Tampilkan postingan dengan label ONE DAY ONE POST. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ONE DAY ONE POST. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2020

KISAH NYATA YANG DIMUAT MEDIA

Semenjak ikut kelas lanjutan ODOP Tembus Media, komunitas One Day One Post, aku seolah ketagihan untuk mengirimkan tulisan ke media baik cetak maupun sosial. Sesuai judul kelas lanjutnnya, setiap pesertanya wajib mengirimkan tulisan-tulisannya ke media-media. Ada yang berbentuk artikel, puisi, cerpen, cernak, cerita rohani, resensi buku, dan bentuk tulisan lainnya.

Dan ternyata ada rasa bangga dan bahagia ketika tulisan-tulisan yang kita kirim dimuat di suatu media. Selain bangga, kita juga bisa menambah pundi-pundi uang loh, karena kita akan mendapatkan honor untuk tulisan yang dimuat. Sambil menyelam, nangkap ikan, hahaha. Tapi jangan ditunggu kapan dimuatnya ya, biar tidak H2C, alias harap-harap cemas. Kata mba Dew-Dew nih cukup tulis, kirim, lalu lupakan. Biarkan waktu yang menjawabnya. Asik.

Nah, ini adalah dua tulisanku yang pernah dimuat di koran Merapi untuk rubrik Terjadi Sungguh-Sungguh. Penasaran? Hyuk, mari dibaca. Ssttt, ceritaku ini adalah sebuah kejadian nyata loh. Hihihi. Semoga bisa menghibur.

1. Cerita pernah dimuat di rubrik Terjadi Sungguh-Sungguh koran Merapi pada tanggal 7 Februari 2020.



Suatu hari ibuku membeli sebuah kipas angin di toko elektronik, sebut saja toko A. Karena akan berbelanja kebutuhan lainnya, maka beliau menitipkan kipas angin tersebut di toko A. Setelah selesai berbelanja, ibuku kembali ke toko A untuk mengambil kipas anginnya. Alangkah terkejutnya beliau ketika mengetahui kipas angin yang telah dibelinya tidak ada di sana. Adu mulutpun tak bisa dihindari. Ibuku bersikukuh  telah menitipkan kipas anginnya, dan si pramuniaga bersikukuh bahwa ibuku tidak pernah membeli dan menitipkan kipas angin di toko ini. Setelah berdebat beberapa lama ibuku baru menyadari bahwa beliau telah salah masuk toko, karena secara kebetulan toko di sebelah toko A sama-sama toko elektronik, Ibukupun lalu melangkah ke toko A dengan badan lemas dan gemetaran.


2. Cerita pernah dimuat di rubrik Terjadi Sungguh-Sungguh koran Merapi pada tanggal 12 Mei 2020.


(Versi asli tuliasanku.)
Ketika jembatan Suramadu baru saja selesai dibangun dan resmi dibuka untuk umum, aku dan temanku ikut penasaran untuk bisa menyeberanginya. Kemudian secara dadakan, kami sepakat untuk mencoba jembatan Suramadu. Dadakan karena kami pergi ke sana setelah makan malam. Sekitar pukul 8 malam kami memasuki jembatannya, dan ketika telah berada di tengah-tengah jembatan, tiba-tiba sepeda motor temanku bannya kempes. Kamipun kebingungan, karena tidak ada tukang tambal ban di tengah jembatan. Jalan satu-satunya, kami harus menuntun motor sambil berjalan berbalik arah melawan arus kendaraan. Dengan menahan malu, kami melakukan aksi tersebut, sambil bilang “maaf, bannya bocor” di sepanjang jalur sepeda motor kepada para pengendara yang melintas. Untung malam hari, jadi wajah malu kami tak terlihat dengan jelas oleh para pelintas. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. 


Sabtu, 02 Mei 2020

BUMBU KASIH ALA MBA ASIH


Akhirnya setelah beberapa purnama aku tak mengisi tulisan di blogku, kini aku hadir kembali. Terimakasih teruntuk ODOP jurusan Blogger Squad (jurusan, macam angkot aja ya), karena tantangan ini memaksaku untuk menulis kembali di blog.

Ok,  kali ini ODOP Blogger Squad memberikan tantangan kepada para pesertanya untuk mereview blog peserta lainnya. Jadi setiap peserta dibebaskan untuk mencari pasangan hidup, dan mengulas isi blog pasangannya.

Nah, bingung aku. Mau mengajukan diri dan mengajak peserta OBS kutak sanggup, karena malu. Dua blog yang kumiliki tampilannya masih biasa banget, standar, blog pertama nichenya gado-gado, rame pokoknya, blog kedua nichenya kuliner, tapi isi tulisannya cuma beberapa  biji saja,  apanya yang mau diulas coba. Hiks. Yang lain sudah pada paham SEO, DA-PA, TLD, self hosted, aku mah masih tolah-toleh. Ya Allah apa aku lemot ya?

