinya. PT. Jagat Infrastruktur Nusantara namanya, disingkat PT. JIN. Entah nama itu sengaja dipilih atau tidak oleh sang pemilik, sehingga singkatannya membuat agak bergidik bagi siapa saja yang membacanya.

Namun banyak kisah yang berhembus kalau kantor itu angker, seram, banyak hantunya, blablabla. Tak jarang karyawan PT. JIN sendiri yang diganggu oleh makhluk-makluk astral tak kasat mata. Suatu saat, ada karyawannya yang nyeletuk, "Ya jelas banyak makhluk halusnya, lah wong kantornya aja namanya PT. JIN, di dalamnya ya banyak jinnya."

Celetukan yang dianggap candaan tersebut rupanya langsung ditanggapi oleh penghuni tak kasat mata kantor itu. Ketika hendak berwudu, si karyawan ditepuk pundaknya cukup keras, tetapi ketika dia menoleh, tak ada siapapun di belakangnya. Lari terbirit-biritlah dia. Bagaimana tidak, karena kondisi kantor yang kosong kala itu.

Ada juga karyawati kantor itu yang diganggu dengan suara-suara aneh. Dari mulai suara tangisan tanpa ada sosok yang menangis, hingga suara deru mesin alat berat yang jelas-jelas berada di depan halaman kantor dan sedang tidak beroperasi. Atau ada juga yang diganggu dengan bayangan putih berseliweran di dalam kantor. Hmmm.

Sebenarnya kantor itu terletak di suatu perumahan elit yang sayangnya masih banyak tanah kosong di sekitarnya.  Tetangga di deretan kantor PT. JINpun hanya ada 7 rumah. Sialnya diantara 7 rumah tersebut, 5 rumah dipasang plang "DIJUAL". Konon kabarnya, perumahan di sana kurang diminati pembeli, karena lokasinya yang berada di bawah tower saluran udara tegangan ekstra tinggi alias SUTET.

Kala siang, suasana angker tidak akan terasa meskipun banyak semak belukar dan pohon-pohon besar yang bercokol di area tanah kosong. Namun, jangan ditanya kondisi perumahan di malam hari, sepi, sunyi, bahkan tidak ada penerangan lampu di sepanjang jalan perumahan. Aneh memang, perumahan elit rasa desa tertinggal. Huft. Yah jangan salahkan SUTET saja kalau perumahan ini tak laku, prasarananya saja jauh dari kata elit.

Hingga kejadian mistis dan traumatis itu datang menghantui 3 orang karyawan PT. JIN. Adalah Pucung, Ijul, dan Agus yang sengaja begadang karena lembur. Nahasnya, malam itu bertepatan dengan malam Jumat Kliwon yang kata orang-orang adalah malam terangker diantara malam-malam yang lain. Dari awal, sudah ada rasa was-was yang menyerang diri mereka. Namun bayangan sekelebat di benak mereka tentang kemarahan bos jika gagal upload tender lebih angker daripada penampakan genderuwo sekalipun. Pikir mereka kala itu, sebelum suatu kejadian itu menimpa mereka.

"Krik, krik, krik..."
"Tik, tok, tik, tok..."

Malam kian terasa larut. Jam dinding telah menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Hanya duet suara detik jam dan nyanyian jangkrik yang mengiringi kerja lembur mereka. Pucung, Ijul, dan Agus terbawa pada fokus pekerjaan masing-masing. Sepuluh jam dari batas waktu upload. Mereka berpacu dengan waktu agar tender bisa diunggah tepat waktu. Jenuh mulai melanda otak 3 sekawan ini.

Ruangan lobi mereka pilih untuk lembur berjamaah malam itu. Pucung masih asyik bekerja dengan headset di telinga. Pun dengan Agus dan Ijul. Sesekali mereka bercanda atau bermain gitar dan bernyanyi bersama untuk melepas ketegangan otot dan otak. Tirai kaca lobi sengaja dibuka setengah, hanya agar pandangan terasa lega. Meskipun pemandangan malam pekat yang terlihat diantara deretan rumah dan tanah kosong sekitar kantor.Sejauh ini aman, tidak ada gangguan.

Hingga...

Pucung sendiri di ruangan itu. Ijul sedang keluar untuk merokok di pos satpam yang letaknya tak jauh dari kantor. Agus sedang ke kamar mandi untuk melepas hajat.

Sayup-sayup Pucung mendengar lantunan tembang jawa di headsetnya. Dia mengecek kanal YouTube yang dia putar, meyakinkan dia sedang mendengarkan lagu Ari Lasso.Benarlah, dia tidak sedang memutar tembang jawa. Aneh pikirnya. Bulu kuduknya mulai berdiri, dia merasa ada sosok yang melihatnya dari kejauhan, tapi tidak ada siapa-siapa di luar sana. Dia melihat ke arah pohon besar di seberang kantor. Seperti ada sesuatu di sana. Entah apa. Pucung melepas headsetnya, dan lagu jawa itu masih sayup-sayup terdengar di rungunya

Lalu tiba-tiba Agus lari gedubrakan dari arah dalam kantor.

"*****k, Cung. Siapa itu Cung?" Tanyanya pada Pucung sembari mengelluarkan sumpah serapah.

"Siapa, Gus? Ga ada siapa-siapa lagi di sini, cuma ada aku sama kamu, Ijul di pos." Jawab Pucung kebingungan.

"*****k. Ada cewe rambut panjang ***, pake baju putih di ruangan keuangan, Cung. Sumpah ga bohong aku, wajahnya nunduk, ketutup rambut." Jelas Agus sambil ngos-ngosan. Sepertinya Jantung Agus sudah anjlok ke perut.

