Sabtu, 23 November 2019

FAMILY ROAD TRIP (MAMPIR SEJENAK KE JOGJAKARTA)

Akhirnya tiba saatnya kami mengucapkan sayonara kepada kota Jakarta. Serangkaian acara pernikahan anak bungsu omku usai sudah.  Sebelum pulang, kami sudah berpamitan kepada keluarga besar om di acara resepsi pernikahan. Tak lupa kami mengucapkan terimakasi atas sambutan hangat serta undangan untuk menghadiri setiap prosesi menjelang pernikahan hingga acara resepsinya.

Semua barang bawaan sudah kami packing  sejak pagi hari sebelum kami bertolak pulang. Kami memutuskan untuk melakukan perjalanan pulang malam hari, karena ingin menghindari kemacetan yang terjadi di gerbang tol Cikampek. Itupun karena saran dari kakak kami yang mengatakan kalau gerbang tol Cikampek di sore hari pasti padat merayap, maklumlah jam pulang kantor.

Kami menurut saja.setelah melaksanakan salat magrib, kamipun berpamitan kepada kakak yang selama ini telah menjadi tuan rumah yang baik kepada adik-adik dan keponakan-keponakannya. Dan benarlah kata kakak, beberapa kilometer sebelum memasuki gerbang tol Cikampek, volume kendaraan semakin banyak, macetpun tak dapat dihindari. Ya, kita nikmati saja, entah kapan lagi kami dapat merasakan macetnya  tol Cikampek. Hehehe.

Seperti halnya  saat berangkat ke Jakarta, sepanjang perjalanan pulang kali ini pak suami masih kuat untuk memegang kendali mobil.sedangkan aku full menjaga dan memperhatikan kenyamanan anak-anak. Hari telah menjelang subuh tatkala kami memasuki kota Magelang. Mobil berbelok sejenak ke pelataran masjid. Sembari menunggu azan Subuh, suami memejamkan mata sejenak untuk melepas lelah. Lumayanlah tidur-tidur ayam 30 menit.

Setelah menuntaskan salat subuh, perjalanan kami lanjutkan.  Ah, sampai hampir lupa aku. Kami tidak berencana langsung pulang menuju Mojokerto, tetapi singgah sejenak di kota yang selalu  berhasil membuatku rindu, Jogjakarta. Kami menginap di Jogja semalam. Jarak Magelang-Jogja tidak terlalu jauh, kira-kira membutuhkan waktu 1 - 1,5 jam. Namun karena pak suami mengemudi dengan santai (sambil mampir foto-foto di depan kampus Akmil dan SMA Taruna, hihihi), 2 jam kemudian  baru sampai d Jogja.


Pukul 8 pagi ketika kami berada di kota gudeg, dan perut sudah meraung-raung minta diisi. Namun kami tidak mencari sarapan gudeg, kami ingin mencoba sarapan menu lain. Dan pilihannya jatuh kepada soto seger Hj. Fatimah (kalau tidak salah ya) yang terletak di daerah Deresan, Jogjakarta. Tersedia dua macam soto di sini, soto ayam dan soto daging, ada juga menu pecel bagi yang kurang menyukai soto.

Soto seger bu Hj. Farida

Soto seger bu Hj. Farida disajikan dalam sebuah mangkuk yang berukuran tidak terlalu besar, kuahnya bening dengan cita rasa gurih dengan sedikit rasa manis. Dan yang menggiurkan adalah, kondimennya itu loh, banyak sekali pilihannya. Beraneka macam sate bumbu manis, dari sate daging, sate ayam, aneka jerohan, ada juga perkedel , gorengan, dan kerupuk. Duh, inginnya sih incip semuanya, tapi tahan, tahan, ingat kolesterol. Hahaha. Semuanya nikmat.