Hingga di suatu siang hari yang cerah dan panas (dan masih dalam kondisi puasa Ramadan tentunya), tetiba muncul nomor tak kukenal di notifikasi whatsappku. Ketika kubaca, itu adalah tawaran menjadi partner untuk berpartner untuk tantangan OBS, dari mba Asih. Omo omo omo. Kuterkejut, karena ada yang berminat untuk berpasangan denganku. Aaah, pengen kupeluk mba Asih, namun social distancing melarangku untuk melakukannya.

Yeay, tak perlu berlama-lama, hyuk langsung aja aku review blog mba Asih ya.
Jujur saja aku baru mengenal mba Asih, ya ketika mba Asih mengajakku menjadi pasangan untuk tantangan OBS. Sebelumnya aku mau bilang,  salam kenal ya mba. Kalau sudah kenal semoga tambah sayang *loh.


Mba Asih, atau lengkapnya Mba Asih Mufisya adalah teman seangkatanku di komunitas ODOP batch 7 (yang aku kira mba Asih ini seniorku, hihihi). Mba Asih memilih blogspot sebagai platform blognya. Kita bisa temukan tulisan mba Asih di https://bumbukasih.blogspot.com/.

Blog mba Asih yang kuulas kali ini tergolong masih fresh ya, karena jika dicek dari artikel pertama yang diunggah tertanggal 3 Januari 2020. Sepertinya blog ini dibuat karena mba Asih ingin mengkhususkan blognya untuk mengikuti program Odop Blogger Squad. Meskipun demikian mba Asih sudah memiliki alamat blog yang lainnya, dan telah menjadi blogger semenjak tahun 2016.

Ada 9 artikel yang telah diterbitkan di blog mba Asih. Dan blog berjudul BUMBUKASIH miliknya berniche khusus membahas tentang parenting. Niche parenting, terutama yang membahas tentang ibu dan anak, dalam dunia perbloggeran termasuk niche yang banyak dicari oleh para peselancar internet. Karena semakin banyak ibu-ibu yang ingin mencari informasi seputar permasalahan anak-anak, entah mengenai tumbuh-kembang anak, masalah kesehatan anak, atau mencari tips membesarkan buah hatinya.


Dari 9 isi tulisan dalam blog BUMBUKASIH milik mba Asih, 8 tulisannya membagikan tips dan trik untuk para ibu dalam menghadapi dan mengatasi permasalahan pada bayinya. Ada artikel tentang trik menenangkan bayi yang sedang menangis, tips memandikan bayi, tips mengatasi bayi yang sedang pilek. Menarik bukan?


Dijelaskan pula oleh mba Asih, bahwa postingan yang dia tulis berdasarkan pengalaman pribadi, pendapat para ahli, serta dari sumber yang jelas.Jadi bisa dibilang blog ini sangat cocok ditujukan untuk para mama-mama muda yang baru saja memperoleh buah hati ya. Nah, blog bumbukasih ini bisa menjadi salah satu referensi yang bagus nih.

Secara tampilan blog, bumbukasih masih menggunakan template bawaan dari blogspot. Tampilan yang dipilih adalah tampilan halaman dengan background putih dan pembaca bisa langsung memilih artikel yang telah diposting oleh mba Asih. Karena bertema parenting, foto-foto di setiap artikel yang dipilih juga lucu-lucu, yaitu foto para bayi yang wajahnya bikin gemash.

Dan demikianlah ulasan yang dapat aku sampaikan untuk blog BUMBUKASIH milik mba Asih. Selayaknya motto hidup Mba Asih "Man jadda wa jadda. Hidup adalah anugerah yang perlu dinikmati dengan penuh rasa syukur. Maka jadikan masa kehidupan ini dengan suatu hal yang bermanfaat," maka harapannya terhadap blog miliknya adalah semakin mengasah kemampuan menulisnya agar bisa terus lebih baik lagi dan bisa meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi para pembacanya. 

Doaku, semoga blog teman baruku ini akan semakin berkembang dan bisa mengahasilkan pundi-pundi uang ya mba. Sambil menyelam, nangkap ikan, hihihi. Sekali lagi jangan lupa untuk kunjungi blog milik mba Asih di https://bumbukasih.blogspot.com/

Selamat menikmati tulisan mba Asih ya ODOPers.