Tak lama, mereka mendengar suara jeritan pilu seorang wanita. Jeritan itu tak berhenti hingga sekian detik. Mereka berdua saling berpandangan, seakan bertanya dalam diam, "Suara jeritan siapa itu?". Pucung gentar, degup jantungnya ikut berpacu. Kata-kata serapah kembali dikeluarkan Agus.

"Lariii..." Serta merta kedua orang itu lari sipat kuping meninggalkan kantor dan masih menyisakan pekerjaannya.

Pucung tak sengaja melihat ke arah atas pohon, di dahannya tengah terlihat sesosok makhluk seperti yang digambarkan Agus tengah duduk manis. Pucung beristighfar. Lantunan tembang jawa itu terdengar lagi.

Bapak Pucung dudu watu dudu gunung
Sangkane ing sebrang
Ingon-ingone sang Bupati

Bapak Pucung yen m'laku lembehan grana
Hihihihihi

Pucung akhirnya tau tembang apa yang sedang makhluk itu nyanyikan. Tembang pucung, ya seperti namanya. Langkah mereka terhenti tatkala bertemu Ijul di pos satpam. Ijul keheranan dengan temannya yang ngos-ngosan.

"Jul ayo pulang, sudah kita lanjut nanti aja." Ajak Pucung pada Ijul

"Kenapa, rek? Flashdiskku masih nancep di laptop woi."

"Persetan Juuul, cepetaaannn. Lariii" Ijul bingung, dia secara otomatis ikut berlari meninggalkan pak satpam, mengekor di belakang Agus dan Pucung.

"Cuuunggg, dia masih ada di belakang kita" Agus menjerit.

Entah apa yang merasukimu. Hingga kau tega menghianatiku. Entah apa yang merasukimu. Hingga kau tega menghianatiku. Entah apa yang merasukimu. Hingga kau tega menghianatiku. 

"Nomor siapa lagi ini?" Tanya Pucung lebih pada dirinya sendiri ketika ponselnya berbunyi. Private number, tak ada nomer telepon yang tertera di layarnya. Pikirannya berkecamuk.

"Aaarrrggghhh. Siaaalll." Tanpa ragu Pucung membuang ponselnya ke semak-semak.

Andai Pucung tau, bahwa yang meneleponnya adalah Big Boss untuk bertanya progres pekerjaan mereka. Hancur sudah lembur mereka. Tugas masih banyak yang mesti diselesaikan. Dan entah alasan apa yang akan mereka utarakan pada Big Boss nanti perihal tak terselesaikannya tugas ini. Bagaimanapun Pucung berpikir, ternyata omelan bos lebih enak didengar daripada nyanyian tembang jawa makhluk tak kasat mata itu.


Kamis, 24 Oktober 2019

BEJAT


Blur. Indra penglihatannya hanya mampu menangkap samar sosok pria misterius yang berdiri memunggunginya di depan pintu kamar hotel. Ruangan hotel kelas melati yang jauh dari kata lega itu serasa menghimpit daksanya. Gadis 20 tahun yang  terbaring di sana tengah merasakan perih yang teramat sangat, perih lahir dan batin. Darah segar keperawanan mengalir dari organ terintim tubuhnya.

Meinar, baru saja dirudapaksa oleh lelaki yang bahkan dia sendiri tidak tau pasti parasnya. Dia dalam keadaan setengah sadar saat tindakan bejat itu terjadi. Namun satu hal yang dia ingat, pelaku adalah seorang pria bertato naga di dadanya. Kejadian yang Meinar alami akan membekas dalam memori terkelamnya, hingga ajal yang akan menghapusnya. Kini sang pemerkosapun pergi meninggalkan Meinar, sendiri.

******

Meinar tidak ingat pasti bagaimana bisa dia dirudapaksa oleh pria misterius itu. Hal terakhir yang diingatnya adalah dia diminta untuk datang ke suatu rumah makan oleh seseorang dengan alasan Bima ingin menemuinya untuk membahas rencana pernikahannya. Yang terjadi selanjutnya, Meinar tak sadarkan diri setelah meminum segelas minuman yang disuguhkan padanya di rumah makan itu. Dan kegadisan Meinar berakhir di atas ranjang hotel. Kepolosan Meinar membawanya pada nasib sial.

Dia tumpahkan kemalangan yang menimpanya kepada sang ibunda. Tiada hari yang dia lewati tanpa meratapi nasib. Dadanya sesak, tubuhnya semakin hari beringsut turun. Ingin rasanya berteriak pada Sang Maha Pemilik raga, mengapa kejadian buruk ini menimpanya. Tak ada jejak yang ditinggalkan pria misterius itu. Meinar tak tau lagi kemana dan kepada siapa dia harus mengadu.

“Sabar, Nduk. Ini ujian dari Gusti Allah. Kuatkan imanmu, Nduk. Dekatkan dirimu kepada Allah. Mari kita lewati ini semua bersama-sama. Allah akan bersama hambanya yang sabar dan tawakal.” Kata-kata itu yang selalu diucakan sang ibu kepada putri semata wayangnya.

Bukan hanya Meinar yang terpuruk, hati ibunya pun ikut luluh lantak. Mereka menangis bersama mencoba berdamai dengan suratan takdir dari Yang Maha Kuasa.

Suatu hari Meinar memberanikan diri untuk mengungkap aibnya kepada Bima. Berharap Bima masih mau menikahinya meskipun kondisinya kini tak suci lagi.  Malang tak dapat ditentang, Bima malah menghilang. Meinar tak lagi menjumpai Bima yang hampir setiap pagi menyempatkan waktu sejenak sekadar untuk pamit bekerja.

Keadaan ini membuat Meinar semakin putus asa. Keinginannya untuk mengakhiri hidup semakin tak terbendung. Meskipun ada ibunda tercinta yang selalu menguatkan diri Meinar.

 “Mei ga kuat, Bu. Mei mau mati saja. Mas Bima sudah ga mau ketemu Mei setelah kuceritakan kejadian ini padanya. Dia malah menuduhku berselingkuh dengan pria lain Bu.” Tangis Meinar pecah di pelukan ibundanya.

“Istighfar, Nduk. Kematian tidak akan menyelesaikan masalahmu, Nduk. Ingat siksa Allah amat keji kepada umatnya yang bunuh diri.” Ibunya tak pernah berhenti mengingatkan Meinar.

“Ujian ini terlalu berat, Bu. Hidupku binasa, rencana pernikahanku dengan mas Bima pupus sudah. Untuk apa Mei hidup?” ratapnya pada sang ibunda yang wajahnya ikut menua karena masalah ini.

Keinginan Meinar untuk mengakhiri hidupnya ternyata bukan isapan jempol belaka. Sudah dua kali Meinar melakukan usaha bunuh diri, entah dengan cara menenggak racun atau menggantung dirinya. Namun usahanya selalu gagal karena keburu diketahui ibunya.

Hingga di suatu pagi yang cerah, ibunda Meinar menemukan anaknya bersimbah darah di kamar. Darah segar mengalir dari nadi pergelangan tangan Meinar.

“Astaghfirullahal'adzim. Apa yang kamu lakukan, Nduk." Jerit sang ibu pilu.

“Duh Gusti jangan ambil nyawa anakku.” Pinta ibunda Meinar kepada Sang Rahman Rahim.

“Maafkan Mei, Bu.” Kata Meinar dalam kondisi yang sangat lemah. Senyum samar dia persembahkan pada sang ibu. Berpikir bahwa itu adalah senyum terakhir, sebelum malaikat pencabut nyawa mengambil ruhnya.

“Tolong, tolong.” serta merta sang ibunda lari keluar rumah mencari pertolongan kepada tetangga sekitar.

Tak dinyana, sang ibunda bertemu Pak Trenggono, ayah Bima. Tanpa babibu, dia langsung meminta pertolongan Pak Trenggono agar mau membantunya membawa Meinar ke rumah sakit.

Rupanya hari itu Pak Trenggono sengaja melewati rumah Meinar. Kabar usaha bunuh diri mantan calon menantunya itu telah merebak ke seluruh kampung hingga sampai di rungu Pak Trenggono. Dia berlari mengikuti ibunda Meinar. Dilihatnya sosok itu terbujur tak berdaya di lantai. Hampir sekarat.

Pak Trenggono mendekati tubuh Meinar. Kini hanya mereka berdua di kamar itu. Pak Trenggono menyuruh ibunya memanggil sopir yang ada di depan jalan masuk kampung.

Tanpa diduga, Pak Trenggono tertawa jahat melihat kondisi Meinar yang sedang meregang nyawa.

"Hahaha."

Dia mendekati gadis itu. Dengan berjongkok dia menatap wajah Meinar yang nafasnya mulai terdengar satu satu.

“Akhirnya aku berhasil menghancurkanmu sehancur-hancurnya, Cah Ayu. Sampai kapanpun, aku tidak akan merestui hubunganmu dengan anakku, Bima.” Bisiknya pada Meinar.

Meinar sedikit tersentak mendengar suara Pak Trenggono. Dengan berat dia mencoba membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah tato bergambar naga dari balik kemeja  Pak Trenggono. Memorinya tentang malam laknat itu berputar kembali. Ternyata laki-laki yang tega menodainya adalah calon ayah mertuanya sendiri.

“Ka...ka...kamu.” katanya lirih. Tak ada lagi daya yang dia punya. Dalam kondisinya berjuang melawan maut, dia menemukan pelakunya.

“Hahahaha, kaget? Asal kamu tau, aku lebih bahagia melihatmu mati daripada melihatmu bersanding dengan orang lain. Apalagi jika orang itu adalah Bima, anakku sendiri. Ya, aku mencintaimu Mei.” Katanya pada Meinar dengan seringai penuh kepuasan.

“Aku telah berhasil menjauhkan Bima darimu, dan menggagalkan pernikahanmu.” Lanjutnya.

Tangan Pak Trenggono mulai mengelus kepala Meinar yang menatapnya dengan penuh kebencian. Andai Meinar masih kuat, akan dia kirimkan ludah ke muka lelaki bejat itu.

Mengapa baru kini dia dipertemukan dengan pelaku sebenarnya? Di saat usaha bunuh diri Meinar akan membuahkan hasil. Dan disepertiga ujung nyawanya, Meinar merapal doa kepada Tuhan Yang Maha Adil, meminta agar doanya dikabulkan, doa sebagai orang yang terzalimi. Meski dia menempuh cara yang salah untuk kematiannya.

“Semoga Allah melaknatmu dan melimpahkan seburuk-buruknya azab  kepadamu, Trenggono. Akan kutunggu dirimu kelak di Hari Pembalasan, untuk mendengar pertanggungjawabanmu dihadapan Allah.”

Tepat sebelum Meinar terpejam, Ibundanya masuk ke kamar Meinar. Dengan sigap, Pak Trenggono mengangkat tubuh lunglai Meinar. Dia hanya bisa pasrah. Sekali lagi dia berada dalam dekapan lelaki yang pura-pura membantu dia dan ibunya. Lelaki yang dikira pahlawan oleh ibunya, tak lain adalah orang yang telah menghancurkan masa depannya.


#tantanganpekan7
#komunitasODOP
#kelasmenulis
#tantangan_membuat_opening_cerpen

Senin, 14 Oktober 2019

RASA YANG SALAH


Putri, nama gadis itu. Aku mengenalnya 6 tahun yang lalu, ketika kita masi sama-sama di bangku kuliah. Dia adik kelasku dua tahun. Pertemuan kita seperti sudah diatur oleh semesta. Tak sengaja kita dipersatukan dalam satu kelompok asistensi dengan dosen pembimbing yang sama dalam suatu mata kuliah perancangan. Lorong  depan ruang dosen menjadi saksi bisu di setiap pertemuan kita. Hanya sapaan “Hai” yang dia ucapkan setiap bertemu denganku, atau lebih tepatnya  sapaan itu dia ucapkan untuk menyapa kelompok kami. Ah, aku terlalu percaya diri kalau senyum itu ditebar hanya untukku.

Putri, hanya namanya saja yang menggambarkan bahwa dia seorang wanita. Berbanding terbalik dengan penampilannya. Gaya berpakaiannya jauh dari kata putri. Dia gadis tomboy, rambutnya pendek hampir cepak malah, celana jeans belel, kaos yang dirangkapi dengan hem oversize, dan sepatu kets menjadi andalan penampilannya. Namun entah mengapa, seperti ada magnet magis yang membuat makhluk lawan jenis menyukai dia.

Suatu hari, Putri tiba-tiba merangkulku dan mengajakku makan di kantin bawah tangga di salah satu sudut kampusku. Kikuk aku dibuatnya.

“Kak Erick, ngebakso yuk. Desainku ditolak lagi, nyebelin ih. Bikin lapar perutku saja.” Ajaknya.
Aku tidak tau sejak kapan dia tau namaku.

“Tau namaku?” Sebuah pertanyaan bodoh kulontarkan tanpa sungkan.

“Ya taulah, masa satu kelompok asistensi ga tau nama kakak.” Jawabnya santai tanpa beban.

“Ahhh. Oke.” Hanya jawaban itu yang bisa aku lontarkan.

Dan tanpa diduga, itulah awal kedekatan kita. Hari-hari kita lalui hampir bersama. Kedekatan yang tidak biasa. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani kebersamaanku dengan Putri. Aku terlalu mengetahui dia luar dalam, begitupun sebaliknya.

Aku merasa hubungan ini lebih dari hubungan pertemanan biasa. Bukan, bukan hubungan persahabatan atau hubungan persaudaraan. Hubungan yang anehlah, menurutku. Apakah kami saling jatuh cinta. Entahlah, akupun bingung. Aku tidak pernah mengungkapkan rasaku kepada Putri. Aku tetap menyimpan perasaan sukaku. Pun juga Putri, dia hanya menunjukkan kepeduliannya kepadaku. Mungkin kita sama-sama saling menyukai, tetapi dalam diam.

Hingga suatu waktu, Putri datang kepadaku dengan membawa sebentuk surat undangan pernikahan kepadaku.
“Kak Erik, datang ya ke acara akad nikahku. Aku ingin kamu datang sebagai bentuk restumu padaku.” Pintanya sambil mengulurkan undangan itu kepadaku.

“Akhirnya lelaki itu berhasil menaklukkan hatimu, Put.” Jawabku sambil tersenyum getir dan mencoba menahan air mataku menetes. 

Putri membalas pertanyaanku dengan senyuman manisny, “Iya, sifat dia hampir sama sepertimu kak. Namun dia dalam wujud lelaki. Dia lelaki yang salih dan bertanggung jawab."

“Kak Erick jangan sedih ya, aku mohon. Aku tau semuanya tidak akan pernah sama seperti dulu lagi, tetapi aku akan selalu ada untukmu, Kak.” Lanjutnya mencoba meyakinkanku dan menguatkanku.

“Cintai aku sebagai saudara perempuanmu karena Allah. In syaa Allah, Allah telah menyiapkan  imam untuk  kakak.” Kata Putri dengan lembut.

Hatiku porak poranda dibuatnya. Kutatap nanar undangan pernikahan antara “Putri dan Ahmad”. Di sana tertulis namaku. Kepada: Kak Ericka Damayanti.

Hanya Putri yang memanggil namaku dengan Erick, hanya Putri yang selalu membuat cerah hari-hariku, hanya Putri yang selalu menemani dalam jatuh bangunku. Ya Allah rasaku memang salah, tidak seharusnya aku mencintainya. Dari relung hatiku yang paling dalam aku berdoa untuk kebahagiaan dia dalam menyusuri biduk rumah tangganya. Dan aku, aku mengamini dalam hati doa yang Putri ucapkan untukku.

Sabtu, 12 Oktober 2019

MONOLOG

Siapakah aku,
Sewujud daging yang tercipta dari setetes mani

Siapakah aku,
Sebentuk raga yang ditiupkan roh kepadanya

Siapakah aku,
Sebuah jiwa yang berada di belantara alam semesta

Siapakah aku,
Hanya manusia fana penghuni marcapada yang mendamba kekal surgaloka

Lamun, apalah aku
Hanya hamba yang mudah tersulut amarah
Hanya hamba yang penuh angkara
Hanya hamba yang berpeluh dosa
Khilaf
Salah
Gawal
Cela
Noda

Ampuni aku ya Rabb, terimalah sesalku
KepadaMu kupinta dijauhkan neraka
Kepada Zat yang Maha membolak balikkan kalbuku,
Tetapkanlah diri ini agar selalu berada di jalanMu

Jumat, 11 Oktober 2019

SESAL


Sudah tujuh tahun usia pernikahanku dengan suami. Namun pernikahan kami bukan pernikahan biasa menurutku. Kisah manis pernikahan kami hanya indah di awal-awal saja. Hari-hari lebih banyak kami lalui dalam diam. Hambar, itu yang kami rasakan. Entah apa penyebab pastinya, mungkin buah hati yang didamba-damba hadirnya belum jua datang, atau mungkin karena hubungan jarak jauh yang kami jalani, atau mungkin karena hubunganku dengan mertua yang kurang akur. Atau mungkin-mungkin yang lainnya, terlalu banyak kemungkinan memang.

Kami sama-sama manusia pekerja, tetapi kami tinggal di dua kota yang berbeda. Tiap akhir pekan, suamiku yang mengalah untuk datang ke rumah yang lebih sering kutinggali sendiri. Kehampaan yang lebih banyak mengisi ruangan rumah kami. Aku lebih senang menenggelamkan diri dalam urusan pekerjaanku untuk menghindari sepi di rumah itu. Bukannya tanpa usaha, semenjak dua tahun usia pernikahan kami, kami sudah berikhtiar untuk memperoleh momongan. Tapi Sang Khalik berkata lain, urusan anak juga urusan rezeki. Hanya yang Maha Pemberi Rezeki yang tau rahasia itu.

Ibu mertuaku seringnya menyindirku, tak sekali dua kali beliau mengatakan aku orangnya bebal, egois, tidak manut, karena tidak mau mendampingi suamiku dan lebih memilih jabatanku. Namun semua itu telah kami kompromikan, bahkan jauh sejak awal biduk rumah tangga kami berjalan, bahwa tidak ada pekerjaan yang perlu dikorbankan. Suamiku membebaskanku untuk berkarir, asalkan tau batasannya.
Suamiku, pada dasarnya dia suami yang baik, hanya memang agak cuek. Pertanyaan-pertanyaan macam pertanyaan yang menunjukkan suatu perhatian jarang sekali diutarakan lewat perkataa maupun via aplikasi percakapan. Asalkan aku baik-baik saja, tidak mengeluh sakit, dia takkan khawatir. Dan sifatkupun 11-12 dengan dia. Dan mungkin inilah awal kebisuan ini, kami terlalu nyaman dengan keadaan hening ini. Melihat kami terlihat baik-baik saja tanpa banyak komuikasi. Hanya jawaban “Iya”, “Oke”, “Baiklah” yang masing-masing kami lontarkan atas semua pertanyaan. Hee, aneh bagi orang lain, tetapi lumrah bagi kami.

Heee. Orang luar yang melihat kami, menganggap kami pasangan yang asik. Tanpa perlu kepo dengan urusan pasangan, tidak ada kecemburuan, tidak ada kecurigaan. Namun aku wanita normal pada umumunya, yang masih membutuhkan pundak suamiku untuk bersandar dari segala sesakku, selain sajadah untuk mengadu dalam sujudku. Bodohnya, aku terlalu gengsi untuk mengutarakan itu semua pada suamiku. Aku selalu ingin terlihat menjadi wanita yang kuat dan tegar di setiap masalah-masalah yang menderaku.

Sore itu mas Bagas, suamiku, tiba-tiba mengajakku makan malam. Tanpa kusadari hari ini adalah hari pernikahan kami.
“Dik, malam ini kita makan di luar saja ya. Kamu lupa kan, kalau hari ini anniversary pernikahan kita?” ajaknya sekaligus menanyakan ingatanku akan momen yang seharusnya bersajarah.

“Oh, oke.” Ya, lagi-lagi jawaban singkat jelas yang kuberikan. Tanpa pertanyaan lanjutan, kamipun melanjutkan kesibukan masing-masing.

Pukul tujuh malam kami sudah bersiap. Aku memakai baju terbaik yang kupunyai. Parfum semerbak mewangi kusemprotkan ke area nadiku, berharap wanginya lebih tahan lama. Di ruang tamu, ternyata suamiku sudah bersiap. Dia terlihat sangat tampan, bukannya baru kini kutau dia tampan, rupanya aku yang sudah lama tidak melihat ketampanan suamiku. Dia tersenyum, senyuman maut itu yang membuatku jatuh hati.

“Wow, istriku cantik sekali. Sudah siap?” dia memujiku. Aku serasa gadis yang jatuh cinta lagi. Sesuatu yang hangat merambati pipiku.

“Iya, ayo mas.” Jawaban singkat lagi.

Malam ini kami habiskan berdua dengan rasa bahagia. Banyak kata-kata yang kami ucapkan. Canda tawa kami gemakan. Cerita yang selama ini kami pendam masing-masing kami keluarkan. Suasana seperti tujuh tahun silam kini hadir kembali.
“Maafkan mas ya Dik. Mas kurang peka terhadapmu. Mas harus sering-sering mengajakmu pergi, agar aku bisa melihat tawa bahagiamu.” Kata mas Bagas setelah meneguk segelas minuman di hadapannya.

“Maafkan aku juga mas, tidak bisa selalu ada di samping mas Bagas di rumah dinasmu, mas.” Jawabku dengan jawaban cukup panjang kali ini.

“Hmm, mari kita bangun semuanya dari awal lagi. Aku akan pindah ke rumah kita mulai bulan depan. Permintaanku untuk mutasi disetujui. Kamu tidak akan kesepian lagi, Dik.” Kuucapkan rasa syukur dalam hatiku atas berita bahagia itu. Rumah kami mungkin akan hidup kembali.

Kami kembali pulang setelah menghabiskan separuh malam yang berkesan ini. Esok hari suamiku harus kembali mengendarai mobilnya untuk kembali ke kota tempat dia beraktivitas.

***

“Bojoku sing ayu dewe, masmu balik dulu ya. Tunggu kedatanganku minggu depan, kita akan berjumpa. Tak sabar aku melihat tawamu lagi.” Bisik mas Bagas di telingaku. Dia tidak mau membangunkanku dari tidur nyenyakku. Hanya kecupan di kening sebagai pertanda dia pamit.

“Iya Mas, hati-hati di jalan. Kabari kalau sudah sampai.” Jawabku yang masih dengan mata terpejam. Kulirik jam weker di sebelah kasur empukku. Pukul 03.30. Aku kembali terpejam.

Hingga...

“Halo, dengan Ibu Bagas?” tanya suara di seberang telepon yang suara deringnya membangunkanku.

“Iya.” Jawabku dengan kantuk masih menggelayut. Pukul 05.30. Aku sedang berhalangan, jadi tidak ada kewajiban shalat yang harus kukerjakan.

“Ibu, ini dengan kepolisian, ingin mengabarkan bahwa suami Ibu, Bapak Bagas Pratama baru saja menjadi korban kecelakaan beruntun di tol. Dan maaf nyawa suami Ibu tidak dapat diselamatkan...”  

Tetiba hanya suara ngung ngung ngung yang bisa aku dengar di telepon genggamku. Aku yang baru terjaga merasa limbung, makanan di dalam perutku serasa ingin keluar. Tangisku pecah. Suamiku yang harusnya datang minggu depan dengan senyuman terbaiknya, kini telah tiada. Janji kami untuk memulai lagi rumah tangga kami yang hambar ini tidak dapat terwujud. Maafkan aku mas. Apakah aku istri yang buruk bagimu? Apakah kamu bahagia denganku? Pertanyaan yang belum sempat kulontarkan padanya malam tadi. Hanya akan meninggalkan sesal berkepanjangan di kalbuku. Ternyata malam tadi adalah pertemuan terakhirku denganmu. Aku mencintaimu mas Bagas.


Rabu, 09 Oktober 2019

HUJAN


Sumber gambar pinterest




Catatan:
Sungguh berat tantangan ODOP kali ini, aku yang tidak jago membuat puisi harus memutar otak 360° (kebayang ga ya? 😂).
Lalu aku teringat curahan hati seorang teman baikku, yang wajahnya selalu tersenyum, namun hatinya teriris. Aku selalu menganggap dia adalah wanita kuat dan hebat, dia bertahan demi kedua permata hatinya. Doaku yang hanya bisa mengiringinya, semoga Allah azza wa jalla memberikan kado terindah sebagai jawaban di setiap ratapan tangis dan rapalan doa yang kau ucapkan.


#tantangan_ODOP_pekan5
#odopbatch7
#puisi_hujan
#kelasmenulis

Selasa, 01 Oktober 2019

JANGAN PERNAH BERTANYA “APA KABAR?” PADAKU (part 1)


“Cu’, aku putus lagi dengan Luki” kataku kepada Armand di telepon. Suara isak tangisku memenuhi gendang telinga dia. Hatiku porak poranda.  

“Larilah bersamaku, Nek. Sebutkan mau kemana kamu pergi, aku akan menemanimu.” Ajak suara di ujung telepon spontan. 

Dialah Armand, teman baikku yang selalu hadir menjadi “tempat sampah” perjalanan hidupku. Hampir semua kebahagiaan, keceriaan, kesedihan, kegalauan kutumpahkan padanya. Kupanggil dia Cucu, dan dia memanggilku Nenek. Sedekat itu hubungan kami, sampai-sampai kami memiliki nama panggilan untuk masing-masing.  

Seperti hari itu ketika pecah tangisku karena aku baru saja break dengan Luki, lelaki yang telah menjadi kekasihku selama satu setengah tahun ini. Hubungan kami memang tidak berjalan mulus, putus-sambung sudah menjadi topik utama bulananku dengan Armand.

Armand lelaki yang sangat perhatian dan baik padaku. Pertemanan kami tulus, tanpa ada embel-embel suka di dalamnya. Yang kutahu dia juga sudah memiliki pujaan hati, Vero namanya. Hubungan dia dengan Vero juga 11-12 denganku. Selalu saja ada pertengkaran-pertengkaran tidak penting diantara mereka. Aku tahu, karena aku juga menjadi “tempat sampah” Armand tentang kehidupan pribadinya.

Beberapa jam yang lalu aku dan Luki bertengkar hebat. Lagi-lagi dia mempermasalahkan sikapku yang masih kekanakan. Dia berujar kalau aku ini tidak bisa diatur, semau sendiri, egois. Luki lelaki yang pengertian sebenarnya, aku tahu dia mencintaiku meskipun banyak sekali kekuranganku di matanya. Sepertinya dia sudah tak tahan dengan ulahku kali ini. Kami berdebat sampai kalimat “Oke, kita break saja dahulu” lagi-lagi terlontar darinya.

Entah untuk kali keberapa kata-kata putus terucap, tetapi kali ini aku menghibah agar jangan putus. 

“Jangan Luk, please, jangan putus lagi. Kita sudah mempersiapkan acara pernikahan kita. Please. Aku mengaku aku yang salah memang, aku janji ga akan seperti ini lagi.” Hibahku kepada Luki agar menarik kembali ucapannya. 

“Ga tau lagi aku Na. Kamu terlalu bebal, aku takut kalau kita teruskan rencana pernikahan ini, kegagalan yang akan kita hadapi.” Jawabnya. 

Hatiku sakit, dadaku sesak, otakku tidak bisa berpikir jernih. Luki berlalu dalam diam. Aku menangis sejadinya, tanpa suara.

Dan ajakan “Larilah bersamaku, Nek. Sebutkan mau kemana kamu pergi, aku akan menemanimu” itu, nyaris membuatku berkata “Iya, ayo Cu.” Namun logikaku berkata lain. 