Setelah perut kenyang dan hati riang, kami mulai jalan kembali berkeliling menyusuri kota Jogja sambil menunggu waktu check-in hotel.  Kami memilih menginap di Hotel Airlangga yang berlokasi di jalan Prawirotaman. Banyak bule-bule yang menginap di hotel daerah ini, yang membuat auranya mirip dengan jalan Legian di Bali (kata temenku sih, soalnya aku sudah lama sekali tidak ke Bali). Pilihan hotelnya banyak, dan cukup bersahabat di kantong.

Karena masih capek, siang hari itu kami habiskan dengan merecharge energi saja. Malam harinya kami kembali berburu makanan. Dan menu makan malam kami kala itu adalah mencicipi kuliner bakmi Mbah Gito yang super duper laris manis. Iya, sesampainya di sana, meja-meja sudah nyaris terisi penuh. Syukurlah kami masih kebagian tempat duduk. Kami memilih bakmi goreng, bakmi nyemek, dan nasi goreng untuk diincipi.

Waktu tunggu kedatangan kuliner si  bakmi terbilang cukup lama, mungkin karena jumlah pengunjung yang ramai  jadi harus ekstra sabar untuk menunggunya (tapi masih lebih lama untuk mengantre bakmi Kadin kok). Setelah cukup lama menunggu akhirnya pesanan kami datang juga. Tanpa babibu, segera kami santap hidangan tersebut. Rasanya, enaaakkk. Gurih dan mantul deh kalau anak jaman now bilang.
Bakmi Mbah Gito
Namun, menurutku harganya sedikit pricey sih, untuk sepiring bakmi kita harus membayar 30 ribu rupiah (soalnya dibandingin sama mie goreng abang-abang di komplek perumahan yang cuma 11 ribu sih, wkwkwkwk). Eits, tidak mengapa karena harga tersebut membuat kami bahagia dan kenyang pastinya. Kami lantas berkendara kembali sambil berkeliling untuk melihat suasana kota Jogjakarta. Waktu sudah larut ketika kami memutuskan untuk kembali ke hotel.

Waktu sehari semalam memang tak cukup untu kami melepas rindu dengan kota dengan sebutan kota pelajar ini. Namun apa daya, rutinitas sudah menunggu kami di rumah. Keesokan harinya kami sudah harus melanjutkan perjalanan pulang. Lagi-lagi kami berwisata kuliner. Karena diiming-iming suami sate klathak, aku jadi ingin mencicipinya juga dong. Ada beberapa pilihan sate klathak di kota ini. Sebenarnya penasaran dengan sate klathak Pak Pong yang fenomenal itu, tapi bayangan harus mengantri berjam-jam menyurutkan niat itu. Akhirnya kami mencoba sate klathak Pak Jede khas Jejeran yang berada di jalan Nologaten.

Tak perlu berlama-lama untuk menunggu pesanan kami. Seporsi sate klathak, tengkleng, nasi goreng kambing , dan nasi putih terhidang di meja. Rasa sate klathak Pak Jede jika dinikmati tanpa kuah, sangat sederhana sekali, sepertinya hanya dibumbui garam saja. Rasanya dibuat sederhana karena memang makannya mesti dicocol di kuah yang mirip kuah gule (atau memang kuah gule?hahaha), jadi agar tidak terjadi tabrakan rasa kalau satenya diberi bumbu kompleks (ini analisaku saja sih). Cukup unik menurutku.

Sate klathak ala Pak Jede
Dan, kamipun benar-benar meninggalkan kota Jogja setelah menandaskan kuliner sate klathak Pak Jede. Anak-anak cukup menikmati perjalanan di kota ini. Ada rasa tidak rela untuk berpisah, diri ini ingin tinggal barang dua atau tiga hari lagi. Kata pak suami, “In syaa allah kapan-kapan kembali ke Jogja, sambil menjelajah lebih banyak tempat lagi”. Yayaya, semoga kami dapat  kembali berkunjung ke kota yang penuh kenangan bagiku dan pak suami ini, entah kapan. Namun aku yakin kami pasti kembali. Sayonara Jogja, sampai berjumpa pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar