Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ILMU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ILMU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Februari 2020

ALLAH YANG MAHA MENGETAHUI, LEBIH TAU KAPAN ENGKAU HARUS BAHAGIA


Setiap umat yang masih diberi nikmat menghirup udara di dunia ini pasti ingin merasakan kebahagiaan dalam hidup. Siapa sih yang tidak ingin hidup bahagia? Lalu bagaimana sebenarnya definisi hidup yang bahagia itu? Hidup berkecukupan materi? Hidup menggenggam kekuasaan? Atau hidup dengan penuh kesyukuran?

Namun, selama manusia hidup di dunia, tidak melulu kebahagiaan yang akan dia terima. Allah azza wa jalla pasti akan memberikan ujian bagi hamba-hamba-Nya. Tidak ada satupun manusia yang luput dari ujian dan cobaan. Bahkan Rasulullah, sebagai hamba pilihanpun, hidupnya penuh dengan ujian yang berat.

Lalu, apa yang akan dilakukan ketika kita didera berbagai macam ujian yang datang silih berganti? Akankah menyalahkan Allah, menyalahkan keadaan, atau menyalahkan orang lain? Ketahuilah, tidaklah Allah memberikan ujian adalah karena ingin melihat seberapa besar ketakwaan seorang hamba kepada Allah. Allah telah memberikan jaminan akhir yang bahagia bagi orang-orang yang bertakwa, seperti yang telah tertulis di QS. Al A’raf 128, 
“Musa berkata kepada kaumnya: Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Dan yakinlah, bahwa janji Allah itu benar.

Seberat apapun masalah yang diberikan oleh Allah, asal kita bertakwa kepada Allah, pasti akan diberikan jalan keluar oleh-Nya. Dan apabila kita tertimpa suatu masalah, hal pertama yang kita lakukan adalah berdoa. Masalah datang dari Allah, maka mendekatlah kepada Sang Maha Pengabul doa jika ingin keluar dari suatu masalah.

Selanjutnya adalah bersabar. Anggaplah kesabaran dalam menghadapi ujian adalah sebuah tabungan kita, karena orang yang bersabar akan mendapatkan pahala tanpa batas. Seperti yang difirmankan Allah di QS. Az Zumar: 10, 
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Dan ketika hidup terasa penuh dengan masalah, lakukanlah hal ini, yaitu mendoakan kebaikan bagi saudara-saudara kita sesama muslim. Seperti sabda Rasulullah, 
“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” 
(HR. Muslim)

Di setiap ujian dan cobaan pasti ada hikmah yang dapat kita petik. Selalu berhusnuzan kepada Sang Khalik, karena Allah tau yang terbaik untuk hamba-Nya. Sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada-Nya, sebaiknya kita berdoa, bersabar, bertawakal dalam menghadapi setiap ujian dari Allah azza wa jalla. Ikuti alurnya, nikmati prosesnya, karena Allah Yang Maha Mengetahui, lebih tau kapan kita harus bahagia.


(Dikutip dari kajian khusus muslimah di swalayan Gajah Mada pada tanggal 10 Januari 2020 yang dipandu oleh Ustaz Armedi Raharja , dengan judul yang sama.)


Jumat, 14 Februari 2020

BERHIJRAH, DARIMANA AKU HARUS MEMULAINYA?

Kajian khusus muslimah kali ini bertema hijrah, dan dipandu oleh Ustaz Armedi Raharja. Akhir-akhir ini kata-kata hijrah sering sekali muncul di berita-berita, seperti hijrah finansial, hijrah para artis, hijrah produk, dan hijrah-hijrah yang lainnya. Hijrah, apa sebenarnya hijrah itu?

Sebelum membahas lebih jauh tentang apa itu hijrah, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah melaksanakan semua perintah Allah dengan baik dan benar? Sudahkah kita menjauhi larangan-larangan Allah? Atau kita masih melanggar apa-apa yang jelas-jelas dilarang oleh Allah? Padahal setiap perbuatan maksiat yang kita lakukan pasti akan ada konsekuensinya.

Kadangkala ketika tertimpa suatu musibah, kita menyalahkan keadaan atau menyalahkan orang lain. Lantas pernahkah kita mengoreksi diri sendiri, jika musibah yang kita terima semata-mata karena dosa yang pernah kita buat.

Namun, bukan hal yang sulit bagi Allah memberikan suatu hidayah kepada hamba-Nya. Dan ketika hidayah itu datang kepada seseorang, itu adalah sebuah nikmat, karena datangnya hidayah adalah bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya. Berhijrah adalah salah satu bentuk hidayah Allah.

Hijrah, secara harfiah berarti meninggalkan. Hijrah secara pengertian memiliki dua makna.
Yang pertama ‘Hijrah Fisik’ yang memeiliki makna berpindah tempat dari suatu wilayah yang banyak fitnah, ke wilayah yang lebih baik.

Yang kedua adalah ‘Hijrah Maknawi’ yang memiliki makna meninggalkan segala macam kemaksiatan untuk menuju ketaatan dan berjanji tidak kembali kepada kemaksiatan tersebut. Seperti sabda Rasulullah, “Orang-orang yang berhijrah dengan sesungguhnya adalah orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah” (HR. Bukhari Muslim).

Tak sedikit dari saudara, teman, sahabat, atau keluarga kita yang masih kebingungan tentang bagaimana cara untuk mulai berhijrah. Berikut langkah-langkah yang perlu kita lakukan untuk berhijrah.

Langkah pertama, taubatan nasuha. Yaitu dengan memohon ampunan hanya kepada Allah azza wa jalla. Yakinlah bahwa Allah Maha Pengampun. Allah mampu mengampuni segala dosa hamba-hamba-Nya, kecuali satu, dosa syirik. Seperti yang tertulis dalam QS A Zumar: 53 yang artinya, “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Cara melakukan taubatan nasuha yaitu :
1.        Menyesali segala bentuk kemaksiatan yang pernah kita perbuat,
2.        Berhenti melakukan kemaksiatan,
3.        Berazam (bertekad) kuat,
4.        Mengganti kemaksiatan dengan perbuatan baik,
5.        Menuntaskan tanggungan (jika berkenaan dengan hubungan antara sesama manusia), misalnya dengan meminta maaf, mengembalikan haknya, dan membicarakan kebaikan-kebaikannya.