“Mengapa kamu mengajakku pergi, Cu?” tanyaku masih dengan  isak tangis. 

“Aku juga sedang kacau. Hehe. Kita senasib. Vero menghilang lagi.” terang Armand. Rupanya dia juga sedang terluka batin dan pikirannya. 

“Owh.” Jawabku lirih.

"Maaf Cu, kalau aku meneleponmu di saat yang tidak tepat.” lanjutku kemudian. 

“Aku menyukai kamu, Nek.” 

(...)



Bersambung. 

Jumat, 27 September 2019

SEBUAH KISAH TENTANG GIZI SEIMBANG

Makanan Gizi Seimbang
(sumber gambar : 
klik di sini)


Di suatu pagi yang cerah, tampaknya telah terjadi suatu perdebatan. Perdebatan yang seru untuk menentukan siapa yang lebih unggul antara satu dengan lainnya. Perdebatan yang terjadi antar beberapa kubu.
Kubu karbo yang terdiri dari Oryza, Patata, dan Tela. Kubu prohena yang terdiri dari Fishy, Nutty, dan Eggy. Kubu fruti-vegie yang terdiri dari Berry, Mago, dan Kalea. Mereka tampak saling menyombongkan manfaat mereka bagi tubuh manusia.

“Karbo yang paling penting.” Kata Oryza. “Iya, tim karbo adalah bahan makanan utama bagi manusia. Tanpa karbo, manusia tidak akan kuat menghadapi kegiatan mereka sepanjang hari. Manusia butuh energi dan kami bisa memenuhinya” Lanjut Patata. “Hidup tim karbo.” Seru Tela.

“Ahhh, tanpa prohena, manusia tidak bisa tumbuh dan berkembang, karena fungsi kami sangat diperlukan untuk proses pembentukan tulang, otot, tulang rawan, kulit, dan darah.” Kata Nutty tidak mau kalah.“Kalau manusia ingin tetap sehat, harus banyak-banyak makan prohena. Karena kita akan membentuk antibodi sebagai sistem kekebalan tubuh manusia.” Terang Fishy bersemangat. “Kita sangat diperlukan bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan. Benar kan teman-teman?” Lanjut Eggy meyakinkan. “Iya benar” Jawab Nutty dan Fishy bersamaan.

“Hai karbo dan prohena, kami dari tim fruti-vegie juga bermanfaat bagi tubuh manusia tau!” seru Mago tidak mau kalah. “Kami ini kaya akan serat dan vitamin. Kami dapat menunjang metabolisme tubuh manusia agar selalu sehat setiap hari.” Lanjut Berry dengan riang gembira. “Vitamin yang kami bawa amat baik untuk mata, kulit, jantung, bahkan otak. Hebat kan kami.” Kata Kalea berbinar-binar. “Tidakkah kalian lihat, kami berwarna-warni seperti pelangi. Ada merah, hijau, jingga. Cantik sekali.” Kalea menambahkan dengan senyum indah merekah.

“Pokoknya, tim Karbo yang paling penting.” Seru Patata gembul dengan lantang.
“Hohoho. Tidak bisa, tim kami, Prohena yang paling dibutuhkan.” Jawab Eggy yang berbentuk oval lucu sambil tertawa.
“Fruti-vegie dong, sudah cantik-cantik, kaya manfaat pula. Kurang apa lagi kami.” Sahut  Berry yang imut dengan suaranya yang merdu.
“Karbo.”
“Prohena.”
“Fruti-vegie.”

Mereka saling bersahut-sahutan, karena masing-masing tim merasa yang terhebat dan memiliki manfaat yang lebih baik bagi tubuh manusia. Hingga tiba-tiba, muncullah gadis cilik manis berambut ikal  mencoba melerai kegaduhan dan menjadi penengah mereka. Reva, nama gadis cilik bermata bulat itu.

“Berhenti berdebat teman-temanku. Taukah kalian, aku sungguh menyukai kalian semuanya tanpa membeda-bedakan dari mana tim kalian datang.” Seru Reva dengan tatapan mata sendu.”Tanpa karbohidrat aku akan lemah tak bertenaga. Tanpa asupan protein nabati ataupun hewani, aku akan mudah dijangkiti penyakit. Dan tanpa  buah sayur aku tidak akan tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat.” Lanjut Reva menjelaskan.

“Kalian semua sangat berguna bagi kami manusia. Tubuh kami membutuhkan segala macam nutrisi yang bisa didapatkan dari kalian semua. Jadi, jangan bertengkar lagi ya.” Bujuk Reva. Dan siap yang bisa menolak ajakan dari gadis kecil semanis Reva.

“Benarkah demikian Reva?” tanya Oryza yang paling kecil diantara teman satu timnya. “Tentu saja, Oryza.” Jawab Reva meyakinkan. “Ayo teman-teman berkumpullah di dekatku.” Dan tanpa banyak tanya, mereka semua berkumpul di dekat Reva. “Jadi, mulai sekarang kalian jangan bertengkar lagi ya. Ingatlah, bahwa kalian semua bermanfaat. Oke.” Kata Reva sambil memeluk mereka semua.

Jadi anak-anakku di seluruh penjuru negeri. Makanlah makanan yang bergizi seimbang agar tubuh kita menjadi sehat dan kuat. Dengan memakan makanan bergizi seimbang, kalian akan tumbuh menjadi anak-anak Indonesia yang cerdas dan menjadi generasi penerus bangsa yang hebat.

Senin, 23 September 2019

MEMANTASKAN DIRI (CERPEN)

Entah sudah berapa kali aku mengalami jatuh bangun dalam urusan percintaan. Banyak lelaki datang dan pergi, tetapi mereka hanya bisa menyisakan luka di hatiku. Sampai-sampai aku merasa takut jika akan memulai suatu hubungan baru dengan lawan jenisku. Takut dikecewakan lagi.

Ada belasan nama mulai dari Feri, Dodit, Tito, Iman, Wahyu, Seta, Bram, Andreas, Yoga, Riki, Awang, Zaki hingga nama-nama lain yang aku tidak mengingatnya. A-Z  ada lah pokoknya. Bukan, aku bukan pengoleksi pacar, apalagi player. Suatu ketika salah satu sahabatku, Astri, iseng bertanya padaku, “Aku heran deh, wajahmu tuh  standar Mic, tapi kenapa tuh cowo-cowo pada suka ma kamu?”. “Untung kamu sahabatu, kalau bukan, sudah tak slepet kamu” pikirku dongkol. Dikira aku ini helm apa, standar. “Pernah denger istilah inner beauty kan? Ya itulah daya pikatku. Dan kalau saja kamu telaten menatap wajahku, lama-lama aku terlihat manis kok.” balasku tak terima.

Ironisnya, di sini aku yang selalu dicampakkan. Dicampakkan dengan alasan sudah tidak ada kecocokan lah, diselingkuhi lah, cuma di-PHP-i lah, akunya yang egois lah, aku yang tidak pengertian lah, dan ratusan alasan lainnya. Yang paling parah adalah diputuskan karena alasan “Aku sudah bosan nih”. “What?” Dia pikir aku ini barang apa, sudah bosan, buang. “Plak” tamparan di pipi mantan pacarku kala itu,  Satria namanya, menandakan akhir hubungan kita. Nama yang berbanding terbalik dengan sikapnya. Huh.

Saat ini aku sudah di titik, dimana aku ingin segera mengakhiri nasib burukku berhubungan dengan pria yang hanya sampai level “pacaran” saja. Aku ingin segera dipertemukan dengan lelaki berkuda putih bak cerita-cerita dongeng. Ya tidak harus seseorang yang benar-benar datang dengan menaiki kuda putih, maksudku seorang lelaki yang bisa membimbingku, melindungiku, mengayomiku. “Cari polisi aja, Mic.”, usul sahabatku Astri. “Sesuai motto mereka kan, melindungi dan mengayomi masyarakat.” Lanjut dia asal. Dia memang sangat membantu, membantu memperkeruh suasana hatiku. Tepok jidat.

Hingga pada suatu pagi ketika aku berangkat ke kantor, aku bertemu dengan teman kuliahku dahulu di halte bus, Afika namanya. Dipertemukan kembali setelah lima tahun lamanya. Penampilannya berubah total, gamis dan khimar telah menutup sempurna auratnya. Meskipun demikian dia tetap terlihat anggun. Ternyata dia sudah hidup bahagia bersama pangeran berkuda putihnya lengkap bersama putri kecilnya. Aku iri.

Waktu dia bertanya tentang marital status padaku, dengan lirih kujawab, “Jomblo”. “Hah? Serius?” tanyanya tidak percaya. Mengingat historiku yang gonta-ganti pacar, memang cukup membuat dia ternganga. “Hehe” sengiran kuda aku layangkan sebagai balasan. “Nunggu apa, Mic? Cantik, mapan, matang. Kurang apalagi?” tanyanya masi berlanjut. Apakah jawaban “Jomblo”ku tadi terlalu lirih, sampai-sampai dia tidak mendengarnya? Pikirku. “Ya kurang lakinya lah Fik.” Jawabku gemas. “Masa iya nikah tinggal nyeret sembarang laki, Fik” lanjutku masi sewot. “Hihihi, iya iya. Taaruf gih” usulnya sambil tersenyum.

“Pantaskan dirimu sebelum kamu memantaskan diri untuk orang lain. Mulailah perbaiki diri karena Allah, maka Allah akan menghadirkan pria yang terbaik untuk kamu.” Tiba-tiba Afika berkata demikian. Wah pagi-pagi diceramahi, pikirku sinis. “Sering lihat Golden Way nih” sindirku. “Bukan pak MT, tapi kutipan Arif Rahman Lubis” koreksinya. “Berhijrahlah, Mica. Assalamu’alaikum.” Katanya mengakhiri pertemuan singkat kami, karena bus tujuan dia telah sampai.

Dan di sinilah diriku, berada dalam suatu kajian as-sunah. Berhijrah, kata yang tak pernah terlintas dibenakku sebelumnya. Hidayah Allah memang bisa turun kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja. Aku bersyukur pagi itu bertemu dengan teman lamaku, yang membawaku kepada kebaikan.

Aku memang belum bertemu jodohku sampai hari ini. Aku masih memperbaiki diriku, meminta ampunan kepada Allah atas semua kekhilafan masa laluku. Tiba-tiba, “Mic, ini ada tiga CV dari tiga orang akhi. Sepertinya banyak yang tertarik dengan CVmu.” Sambil tersenyum Afika menjulurkan tiga map coklat padaku. Aku masih melongo, tidak percaya. Apa iya, wanita dengan masa lalu sepertiku ada yang tertarik. “Serahkan semua pada Allah, tidak ada yang berhak menghakimi hamba Allah yang sudah bertaubat.” Kata-kata Afika menenangkan hatiku. Rupanya dia bisa membaca pikiranku.

“Bismillahirrohmanirrohim.” Bisikku. Dengan hati berdebar, perlahan kubaca satu demi satu CV taaruf yang ada di tanganku. Berharap ridha Illahi, semoga salah satu dari tiga akhi ini adalah pangeran berkuda putih impianku. Ups, salah. Semoga salah satu dari tiga akhi ini adalah calon imam dunia akhiratku. Allahumma amin.