Langkah kedua, hijrah ikhlas karena Allah. Selalu luruskan niat perbuatan kita karena Allah. Jangan melakukan hijrah karena manusia. Jikalau demikian, seiring dengan berjalannya waktu perbaiki niat kita hanya karena Allah.

Langkah ketiga, bersabar. Jika sudah berhijrah, bukan berarti kita akan terbebas dari ujian ataupun cobaan hidup. Allah pasti akan menguji hamba-hamba-Nya, karena sesungguhnya Allah ingin mengetahui kesungguhan kita dalam berhijrah. Dan seorang hamba yang taat, akan bersabar dari segala macam ujian yang ditimpakan oleh Sang Khalik.

Langkah keempat, mencari komunitas-komunitas yang positif. Karena seseorang itu tergantung dengan siapa dia bergaul, maka dari itu  carilah tempat-tempat yang mendukung kita untuk tetap istikamah dalam berhijrah, misalnya rutin mengikuti kajian-kajian ilmu (majelis taklim).

Langkah kelima, mencari ustaz yang terpercaya dan mumpuni ilmu agamanya. Kita perlu mencari ilmu syariah dari ustaz yang benar-benar memahami ilmu agamanya, Jadi perlu berhati-hati jangan sampai kita salah dalam menimba ilmu agama.

Langkah keenam, membuat skala prioritas. Hal utama yang kita lakukan setelah berhijrah adalah membenahi tauhid dan akidah. Kemudian dilanjutkan memperbaiki hal-hal yang lainnya.

Langkah ketujuh, mencari tau sebab-sebab orang masuk neraka. Sebab seseorang masuk neraka adalah karena dua hal, yaitu:
1.        Fitnah subhat, orang yang tidak mengetahui halal-haram atau tidak mengetahui baik-buruk, serta orang yang melakukan ibadah, namun salah dalam mengerjakannya
2.        Fitnah syahwat, orang yang telah mengetahui kebenarannya, namun masih melakukan kemaksiatan

Langkah terakhir, memperbanyak doa kepada Allah azza wa jalla. Tiada Tuhan yang wajib kita sembah selain Allah, Dialah yang Maha Mengabulkan doa-doa kita. Allah yang Maha Mengetahui isi hati kita, jadi teruslah berdoa kepada Zat yang Maha Membolak-balikkan hati manusia agar selalu berada di jalan-Nya.

Berhijrah bukan hanya sekadar meninggalkan kemaksiatan saja, tetapi kita dituntut untuk tidak kembali lagi kepada kemaksiatan. Mari berhijrah di segala aspek kehidupan secara kafah. Allah telah menjanjikan ampunan dan mengganjar surga bagi siapa saja yang mau berhijrah.

Mari berhijrah, dengan berhijrah in syaa allah kita akan menemukan ketenangan hidup. Jangan menunda-nunda untuk berhijrah, semakin lama kita menundanya akan semakin keras hati kita. Semoga Allah, Maha Pemberi Karunia, memberikan kemudahan jalan bagi orang-orang yang berhijrah. Wallahu’alam.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 
(QS Al Baqarah: 218)

Jumat, 07 Februari 2020

MENGOLOK-OLOK DAN BERSENDA GURAU TERHADAP AGAMA ALLAH, APA JADINYA?


Assalamualaikum, wah sudah lama sepertinya aku tidak menulis tulisan tentang kajian agama ya. Sebenarnya ada beberapa materi kajian yang siap untuk kubagikan, tapi ke(sok)sibukanku di dunia nyata lagi-lagi menyita waktu menulisku.

Oke, karena ini hari Jumat, maka akan membagikan materi kajian yang bertema  ‘Mengolok-Olok Dan Bersenda Gurau Terhadap Agama Allah’. materi kajian agama kali ini dipandu oleh Ustaz Subhan yang menukil dari kitab Nawakidhul Islam, yaitu kitab yang menjelaskan hal-hal apa saja yang menjadi pembatal-pembatal keislaman seseorang.

Dijelaskan oleh Ustaz Subhan, bahwa salah satu pembatal keislaman seseorang aalah karena menjadikan agama Allah sebagai bahan olok-olok.  Akhir-akhir ini memang banyak sekali dijumpai orang-orang yang menjadikan agama Allah yang suci ini sebagai bahan guyonan atau permainan. Secara sadar atau tidak, kadangkala kita menemukan olok-olokan tentang agama Islam baik di dunia maya (sosial media) maupun di dunia nyata.

Lalu bagaimana hukumnya jika sesorang tersebut mengolok-olok atau bersenda gurau terhadap agama Allah? jawabannya sudah pasti berdosa, dan lebih parahnya, syahadat yang telah diucapkan seorang hamba tersebut akan batal (menjadi kafir). Astaghfirullah, nauzubillahiminzalik ya teman-teman. 

Dikisahkan di zaman  Rasulullah, ada seorang lelaki yang berada di dalam sebuah majelis bersama para sahabat Rasul, dan Rasul kebetulan tidak berada di sana. Kemudian lelaki tersebut berkata di hadapan para sahabat yaitu, “ Tidaklah aku melihat semilsal mereka yang membaca Al Quran, namun perut mereka buncit , lisan mereka selalu berdusta, dan mereka pengecut ketika berada di medan perang.”

Lalu Abdullah bin Ummar menjawab perkataan orang tersebut dengan, “Omonganmu itu dusta dan kamu adalah seorang munafik. Sungguh ucapanmu akan kusampaikan kepada Rasulullah.”

Dan karena itulah Allah menurunkan firman-Nya dalam Al Quran surat At-Taubah ayat 65-66.

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" (At-Taubah: 65)

“Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At-Taubah: 66)

Bahkan pernah suatu kali Rasulullah mendoakan kejelekan pada orang yang telah menaruh kotoran di punggung beliau tatkala beliau salat. Beliau meminta kepada Allah agar orang tersebut meninggal karena diterkam hewan buas. Dan dikabulkanlah doa beliau oleh Allah azza wa jalla. Jadi berhati-hatilah jika akan menggunakan agama Allah sebagai bahan senda gurau.

Adapun intisari yang dapat kita ambil dari Al Quran surat At-Taubah ayat 65-66 adalah:
1.    Bahwa Allah adalah Al Alim, yaitu Zat yang Maha Mengetahui apapun yang terjadi di atas bumi. Seperti yang tertulis di dalam Al Quran Surat Hud ayat 123.
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Hud: 123)
2.    Bahwa hukum Rasulullah adalah hukum Allah. Sebagai umat yang beriman kepada Allah dan RasulNya, sudah sepatutnya kita mentaatinya. Kita tidak boleh memilah atau memilih salah satu dari hukum ketetapan tersebut karena itu adalah satu kesatuan. Jika kita taat kepada Allah secara otomatis kita harus taat kepada Rasulullah, dan jika tidak mentaati salah satunya maka tidak akan sempurna agama kita.
3.    Pentingnya menjaga lisan seseorang. Jika seseorang tidak mampu mengucapkan hal-hal yang baik, alangkah indahnya jika seseorang tersebut diam.

Ada beberapa penyebab seseorang menjadikan agama Allah sebagai bahan olok-olokan. Diantaranya adalah :
1.    Karena hasad atau iri yang timbul dalam dirinya.
2.    Karena bodoh. Yaitu orang yang mengaku Islam, namun dia tidak mengetahui hukum-hukum syariat agama.
3.    Karena kebencian terhadap agama Allah dan dia tampakkan kebenciannya dalam bentuk perilaku.
4.    Karena seseorang itu menyerupai orang kafir. Maka dari itu kita sebagai muslim dilarang untuk meneladani orang-orang kafir.
5.    Karena sebab dunia dan perhiasannya. Maka dari itu, janganlah hanya mengejar dunia saja, ingatlah juga kehidupan akhirat. Karena sejatinya, kehidupan yang sesungguhnya adalah kelak di akhirat.

Jadi, janganlah pernah sesekali mengolok-olok atau menjadikan agama Allah sebagai candaan, karena akan menjadikan orang tersebut kafir. Ingatlah bahwa Allah selalu mengawasi segala perbutan kita di dunia. Akan ada malaikat-malaikat yang mencatat amal perbuatan manusia. Berbuatlah baik semampu kita, jauhi maksiat, dan selalu mengingat Allah dimanapun dan kapanpun. Wallahualam.

Jumat, 13 Desember 2019

BAITI JANNATI



Tiap-tiap pasangan yang telah halal dalam ikatan tali pernikahan pasti mendambakan keluarga yang sakinah, mawadah, dan rahmah. Keluarga yang dipenuhi dengan kedamaian, rasa kasih sayang, serta karunia akan menciptakan suasana rumah tangga yang bahagia, hingga serasa berada di dalam surga. ‘Baiti jannati’, rumahku adalah surgaku. Siapa yang tak menginginkan kondisi rumah yang seperti demikian.

Untuk  menciptakan suasana rumah di dunia laksana di surga bukan perkara yang gampang. Akan ada saja masalah dan musibah yang datang  silih berganti untuk menguji kita. Entah itu dari si suami, istri, anak, mertua, atau bahkan dari tetangga sebelah rumah. Maka dari itu tak sedikit yang tidak dapat mewujudkan impian rumahku adalah surgaku.

Namun, ada juga pasangan suami istri yang dapat mewujudkannya. Suatu keluarga dikatakan dapat mewujudkan kondisi baiti jannati salah satu contohnya adalah ketika sang suami akan selalu merasa rindu akan rumahnya, rindu akan sambutan hangat dari anak-anaknya, rindu akan senyuman yang merekah dari bibir istrinya.

Ya, kajian khusus muslimah yang rutin diadakan setiap hari jumat, pagi ini membahas kiat-kiat untuk membangun  rumahku adalah surgaku. Materi kajian bertema baiti jannati kali ini disampaikan oleh Ustaz Armedi Raharja, Lc.

Salah satu syarat untuk membentuk rumah yang bak surga adalah pasangan suami dan istri yang bertakwa kepada Allah. Rumah yang penuh cinta kasih tentunya akan terwujud jika sang nahkoda yang tak lain adalah suaminya merupakan sosok yang salih. Dan perlu adanya sosok salihah sebagai pendukung dan pendamping yang tak lain adalah sang istri.

Bayangkan apa jadinya jika sosok suami sebagai pemimpin keluarga memiliki perangai yang tidak  baik, jauh dari Allah, dan bukan sosok yang salih, dapat dipastikan rumah tangganya akan seperti neraka. Akan banyak percekcokan, kemarahan yang berujung KDRT, bahkan mungkin berakhir perceraian di pengadilan agama.

Meskipun tak mudah, Islam telah memberikan kiat-kiat untuk membangun rumah yang bak di surga. Apa sajakah kiat-kiat tersebut?

Pertama, luruskan niat. Bagi para singlelilah yang in syaa allah dalam waktu dekat akan bertemu jodohnya masing-masing, mari niatkan menikah karena Allah, niatkan menikah karena ingin mendapatkan generasi-generasi penerus yang salih, menikah karena untuk mengantarkan diri kepada surga Allah.
Memanglah benar jika segala sesuatu itu bergantung pada niatnya. Jika niat awalnya saja sudah salah, maka akan jauh dari berkah Allah. Adapaun contoh niat yang salah misalnya adalah menikah karena harta atau menikah karena kepepet usia. Dan bagaimana bagi yang sudah terlanjur menikah? Jika niatnya belum untuk beribadah kepada Allah, segeralah ubah niat tersebut.

Kedua, pilihlah pasangan yang salih dan salihah. Seperti sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Nikahilah wanita karena empat perkara, karena hartanya, nasabnya (keturunan), kecantikannya, dan agamanya, dan pilihlah wanita yang taat agamanya maka kamu akan beruntung.”
Tidak ada salahnya memang menikahi wanita yang cantik atau kaya. Namun alangkah baiknya jika seorang lelaki menikahi wanita yang salihah. Karena kecantikan akhlak, adab, dan ilmu agama seorang wanita akan mengalahkan kecantikan dzahirnya.

Ketiga, pilihlah pasangan yang berilmu. Tentu saja ilmu yang dimaksud adalah ilmu syariat. Lelaki dan wanita yang akan menikah sebaiknya telah mengetahui tentang hak-hak dan kewajiban-kewajibannya ketika kelak menjadi seorang suami dan istri. Begitu pula seorang wanita, hendaknya memilih lelaki yang baik agamanya. Ketakwaan seseorang berbanding lurus dengan keharmonisan terhadap keluarganya.

Sebagai salah satu contohnya adalah kewajiban suami untuk menafkahi istrinya, serta kewajiban istri untuk mengurus suami, anak-anak, dan rumah tangganya. Ada pula hak-hak seorang suami yang wajib dilaksanakan oleh istrinya, salah satunya adalah seorang istri harus taat kepada suaminya. Dan istri juga berhak untuk memperoleh hak-haknya, dapat dibaca di sini 'Hak-Hak Wanita Dalam Islam'.

Keempat, berlapang dada dan mudah mengalah. Salah satu resep keharmonisan rumah tangga yang lain adalah istri yang selalu mengalah, meskipun sang suami yang bersalah. Baca pula 'Amalan-Amalan Wanita Ahli Surga' sebagai pengingat kepada para istri salihah, bahwa wanita yang sabar dan selalu mengalah merupakan sifat wanita yang kelak akan menghuni surga. Ingat ya ibu-ibu untuk selalu mengalah kepada para suami! Ada pesan dari Ustaz Armedi yang ditujukan kepada ibu-ibu peserta kajian pagi ini.

“Terkadang mengalah bukan berarti salah. Terkadang mengalah bukan berarti kalah. Namun terkadang mengalah adalah memberikan kesempatan kepada orang yang kita sayang untuk berubah.”

Kelima, memprioritaskan negeri akhirat. Rumah tangga yang bahagia, harmonis, dan penuh cinta takkan terwujud jika tanpa diiringi dengan beribadah kepada Allah. Menyamakan visi dan misi kedua belah pihak sebelum mengikat janji dalam ikatan pernikahan bahwa tujuan akhirnya adalah kehidupan di akhirat. Yaitu dengan memperbanyak membaca Al Quran, melaksanakan salat, melaksanakan puasa, menyedakahkan hartanya. Niscaya Allah akan mengucurkan berkah-Nya yang sedemikian rupa kepada bahtera rumah tangga yang demikian ini.

Demikianlah kiat-kiat yang disampaikan oleh pemateri untuk menciptakan sebuah baiti jannati. Mungkin mudah bagi seorang suami untuk membelikan sang istri sebuah rumah. Namun apakah rumah yang dia belikan telah berhasil menciptakan sebuah surga kecil bagi rumah tangga yang sedang diarunginya? Mari jadikan ini semua sebagai kontemplasi. Riak-riak kecil akan selalu datang menghampiri, dan tetap yakinkan diri bahwa Allah akan selalu memberikan petunjuk bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh berada di jalan-Nya. Wallahualam.

Minggu, 08 Desember 2019

TAHSIN AL QURAN


Di tulisan sebelumnya, aku telah menulis beberapa hak-hak yang diperoleh seorang muslimah dalam Islam. Salah satunya adalah hak untuk menuntut ilmu, karena Rasulullah pernah bersabda bahwa menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan (HR. Ibnu Majjah). Dan adapun ilmu yang diprioritaskan untuk dipelajari adalah ilmu syariat islam, ilmu yang berasal dari kalamullah (Al Quran), hadist, serta, perkataan para sahabat.

Sejak dua tahun yang lalu, tepatnya ketika mengandung anak kedua, di penghujung  tahun 2017 aku mengikuti kelas memperbaiki bacaan Al Quran. Lebih tepatnya aku mengikuti kelas tahsin. Tahsin, menurut wikipedia, adalah kata dari bahasa Arab yang berarti memperbaiki, meningkatkan, atau memperkaya. Tahsin dalam Islam mengandung makna bahwa tuntutan agar dalam membaca Al Quran harus benar dan tepat sesuai dengan contohnya demi terjaganya orisinalitas praktik tilawah sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, masih menurut situs wikipedia. Jadi dalam membaca Al Quran, kita tidak boleh asal bisa membaca saja, namun juga harus memperhatikan tajwid dan makhraj tiap huruf-huruf hijaiyah.

Masih kuingat hari pertama mengikuti kelas tahsin yang didampingi oleh guru mengaji yang cukup mumpuni,  kami berenam kala itu, dan saat disuruh membaca AlFatihah, hasilnya 80% bacaanku salah. Ya Allah, jadi selama bertahun-tahun aku membaca sang ummul quran masih banyak kesalahannya (kemudian istighfar banyak-banyak). Kukira, aku yang telah mengikuti les mengaji semenjak kecil, bacaannya sudah betul semua (duh, kepedean sekali ya). Kata Ustazah Iffah, guru tahsin kami, itulah pentingnya belajar ilmu tajwid.

Ilmu tajwid adalah ilmu yang mempelajari bagaimana cara membaca Al Quran dengan lafal dan ucapan yang benar. Belum lagi kami harus memperbaiki makhraj setiap huruf hijaiyahnya. Makhraj adalah tempat keluarnya huruf hijaiyah yang menjadi dasar kata-kata di dalam Al Quran. Ustazah Iffah mengatakan, panjang pendeknya tajwid serta makhraj bacaan kita alangkah baiknya jika benar, karena beda pelafalan atau pengucapannya maka akan berbeda pula artinya. Al Quran banyak mengandung doa, kita tidak mau kan jikalau dalam berdoa dengan maksud memperoleh kebaikan, tetapi karena kesalahan bacaan artinya jadi buruk (hiks).

Namun aku tak sendiri, teman-teman yang mengikuti kelas tahsin juga bernasib hampir sama denganku. Masih banyak kesalahan-kesalahan baik besar maupun kecil. Ya, itulah gunanya belajar. Kita benar-benar belajar dari yang paling dasar, kita belajar dengan menggunakan  buku Ummi jilid 1. Kita mengawalinya dengan memperbaiki makhrajnya, dengan disisipi pelajaran tajwid satu per satu di setiap pertemuannya. Mengingat kembali hukum tajwid yang pernah dipelajari ketika sekolah, yang rupanya ingatan akan pelajaran tersebut sudah mulai terhapus karena faktor usia. Syukurlah kita mendapatkan guru mengaji yang super telaten dan super sabar. Walaupun lidah kita sudah belibet mengucapkan suatu huruf, jika masih salah akan tetap dibenarkan sampai betul-betul benar.

Teman-temanku di kelas tahsin sebagian besar adalah ibu-ibu. Dan aku kagum dengan semangat belajar ibu-ibu yang luar biasa besar, maa syaa allah. Mereka menyempatkan waktu mereka di sela-sela kesibukan mereka dengan dunia perumahtanggaan atau dunia perkantoran agar bisa belajar membaca Al Quran dengan baik dan benar. Memang benarlah bahwa tidak ada kata terlambat bagi siapa saja yang mau belajar dan Allah pasti akan memberikan kemudahan jalan kepada orang-orang yang mau belajar.

Daripada menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berfaedah, lebih baik jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna. Di setiap akhir kelas, ustazah selalu memberikan PR tajwid untuk dikerjakan, serta mengingatkan untuk tetap membaca Al Quran, dan lebih-lebih jika mau menghafalkannya. Salah benar tidak mengapa, Allah Maha Mengetahui, asal tidak meninggalkannya. Karena di setiap huruf Al Quran yang kita baca, kita akan memperoleh pahala. Wallahualam.

“Perumpamaan orang yang membaca Qur’an sementara dia telah menghafalkannya, maka bersama para Malaikat yang mulia. Dan perumpamaan yang membaca dalam kondisi berusaha keras (belajar membacanya) maka dia mendapatkan dua pahala.”  
(HR. Bukhori, 4653 dan Muslim, 798)


Sabtu, 07 Desember 2019

HAK-HAK WANITA DALAM ISLAM


Alhamdulillah, segala puji aku panjatkan kepada Allah azza wa jalla karena masih melimpahkan segala nikmat dan karunia-Nya kepadaku dan keluargaku. Tak terasa sudah memasuki hari jumat kembali. Salah satu hari yang aku tunggu-tunggu kedatangannya, pasalnya setiap hari jumat aku akan menimba ilmu di kajian khusus muslimah yang diadakan oleh salah satu swalayan yang ada di kotaku.

Selayaknya minggu-minggu sebelumnya, materi kajiannya seputar wanita. Dan hari jumat ini akan membahas tentang hak-hak wanita dalam Islam yang  akan disampaikan oleh Ustaz Muhammad Luthfi. Setelah beres dengan masalah domestik rumah tangga dan mengantarkan duo salihku ke madrasah masing-masing, aku segera meluncur ke tempat kajian bersama teman-temanku.

Pukul 8 lebih sedikit acara rutin satu mingguan inipun dimulai, rupanya pak ustaz sudah datang lebih awal dari para pesertanya. Luar biasa. Dan antusias pesertapun semakin tinggi, terbukti makin bertambahnya peserta kajian dari minggu ke minggunya. Masyaa allah, tabarakallah ya emak-emak salihah.

Sebagai intronya, Ustaz Luthfi hak-hak yang diberikan Islam kepada para wanita adalah sekaligus sebagai bantahan atas tudingan yang menganggap Islam mengungkung para kaum Hawa. Disebutkan  pula oleh Ustaz Luthfi bahwa sebelum kehadiran Islam, wanita dianggap tidak ada harganya, kedudukannya sangat rendah, dicampakkan, bahkan wanita dianggap tidak ada keutamaannya sama sekali. Intinya, beberapa bangsa di  belahan dunia, masih menganggap wanita makhluk yang hina. Astaghfirullah, aku miris mendengarnya.

Kemudian hadirlah Islam yang mengubah stigma yang salah tersebut. Kenyataannya, Islam sangat menghormati dan menghargai kedudukan seorang wanita. Baik tak perlu berlama-lama lagi, akan aku ringkas materi kajian tentang hak-hak wanita dalam Islam.

1. Hak memperoleh pahala yang setara dengan pria
Allah telah berfirman di dalam al quran yang menyuruh hamba-hamba-Nya agar berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan. Allah menyuruh seluruh manusia, tanpa memandang gender, untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya dalam hal beribadah. Salah satu pahala yang besar adalah berjihad, dan taukah wahai para wanita, jihad kita tidak perlu dengan menenteng senjata dan maju ke medan perang. Jihad wanita ada dimana-mana, contohnya adalah melalui kehamilannya dan melakukan ibadah haji.

2. Hak mendapatkan kemuliaan di sisi Allah
Yang membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya adalah dalam hal ketakwaan. Allah tidak pernah memandang bulu, baik pria atau wanita, sama saja di hadapan Sang Rahman Rahim. Seperti yang tertuang dalam Al Quran surat Al Isra 70 yang artinya, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

3. Hak memperoleh warisan
Dalam Islam, wanita juga berhak untuk mendapatkan warisan. Wanita akan mendapatkan harta warisan separuh, dan pria akan mendapatkan warisan secara utuh. Namun, dibalik utuhnya pembagian warisan yang diterima oleh kaum pria adalah karena kaum pria harus menafkahi istrinya. Maka dari itu pria mendapatkan lebih banyak untuk kemudian diberikan kepada wanitanya, jadi wanita dalam hal ini akan mendapatkan lebih banyak dibandingkan pria. Bahkan wanita tidak perlu membagi harta warisan yang  diperolehnya. Hebatnya lagi, wanita berhak untuk mendapatkan rumah dari suaminya. (Pada senang pasti nih.)

4. Hak untuk menuntut ilmu
“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim”, begitulah sabda Rasulullah kepada umatnya. Wajib bagi setiap muslim, baik pria maupun wanita. Tentu saja ada adab-adab bagi para wanita yang menuntut ilmu. Diutamakan adalah menuntut ilmu agama yang bersumber dari kalamullah, sabda Rasulullah, dan perkataan para sahabat.

“Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya untuk menuju surga”. Nah, menarik bukan, selain mendapatkan ilmu, kita akan dimudahkan untuk menggapai surga Allah. Namun, ada adab menuntut ilmu yang harus diperhatikan juga, sesuai dengan adab-adab islami, misalnya tidak ada ikhtilat ataupun khalwat.

Dikarenakan keterbatasan waktu,  Ustaz Luthfi hanya menyampaikan 4 poin saja. Untuk hak-hak wanita  selanjutnya, aku lanjutkan dengan mengambil kajian yang disampaikan oleh Ustaz Sholahuddin, dalam materi yang sama, tetapi di WAG SM G-P83.

5. Hak untuk menentukan mahar
Wanita berhak untuk menentukan mahar dari pria yang  akan dinikahinya. Namun ciri-ciri wanita yang berkah adalah wanita yang mudah maharnya. Meskipun bukan suatu aib juga jikalau sang mempelai wanita menentukan suatu mahar yang dikehendakinya. Hal ini sejalan dengan firman Allah di surat An Nisa ayat 4 yang berbunyi, “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”.

6. Hak mendapatkan nafkah dari suaminya
Sudah kewajiban bagi suami untuk memberikan nafkah lahir dan batin kepada istri. Hendaklah para suami mempergauli para istri dengan baik, memberikan kebutuhan sandang dan pangannya, dan memberikan wasiat atau wejangan atau nasihat dengan cara yang makruf. Janganlah bertindak kasar kepada kaum wanita ya wahai kaum Adam.

7. Hak untuk mendapatkan pengasuhan anak
Hak ini diberikan bagi wanita yang sedang mengalami kasus perceraian. Jika pasangan suami –istri akan bercerai, maka sang istri berhak mendapatkan hak pengasuhan anak ketika usia sang anak masih kecil, masih belum tamyiz (belum dapat membedakan baik buruknya suatu hal). Hak pengasuhan anak sebaiknya diberikan kepada orang yang bertakwa kepada Allah, karena pengasuhan anak tidak hanya secara fisik saja, namun juga pengasuhan secara mental dan pengasuhan terhadap akhlak, akidah, serta ibadah sang anak. Jika ibunya wanita yang salihah, pengasuhan dapat diberikan kepada ibuny, dan sebaliknya. Dan jika keadaannya sama-sama orang tua yang salih, hak pengasuhan tetap diberikan kepada ibunya.

Demikianlah beberapa hak-hak yang dapat diperoleh wanita dalam Islam. Sekali lagi Islam adalah agama yang memuliakan wanita. Sungguh beruntunglah kita yang terlahir sebagai wanita, karena ternyata banyak sekali keutamaan menjadi seorang wanita. Wallahu'alam. 

Akhir kata, semoga ilmu yang aku bagikan bermanfaat dan bisa membagikan kajian ilmu selanjutnya. Wassalam.


Senin, 25 November 2019

BUATLAH BIDADARI SURGA CEMBURU PADAMU



Suatu pagi di hari jumat penuh berkah tiba-tiba teman kuliahku, Meyta, mengirimkan pesan whatsapp kepadaku. Rupanya temanku mengirimkan sebuah pesan yang diteruskan, yang entah siapa gerangan orang yang  membuat pesan tersebut kali pertama. Awalnya aku membacanya sambil lalu karena ada tugas kantor yang harus aku selesaikan, hingga malam menjelang ketika tugas meninabobokan anak telah tuntas, aku kembali membaca dan mencerna pesan yang dikirimkan temanku pagi tadi.

Isinya cukup membuatku sirik hati. Bagaimana tidak, setelah kucerna dengan baik, pesan tersebut ternyata ditujukan kepada para istri. Taukah engkau wahai kaum Hawa, bahwa bidadari yang berada di surga mengecam para istri yang menyakiti hati suaminya?

Lah kok bisa? Pasti ada yang bertanya demikian. Tentu saja bisa, karena sejatinya suami suami yang mendampingi kita di dunia semata-mata hanyalah titipan, seperti halnya harta, tahta, serta anak-anak kita. Jika suami kita berperilaku salih selama di dunia, kelak dia akan didampingi oleh Huru’in, sang bidadari bermata jeli. Nah loh, lalu kita, sebagai istrinya bagaimana nasibnya? Jangan sedih ibu-ibu, kita bisa juga menjadi bidadari yang mendampingi suami kita kelak di akhirat, asalkan kita menjadi istri yang salihah bagi suami selama di dunia. 

Maka dari itu menjadi kewajiban para istri untuk menaati suami. Sudah sepatutnya kita menghormati suami, karena mereka adalah pemimpin dalam sebuah bahtera rumah tangga. Dan menaati suami adalah salah satu amalan yang dapat memasukkan wanita ke dalam surga dari pintu mana saja (sudah saya tulis di sini "Amalan-Amalan Wanita Ahli Surga").

Dalam sebuah kajian yang disampaikan oleh Ustaz Khalid Basalamah di kanal YouTube, amalan pertama yang dihisab oleh Allah adalah perihal salat dan hubungan dengan suami/istri kita. Jika urusan salat dan urusan dengan suami kita baik, in syaa allah urusan yang lainnya akan dimudahkan oleh Allah azza wa jalla. Lalu bagaimana cara bagi istri untuk bisa mendapatkan rida suami? Sangat mudah sebenarnya yaitu dengan melayani mereka secara ikhlas dan penuh kasih sayang. Kurangi rasa cemburu, kurangi bersikap cerewet, dan yang paling penting selalu mengalah serta meminta maaf terlebih dahulu jika terjadi perselisihan dalam rumah tangga.

Sanggupkah kita, para istri, meminta maaf terlebih dahulu jikalau terjadi perselisihan, walaupun sang suami yang salah? Hehehe. Pasti ada yang jawab, “Idih, kan suamiku yang salah, harusnya dia duluan yang meminta maaf, aku sih ogah. Gengsi!” (eaaakkk, curhat ya Mamah Dedeh, wkwkwkwk). Namun itulah syariat yang dibuat oleh Sang Maha Mengetahui, para istrilah yang wajib mengulurkan tangan untuk memohon maaf terlebih dahulu. 

Lelaki adalah makhluk yang keras, tegas, kaku, berego tinggi, maka perlu diimbangi dengan sentuhan lembut seorang wanita. Mereka akan luluh dengan kelembutan sikap dan tutur kata kita. Bukan malah mencari siapa yang salah dan yang benar, di sini kita sedang mencari keridaan suami. Karena rida suami adalah jalan kita menuju surgaNya. Bayangkan jika ada seorang istri yang meninggal namun belum mendapat keridaan suami kita. Naudzubillah ya mak-mak salihah.

Namun, lagi-lagi akan ada pertanyaan lain seperti “Bagaimana jika sang suami yang zalim kepada istrinya?”. Jangan jawab, diretur aja bisa ga? (wakakaka, percayalah ada yang menjawab demikian saat di kajian). Diretur, macam barang saja ya si suami. Atau ada juga yang protes dengan mengatakan, “Bagaimana kalau suamiku merasa selalu benar?”.  Kemudia ada yang menjawab dengan, aku tinggal minggat aja deh (tepok jidat), dan jawaban-jawaban nyeleneh lainnya. Jangan dong mak-mak.

Menjadi tugas istri untuk mengingatkan suami agar kembali ke jalan Allah dan tidak berlaku zalim kepada keluarganya. Tak lupa juga untuk memanjatkan doa kepada Sang Maha Mengabulkan agar dibukakan hati suami kita yang telah diliputi godaan setan. Yang terakhir bersabarlah atas suamimu yang masih berlaku zalim.

Ya, tidak sulit bagi setan untuk menghancurkan suatu biduk rumah tangga manusia. Setan akan masuk kedalam celah bahkan sekecil apapun. Godaan setan inilah yang membuat suami di saat-saat awal pernikahan penuh cinta berubah menjadi penuh amarah, terjadinya KDRT, atau yang terparah suami meninggalkan syariat agama.

Adalah curahan hati seseorang, sebut saja Gifta, yang menceritakan keruhnya suasana rumah tangganya. Sudah bertahun-tahun biduk rumah tangganya laksana neraka dunia. Suami yang tidak lagi memperhatikan istrinya, minim memedulikan anak, tidak memberi nafkah lahir batin, KDRT secara verbal, dan jarang melaksanakan perintah agama. Dan yang membuatku semakin pilu, Gifta jauh dari sanak saudaranya. Dia hanya memiliki suami yang seharusnya melindungi dia dan anak-anaknya di rumah itu.

Namun apakah Gifta menyerah dengan keadaan rumah tangga yang karut marut? Tidak, dia wanita yang kuat. Walau terkadang beban berat itu ingin membuatnya menyerah, tetapi kembali dia teringat untuk terus bersabar. Dia tidak ingin dikalahkan oleh setan. Suatu kali dia bercerita, “Rasanya sudah ga kuat, tetapi kalau aku bercerai, setan akan bahagia. Si setan akan mendapatkan mahkota dari pemimpinnya kalau kami bercerai.” Maa syaa allah, semoga Allah membangunkan rumah untukmu di surga kelak, layaknya Allah membangunkan rumah di surga untuk Asiyah istri Firaun. Dan bagi istri yang dizalimi suami di dunia, kelak dia akan menjadi bidadari surga dan akan disandingkan dengannya lelaki yang salih. Sabar memang sepahit empedu, namun yakinlah buahnya semanis madu.

Apakah yang akan mak-mak lakukan jika dihadapkan dengan keadaan yang seperti Gifta hadapi? Menyerah dengan jalan bercerai atau tetap bersabar menghadapinya? Entahlah, kalau aku mungkin belum sekuat Gifta. Jika suami zalim kepada istrinya, bacalah istighfar, berusaha menutup celah agar suami tidak bersikap kasar, dan tetaplah mengalah dengan sering mengucap kata maaf. Selama suami tidak menjerumuskan sang istri untuk meninggalkan syariat islam, tetaplah berbakti kepadanya. Balaslah kezaliman suami dengan kebaikan. Beratkah mak-mak? Dijawab dalam hati saja ya.

Jadi para istri, buatlah bidadari-bidadari di surga cemburu kepadamu. Bersyukurlah jika di dunia kita telah berjodoh dengan suami yang salih. Cukuplah dengan mentaati dan berbakti kepada suamimu, maka engkau akan mendapatkan ridanya. Tiada kata-kata manis yang romantis dibandingkan dengan kata-kata, “Wahai ummi, jika kelak abi meninggal terlebih dahulu, jangan menikah lagi ya. Karena aku ingin kita kelak tetap berdampingan di surganya Allah”. Wallahualam.

Jumat, 22 November 2019

AMALAN-AMALAN WANITA AHLI SURGA




Assalamualaikum salih people. Sudah hari jumat lagi. Tak terasa hari bergulir dengan cepat. Semoga Allah selalu melimpahkan keberkahanNya kepada kita semua. Allahumma amin.

Baik, in syaa allah setiap hari jumat aku akan membagikan ilmu yang aku dapatkan dari kajian khusus akhwat yang rutin diselenggarakan setiap hari jumat juga. Pemateri  kajian kali ini diisi oleh Ustazah Rosyidah dengan tema amalan-amalan apa saja yang dapat mengantarkan wanita  menjadi ahli surga.

Pertama kali melihat flyernya saja aku sudah bersemangat. Siapa sih yang tidak mendambakan surganya Allah. Namun ternyata, surga Allah itu dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci oleh manusia. Dan begitu juga sebaliknya, neraka Allah dikelilingi oleh hal-hal yang disenangi oleh hawa nafsu manusia. Artinya adalah, jalan untuk menuju itu tidak mudah, banyak cobaan dan godaannya, yang berasal dari siapa lagi kalau bukan setan. (Yakali cobaannya gampang, hadiahnya kipas angin doang. Hihihi.)

Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”.

(HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany)

Hadis sahih yang dituturkan oleh Rasulullah saw di atas yang menjadi jaminan bahwa para wanita dapat masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan. Namun tetap ada S&K yang berlaku. Tidak banyak sih cuma melaksanakan tiga amalan saja, pasti mampu kan? In syaa allah.

Amalan  yang pertama, salat lima waktu. Sebagai muslimah yang taat dan beriman kepada Allah, sudah menjadi kewajiban kita untuk menunaikan rukun islam yang kedua ini. Shalat lima waktu merupakan perintah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh umat islam tanpa terkecuali.

Tunaikanlah ibadah salat dengan memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, dan kewajiban-kewajiban salat. Meskipun ada batas waktu tertentu dalam melaksanakan salat, tetapi  hendaknya salat fardu dilaksanakan di awal waktu karena itu merupakan keutamaan.

Sesungguhnya, mengapa salat itu terasa berat, karena setan telah memasang perangkap agar manusia bisa menemaninya masuk ke dalam neraka. Astaghfirullah. Perangkap-perangkap tersebut antara lain adalah :
·           Membiarkan manusia terlena dengan masalah mubah
·           Meremehkan hal-hal yang sunnah
·           Mengulur-ulur waktu salat
·           Mengganggu salat manusia dengan pikiran-pikiran yang bermacam-macam

Lakukanlah salat dengan tertib dan penuh konsentrasi. Semaksimal mungkin, pusatkan semua pikiran kita hanya tertuju pada Allah azza wa jalla ketika melaksanakan ibadah salat. Maka dari itu kita harus memaksa diri  agar selalu taat dalam mengerjakan kewajiban ini. Jadikan salat bukan hanya sebagai kewajiban, namun juga suatu kebutuhan, kebutuhan akan limpahan rahmat dari Sang Maha Pencipta.

Amalan yang kedua adalah, mengerjakan puasa Ramadan. Seperti halnya salat, puasa Ramadan hukumnya juga wajib dilakukan oleh seluruh umat muslim tanpa terkecuali. Bagi wanita, ada kalanya kita tidak dapat secara penuh melaksanakan ibadah puasa Ramadan karena mendapatkan tamu bulanan.

Maka dari itu, wanita yang puasanya bolong karena datang bulan, wajib mengqada puasanya di hari lain. Biasanya  ada rasa malas yang menghinggapi tatkala akan mengganti puasa Ramadan di lain hari. Terkadang alasannya karena tidak ada yang menemani dirinya untuk berpuasa. Atau ada pula alasan lupa berapa jumlah puasa yang harus diganti. Jadi mulai sekarang bagi para wanita yang belum membayar puasa Ramadannya, segera dibayar ya, jangan tunggu hingga Ramadan tahun depan tiba kembali. 

Amalan yang ketiga adalah, menaati suami. Jika dua amalan sebelumnya adalah kewajiban yang harus dilakukan seorang muslimah kepada Allah dan Rasulullah, maka amalan terakhir adalah melaksanakan kewajibannya kepada sesama manusia yaitu kepada suaminya.

Seorang wanita yang merindukan surga hendaknya dapat menjadi istri yang dapat menyenangkan hati suaminya serta menjadi penguat bagi suaminya. Wahai kaum Hawa, tidakkah kau tau bahwa kesalihan seorang istri memengaruhi kesalihan seorang suami.

Adapun tiga sifat wanita yang kelak menghuni surga. Sifat-sifat itu adalah :
·           Al Wadud, yaitu wanita yang banyak melahirkan anak (wanita yang subur)
·           Al Walud, yaitu wanita yang penuh cinta kepada suaminya
·           Al Aud ‘ala zaujiha, yaitu wanita yang selalu kembali kepada suaminya dan ketika sang istri menzalimi suaminya maka dia akan berkata “Ini tanganku dalam genggamanmu, aku tidak akan tidur hingga engkau rida kepadaku”.

Maksud dari sifat yang ketiga adalah ketika terjadi pertengkaran antara suami dan istri, kaidahnya sang istrilah yang datang terlebih dahulu untuk memohon maaf kepada sang suami.  Janganlah kita, para wanita, memarahi suami kita karena suatu kesalahan. Atau yang lebih parahnya tidak mensyukuri rezeki yang diberikan oleh suami kita.

Rasulullah pernah bersabda “Bersedekahlah para wanita karena kebanyakan dari kalian itu menjadi bara api neraka Jahanam.’ Maka ada wanita bangsawan dan kedua pipinya berwarna (merah) berdiri bertanya, ‘Kenapa wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Karena kalian seringkali mengadu dan mengufuri pemberian suami.”  (HR. Muslim, no. 885)

Demikianlah penjelasan tentang amalan-amalan wanita ahli surga. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk menjadi wanita yang dapat mendampingi suami kita di dunia dan kelak di surga. Allahumma amin.