Minggu, 15 Desember 2019

BELAJAR DAN BERKEMBANG BERSAMA KOMUNITAS ODOP




Entah saat ini aku harus merasa senag atau sedih. Empat pekan yang kulalui bersama kelas non-fiksi ODOP batch 7 sebagai lanjutan kelas menulis komunitas One Day One Post akan segera berakhir. Aku, dan mungkin juga sebagian besar para peserta ODOP batch 7 yang saat ini sudah menjadi bagian dari keluarga besar komunitas ODOP, merasa sangat beruntung. Beruntung karena di sini aku dan teman-teman mendapatkan ilmu yang sangat berharga. Ilmu tentang dunia tulis menulis yang dibagikan secara cuma-cuma oleh para master di bidangnya. Aku yang dari tidak tau menjadi banyak tau.

Tak berhenti membagikan ilmu dunia menulis, di kelas non-fiksi kembali kami menerima ilmu tentang perblogingan, dan lagi-lagi secara gratis. Gratis! Tak main-main, pematerinya pun orang-orang yang mumpuni di bidang perblogingan. Namun sayangnya, aku masih belum paham betul. Hiks (apa karena aku yang elmot ya, wakwakwak). Sedikit banyak aku jadi tau kalau kita bisa menghasilkan uang dari blog yang kita miliki saat ini, dari iklan, dari adsense, dari banyaknya viewer yang melihat artikel kita, dari mana saja sepertinya. Hihihi. Bagaimana cara menaikkan DA/PA, cara membuat judul artikel dengan bantuan SEO, dan istilah-istilah perblogingan yang jujur masih awam bagiku.

Mungkin ada baiknya jika materi perblogingan yang disampaikan oleh para mastah, diikuti dengan praktik secara langsung. Tidak mudah memang jika harus online dalam waktu berbarengan untuk melakukan praktik secara langsung dari ilmu yang disampaikan oleh pemateri. Tak jauh-jauh, aku saja mengikuti materi sambil meninabobokan si bayik, bagaimana bisa buka laptop dan mempraktekkan ilmunya. Hihihi. Atau mungkin diadakan kelas khusus untuk mengutak-atik blog kita ya. Hanya sekedar saran saja semua itu, demi memaksimalkan blog yang telah dipunyai saat ini.

Aku juga banyak belajar dari tulisan teman-teman loh. Setiap melakukan blog walking, aku ikut menyerap ilmu yang dibagikan oleh mereka. Rata-rata tulisan teman-teman ODOP batch 7 ciamik soro, alias bagus-bagus sekali. Sering kali aku menemukan kosakata-kosakata baru dari blog teman-teman. Tak jarang juga aku belajar, bagaimana mengangkat suatu cerita yang biasa-biasa saja, namun tampak luar biasa karena diramu dengan kata-kata yang apik dan mengena. Mantab buat kalian semua! Ahh, aku bersyukur bisa bertemu dengan komunitas yang satu ini. Kemampuan menulisku meningkat 100% setelah menjadi peserta dan mengikuti kelas menulis ODOP.

Tak hanya ilmu menulis, aku juga bertemu dengan orang-orang keren yang konsisten dalam menulis, para pegiat literasi tanah air, yang datang dari berbagai macam latar belakang dan disiplin ilmu. Jangan melihat asalnya, pendidikannya, pekerjaannya, atau keluarganya, bacalah tulisan-tulisan mereka. Banyak pelajaran hidup yang kupetik dari cerita-cerita yang dibagikan oleh mereka. Pokoknya teman-teman komunitas ODOP ini luar biasa.

Aku salut kepada teman-teman yang rajin posting setiap hari tanpa berhutang satu kalipun disela-sela kesibukannya di dunia nyata. Andai aku bisa seperti mereka. Bisa sebenarnya, semuanya tergantung niat. Hihihi. Maka dari itu salah satu harapanku adalah bisa tetap bisa mengasah kemampuan menulis selepas mengikuti segala macam kegiatan komunitas ODOP dan tetap bisa menjalin silaturahim dengan teman-teman ODOP. Semoga kelak jika ada waktu dan kesempatan kita dapat berkumpul, syukur-syukur dapat menelorkan suatu karya bersama. Amin.

Pesanku untuk teman-teman, jangan berhenti menulis, menulislah untuk menebarkan kebaikan. Siapa tau dari tulisan yang kita bagikan, kelak akan menjadi amal jariyah bagi diri kita. Terimakasih banyak teruntuk semua mba-mba pije, mas-mas pije, pemateri yang keren abis yang telah rela berbagi ilmu, waktu, dan membersamai perjalanan kami para peserta ODOP batch 7. Biarlah Allah yang membalas segala peluh dan lelah kalian. Peluk online satu-satu (bagi para ukhtinya yaaa).

Tetap semangat menulis ya teman-teman ODOP. Kutunggu karya-karya moncer kalian lahir dari para penerbit. Salam literasi! 

Kamis, 12 Desember 2019

RESOLUSI MENULIS DI TAHUN 2020


Wah, tak terasa kelas menulis non-fiksi komunitas ODOP batch 7 sudah memasuki pekan terakhir. Di pekan ini pula para peserta kelas menulis non-fiksi diberikan tantangan terakhirnya, dengan tema “Resolusi Menulis Di Tahun 2020”.

Flashback di  hari di mana tak terlintas di pikiranku untuk mengikuti open recruitment batch 7 komunitas one day one post. Di tulisan-tulisanku sebelumnya, aku selalu berterimakasih kepada Silvana, teman kala sekolah tempo dulu yang masih aktif berkirim pesan, karena dari dialah aku bisa mengetahui komunitas ODOP ini. Jujur pada awalnya aku pesimis, karena aku bukan penulis, aku lebih sebagai pembaca. Namun aku teryakinkan, bukan bagus jelaknya tulisan kita yang akan dinilai, namun lebih kepada seberapa besar niat kita untuk tetap menulis secara kontinu selama 60 hari.

Memang berat pada awalnya. Tak sedikit juga peserta yang berguguran di tiap minggunya. Membagi waktu menulis di sela-sela kegiatan di dunia nyata yang cukup padat membuatku keteteran. Tak jarang aku menulis sebelum jam pulang kantor, atau bahkan baru bisa menulis di malam hari setelah dua jagoan hebatku tidur. Alhamdulillah segala tantangan selama 60 hari itu dapat kulalui dengan, yah cukup baik.

Berlanjut memasuki kelas penjurusan. Sedikit galau untuk memilih kelas fiksi atau non-fiksi. Setelah aku pertimbangkan cukup setengah matang, dan tak lupa membaca basmalah, kupilih kelas non-fiksi. Alasannya karena materi yang ditawarkan kelas non-fiksi menarik perhatianku, salah satunya untuk mengoptimalkan blog. Aku penasaran karena kabarnya dari blog yang kita miliki bisa menghasilkan uang. Keren nih, pikirku, dari hobi menulis bisa menghasilkan uang.

Namun kembali lagi, aku kan hobi baca, bukan menulis. Eits, jangan salah, aku jadi suka menulis juga kok, meski terkadang masih diliputi rasa malas. Hihihi. Di kelas non-fiksi ini lagi-lagi keniatan kita untuk istikamah menulis secara kontinu diuji lagi selama kurang lebih 30 hari (atau lebih ya, aku lupa). Dan lagi-lagi cukup keteteran. Di kelas lanjutan ini aku merasa malah lebih parah, lebih sering berhutang tulisan. Padahal dibandingkan ketika masih menjadi peserta ODOP, di kelas lanjutan ini lebih ringan bebannya karena per pekan diwajibkan menulis 6 tulisan saja. Jadi ada 1 hari bebas untuk tidak menulis, lebih tepatnya 1 hari itu untuk fokus mencicil tulisan antologi.

Namanya juga manusia, diberikan keringanan, terkadang malah menggampangkan. ‘Ah, nanti saja belum nemu ide nih’, setelah nanti saja ‘Eh, besok saja deh, kok sekarang capek ya’, keesokannya ‘huwaduh, deadline tugas kantor kok sudah di depan mata, tulisannya dirapel besok aja deh’, begitu saja terus sampai hutang menulis semakin menumpuk. Kalau kata flyer berisi nasihat yang dibagikan mommy Jayko a.k.a mba Jihan, orang terajin yang pernah kukenal di Konstantinopel squad, ‘jangan suka menunda-nunda tugas, konon kabarnya ketika kita meningglakan tugas yang belum terselesaikan, dia akan bertemu dengan tugas lain yang juga ditinggalkan, kemudian mereka jatuh cinta, kemudian akan beranak pinak, banyak sekali’. (Baru tau kan, kalau tugas yang menumpuk bisa menimbulkan indikasi untuk mereka saling jatuh cinta? Aku pun). Dan memang seperti itu pada kenyataannya. Hutang menulis menumpuk, terseok-seok untuk membayarnya. (Ini berlaku bagiku yah).

Maka dari itu, jika ditanya apakah resolusi menulisku di tahun 2020? Aku tak ingin muluk-muluk dalam membuat resolusi menulis di penghujung tahun yang telah siap menyambut kedatangan tahun yang baru ini. Apa sajakah resolusi itu?
·      Bisa menulis secara berkelanjutan, setidaknya dalam seminggu ada tulisan berfaedah yang bisa aku posting di blogku. Entah seminggu sekali, dua kali, syukur-syukur bisa posting setiap hari. Amin.
·      Menulis untuk menyebarkan kebaikan, sehingga bisa bermanfaat bagi para pembacanya.
·      Ingin menjajal menjadi seorang content writer, siapa tau bakat menulis yang mulai terasah ini dapat menghasilkan sedikit pundi-pundi kekayaan bagi dompetku. Lumayan untuk membeli popok sekali pakai si adik. Hihihi.
·      Mendalami ilmu perbloggingan yang meskipun hingga detik ini aku masih belum paham. DA/PA, SEO, blog domain TLD, adsense, dll adalah istilah-istilah baru dalam hidupku kamus perblogginganku. Namun pelan-pelan aku akan mempelajarinya.
·      Mencoba  mengikuti lebih banyak lomba-lomba menulis blog. Sepertinya menyenangkan setelah tugas pekan tiga kelas non-fiksi menantang pesertanya untuk mengikuti lomba menulis blog. Iseng-iseng berhadiah. Pasti ada kepuasan tersendiri jika aku berhasil memenangkan lomba blog yang kuikuti, iya kan?

Kurasa lima resolusi menulisku di tahun 2020, yang jika kubaca ulang ternyata muluk-muluk (wakwakwak), sementara cukup. Namun tak ada salahnya bukan. Setidaknya aku memiliki kisi-kisi tentang kegiatan menulis yang dapat aku lakukan di tahun yang baru. Akhir kata aku ingin menyampaikan, menulislah sesuatu yang bisa membuatmu bahagia, siapa tau dari tulisan kita dapat turut  membawa kebahagiaan bagi para pembacanya. Tetaplah semangat menulis di tahun yang baru!

#tantangan_pekan4_kelas_nonfiksi
#odop_batch7
#komunitas_odop
#OneDayOnePost
#kelasnonfiksiODOP

Selasa, 03 Desember 2019

ANAK GEMBALA YANG TERTIDUR PANJANG DI AKHIR ZAMAN (RCO 6 TINGKAT 2)



Judul novelnya memang terlihat cukup panjang, “Anak Gembala Yang Tertidur Panjang Di Akhir Zaman”. Novel yang menjadi pemenang kedua Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta di tahun 2018 ini serta merta menarik perhatianku tatkala sedang sibuk mencari novel yang cocok untuk dibaca dan diulas untuk RCO batch 6 komunitas ODOP. Apa yang membuat novel ini menjadi pemenang kedua sayembara tersebut? Tema apa yang diusung oleh sang penulis? Magnet apa yang membuatku ingin membelinya? Pertanyaan-pertanyaan itu otomatis muncul di benakku.

Di bagian blurb, dituliskan bahwa novel “Anak Gembala Yang Tertidur Panjang Di Akhir Zaman” menuturkan kisah Rara Wilis dan Suko Djatmoko. Rupanya novel ini diangkat dari sebuah kisah nyata. Menariknya lagi, novel ini mengangkat tema seks, agama, keimanan, pelacuran, dan epos Mahabarata. Hmmm, apa yang membuat semua tema itu berkelindan dalam satu buku novel ini?

Novel ini dibuka dengan munculnya sesosok tokoh bernama Mbok Wilis. Dia digambarkan sebagai seorang yang feminin, berbadan tambun, berambut panjang, dan gemar bersolek. Kegemarannya berdandan dilukiskan melalui meja rias Mbok Wilis yang ramai sekali, ‘Berbagai jenis kosmetik berjejalan di atas permukaan meja yang tidak terlampau lebar itu’ (halaman 15).

Mbok Wilis atau Rara Wilis, ternyata adalah seorang waria yang berprofesi sebagai pelacur yang mangkal di area sekitaran kota Semarang. Pamor Mbok Wilis sebagai waria dan mucikari paling top sudah terkenal di dunia malam pelacuran, dia adalah Ratu Simpang Lima. Mbok Wilis memiliki sifat yang tegas serta cerewet layaknya wanita tulen. Namun dia juga sosok yang welas asih, dan sensitif. Tak jarang dia mengeluarkan air mata ketika dia ditinggal pergi atau disakiti oleh lelaki yang disayanginya. Lucunya, Mbok Wilis akan mengingat Tuhan dalam keterpurukan kondisinya.

Hingga pada suatu masa, Mbok Wilis ingin melakukan pertobatan, dia ingin melepaskan predikat pelacur dan ratu waria yang disandangnya. Dia juga ingin melepaskan diri dari jerat iblis yang menyaru menjadi manusia bernama Haris. Dia ingin menjadi manusia yang kembali menjalani kodratnya sebagai seorang pria. Tampaknya jalan menuju pertobatan penuh liku dan cobaan.

Di sisi lain, muncul pula tokoh bernama Suko Djatmoko Purwo Carito. Dikenal pula sebagai Pak Wo. Seseorang yang sangat menyukai cerita pewayangan yang kesehariannya menjalani profesi sebagai pedagang jamu keliling. Dia menjajakan jamunya sambil bertablig, mensyiarkan agama Islam. Ya, dia mantan orang berlumur dosa. Namun kini dia telah menemukan jalan hidupnya kembali. Seorang yang sabar dalam menghadapi segala dera dan cobaan hidup. Pak Wo menerima segala cibiran orang-orang di sekitarnya, bahkan keluarga terdekatnya dengan lapang dada dan penuh keikhlasan.

Pak Wo telah bertobat untuk menjadi seorang muslim yang taat. Namun rupanya, menjadi seorang muslim yang taat saja belum cukup baik di mata orang-orang. Tudingan sebagai penganut ajaran Islam yang salah dan sesat selalu diujarkan kepada Pak Wo.

Novel ini cukup membuatku bergidik jijik tatkala membaca beberapa bagian yang menggambarkan tokoh Rara Wilis sedang melacur. Penulis menceritakan aktivitas seksual menyimpang Rara Wilis bersama pelanggannya dengan cukup detil. Tetapi ada juga bagian yang membuatku ikut gemas dengan perlakuan Haris, si tokoh antagonis, kepada Rara Wilis.

A. Mustafa sebagai sang penulis novel, ikut mengaitkan epos Mahabarata dengan kedatangan Imam Mahdi dan Al Masih ke dunia. Menurut novel ini ada kemiripan antara Kresna, Sang Avatara dewa dengan Imam Mahdi dan Al Masih. Hal yang mungkin akan memicu kontroversi bagi pembaca novel ini.

Belum lepas keterkejutanku dengan hubungan antara cerita wayang Mahabarata denagn kehadiran Al Mahdi dan Al Masih, aku juga dibuat bergidik kembali dengan hikayat babi yang merupakan sebuah kiasan tentang kehidupan manusia yang 'kotor' dan berkubang dosa. Menurut hematku, sebaiknya novel ini dinikmati oleh pembaca yang telah matang jasmani, rohani, dan religinya. (Itulah mengapa novel ini diperuntukkan bagi pembaca berusia 19+)

Adakah niatan tobat Rara Wilis bisa terwujud? Apakah ajaran Islam yang dianut teguh oleh Pak Wo yang membuatnya dicap sebagai muslim yang sesat? Apakah hubungan antara Rara Wilis dan Pak Wo? Temukan semua jawabannya di dalam novel yang beralur maju-mundur ini. Selamat membaca.

Sedikit spoiler percakapan antara Rara Wilis dan Haris yang membuatku ikut geram dengan kelakuan Haris (hihihi).


Rating buku : 4/5

Identitas Buku

Judul         : Anak Gembala Yang Tertidur Panjang Di Akhir Zaman
Penulis          : A. Mustafa
Penerbit        : Shira Media
Tahun terbit : 2019
Genre             : Fiksi dan Literatur
ISBN               :978-602-5868-80-1
Tebal              : 354 halaman

#RCO6_tingkat2
#komunitas_odop
#odop_batch7
#mengulas_tokoh_utama_novel

Senin, 02 Desember 2019

CATCALLING


Pernahkah mengalami suatu pengalaman pahit disiulin, atau iseng dipanggil-panggil namanya, atau digodain oleh pria-pria tak dikenal di jalan atau di ruang publik lainnya? Jika pernah, berarti anda menjadi korban catcalling. Catcalling merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual secara verbal.

Korban catcalling biasanya adalah para wanita. Bentuk catcalling dapat  berbentuk siulan atau panggilan ‘Hai cantik’, ‘Hai manis’, ‘Cewek, kenalan dong’ dengan maksud menggoda. Pelakunya sebagian besar adalah lelaki iseng yang biasanya sedang bergerombol. Kebiasaan catcalling masih dianggap tindakan yang lumrah di kalangan masyarakat kita, padahal tindakan catcalling jika dibiarkan bisa menjadi bibit kekerasan seksual.

Tindakan catcalling sangat meresahkan masyarakat dan yang dirugikan lagi-lagi adalah kaum Hawa. Wanita selalu yang disalahkan, karena gaya pakaian wanita yang selalu memancing kaum pria untuk menggoda. Namun nyatanya catcalling terjadi bukan karena pakaian yang dikenakan oleh kaum wanita, melainkan karena kaum pria memandang wanita sebagai obyek pelecehan. Pria masih menganggap bahwa wanita adalah makhluk yang lemah dan menganggap siulan yang dilontarkan kepada korbannya hanyalah candaan yang wajar-wajar saja. “Kalau perempuan berdandan seperti apapun, serapi apapun, setertutup apapun, kalau cara pandang masyarakat, dalam hal ini adalah pelaku, dalam hal ini adalah laki-laki, itu tidak berubah cara pandangnya, sama saja menurut saya” pendapat  Budi Wahyuni yang merupakan Wakil Komnas Perempuan dalam wawancaranya dengan Net Stories untuk Net TV.

Belum adanya undang-undang yang menjerat pelaku catcalling, membuat para korbannya belum dapat menerima perlindungan hukum jika tertimpa masalah ini. Dari hasil survey yang dilakukan oleh Hollaback! Jakarta di tahun 2018, sebanyak 17% pelecehan seksual di ruang publik yang dialami responden adalah dalam bentuk siulan atau suitan, dan 12% dalam bentuk komentar bentuk tubuh. Ini sangat disayangkan karena si korban hanya bisa diam saja dengan menghindari siulan para catcaller. Padahal sang pelaku tidak menyadari dampak psikologis yang dirasakan oleh korban. Para korban pelecehan bisa mengalami kondisi tidak aman, tidak nyaman, merasa marah, bahkan merasa dipermalukan.

Sumber : kanal YouTube Hollaback! Jakarta

Maka dari itu banyak kampanye edukasi yang dilakukan untuk menyuarakan agar tidak melakukan tindakan catcalling di ruang publik, yang dapat berujung pada tindak kejahatan seksual. Seperti kampanye yang dilakukan oleh Hollaback! Jakarta melalui sosial media yaitu dengan memberikan informasi apa saja bentuk-bentuk pelecehan, membagi cerita-cerita dari korban pelecehan di laman Hollaback! Jakarta untuk mendorong orang lain agar berani bersuara.

Adapun beberapa tips untuk mengindari godaan iseng dari para catcaller yang bisa kita terapkan.
1. Berjalanlah dengan percara diri
Jangan hiraukan panggilan iseng yang dilontarkan catcaller, anggap saja angin lalu. Mereka akan capek-capek sendiri jika kita cuek dan tidak meladeni tindakan iseng tersebut.

2. Berikan teguran tegas kepada pelaku catcaller
Bagi para wanita yang bernyali, silahkan berikan teguran keras kepada pelaku. Tidak ada salahnya jika kita balik mengintimidasi mereka, misalnya dengan memotret wajah mereka dan mengancam akan melaporkan mereka ke pihak berwajib.

3. Menyibukkan diri untuk mengalihkan perhatian
Sibukkan diri, terutama ketika kita, para wanita khususnya, sedang berjalan seorang diri. Mendengarkan musik dan bersenandung bisa dijadikan alternatif untuk mengalihkan perhatian. Atau bisa juga dengan membawa buku favorit sebagai bahan bacaan yang siap dibaca kapan saja ketika di ruang publik.

4. Lakukan hal-hal aneh yang membuat para catcaller berhenti untuk menggoda

Itulah beberapa tips yang dibagikan oleh “Net Stories: Serba-Serbi Catcalling di Indonesia” (Net 12) di kanal YouTube Official Net News.

Teruntuk para kaum Hawa, tetaplah waspada dan berhati-hati ketika sedang berada di ruang publik. Berdoalah kepada Sang Maha Pencipta sebelum kita memulai segala aktivitas apapun. Dan teruntuk para pelaku catcaller, mulai sekarang berpikirlah sebelum melakukannya. Ingatlah apa yang kalian lakukan adalah tindakan yang kurang terpuji. Semua perilaku buruk kita kapada sesama manusia pasti ada ganjarannya. Waspadalah!

Sumber tulisan:
NET Stories: Serba Serbi Catcalling di Indonesia - NET12
Hasil Survei Pelecehan di Ruang Publik Akan Membuat Kamu Kaget!


Jumat, 29 November 2019

DROP OUT


“Perhatiin aja kuliahmu,” kata Leah. “Kenapa susah banget lulus?”
Blep!
“Ada lubang besar nungguin kamu di akhir tahun ke tujuh,” kata Leah
“Wisuda?”
“Lubang besar! Bukan pintu gerbang. DO!”



DO a.k.a Drop Out adalah putus kuliah sebelum waktu kelulusan tiba. Alasan terjadinya drop out juga bermacam-macam, salah satunya karena waktu tempuh belajar seorang mahasiswa telah melebihi batas waktu yang telah ditetapkan kampus. Adakah yang memiliki pengalaman berhubungan dengan DO? Entah teman, sahabat, keluarga, atau diri sendiri?

Aku pernah mempunyai seorang sahabat yang di DO dari kampusku. Sebenarnya dia anak yang bisa dikatakan pintar dan berbakat, buktinya dia dapat lulus UMPTN (bok, lawas ya) dan diterima di kampusku. Di awal-awal perkuliahan dia masih terbilang rajin untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Namun seiring dengan berjalannya waktu, dia mulai kendur. Entah apa penyebab pastinya, dia mulai jarang masuk kuliah, jarang mengerjakan tugas, yang mengakibatkan minimnya absensi sehingga tidak memungkinkan untuk dia mengikuti UAS (ujian akhir semester). Ya, kehadiran dalam suatu mata kuliah menjadi syarat mutlak untuk mengikuti UAS.

Hal itu berlanjut di semester-semester berikutnya, hingga akhirnya surat cinta DO dari fakultas dilayangkan kepadanya. Sedih, pasti. Namun nasi telah menjadi bubur. Tidak ada jalan keluar selain harus meninggalkan kampus, dan yang paling menyakitkan adalah harus meninggalkan teman-teman dan sahabat karib. Meskipun kami tetap berhubungan baik sih, tetapi pasti menyisakan lubang kesedihan di hati karena harus berpisah.

Namun jangan mengharapkan suatu cerita yang menyedihkan hingga menitikkan air mata ketika membaca novel Drop Out karya Arry Risaf Arisandi ini. Di cover buku sudah tertera genre si novel yaitu komedi cinta. Inilah yang membuatku tertarik membelinya. Ini sudah kali ketiga aku membaca bukunya, karena memang selucu itu.

Kelucuan yang absurd sebenarnya. Kapan lagi aku bisa menertawakan nasib seseorang yang bakal kena DO kalau bukan dalam suatu novel. Coba kalau kita menertawakan seseorang yang kena DO di dunia nyata, bisa-bisa di..., yah isi sendiri saja ya. Hihihi.

Adalah Jemi seorang pemuda berpredikat mahasiswa abadi di kampus jurusan Akuntansi di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Keinginannya untuk berkuliah di Bandung adalah karena ingin terlepas dari pengawasan sang ayah. Jemi orang yang santai dan bukan orang yang pintar, otaknya encer banget kata ibunya, saking encernya otaknya mengalir keluar lewat kupingnya (wakwakwak). Hanya saja Jemi orang yang beruntung.

Keajaiban dunia kesembilan Jemi bisa masuk jurusan Akuntansi. Namun keajaiban itu bisa saja tidak akan menghampiri dia kembali. Dia sudah berada di tahun ketujuh di bangku perkuliahan. Untuk bisa bertahan hidup di kampusnya dan berhasil memakai toga di kelulusannya kelak, Jemi harus bisa melampaui semester tiga belas tanpa nilai E di salah satu mata kuliahnya.

Nasib baik berpihak kepadanya, ada dosen cantik yang dahulu adalah seniornya di jurusan Akuntansi, yang mau membantunya. Dialah Leah. Namun cara menjelaskan  Leah terlalu susah dimengerti Jemi. Jemi menyukai Leah, karena Leah adalah seorang wanita.

Tak hanya Leah saja yang ingin membantu kelulusan Jemi, ada Doktor M. Dosen mata kuliah Statistika ini, meskipun sudah tua tetapi suka dengan mahasiswanya yang cantik-cantik. Doktor M  terkenal sebagai dosen killer. Tugas Jemi cukup mudah, cukup dengan membantun Doktor M untuk mendapatkan hati seorang gadis pujaannya.

Kekonyolan-kekonyolan juga terjadi di dalam kos-kosan Jemi. Sungguh benar, lingkungan akan membawa pengaruh dalam hidup seseorang. Jika lingkungan itu buruk, ikut buruklah kita, begitu juga sebaliknya.

Dari halaman pertama novel ini sudah berhasil membuatku tersenyum. Gaya bahasa yang digunakan penulis adalah gaya bahasa yang ringan dan santai. Tak perlu berpikir keras untuk memahaminya. Satu jam cukup bagiku untuk melahap novel ini. Banyak candaan-candaan yang terkesan ngasal dan aneh yang dimunculkan. Sampai-sampai aku bergumam, ada ya orang sebodoh ini.

Novel ini difilmkan di tahun 2008. Ben Joshua didapuk menjadi pemeran Jemi berdampingan dengan si cantik Titi Kamal yang berperan sebagai Leah. Sudahkah kawan-kawan menonton film DO? Aku sih belum, cukup berimajinasi melalui bukunya saja. Hihihi.

Jadi, apakah Jemi berhasil malalui ujian-ujian mata kuliah di tahun ketujuhnya? Akankah Jemi dapat memakai baju toga di hari kelulusannya? Apakah Leah berhasil ditaklukkan Jemi? Silahkan baca buku ini jikalau otak lagi penat. Setidaknya novel ini cukup bisa membuat bibirku tertawa dengan kelakuan Jemi dan kawan-kawannya.

Identitas buku.
Judul                 : DO Drop Out
Penulis             : Arry Risaf Arisandi
Penerbit           : Gagas Media
Tahun terbit    : 2006
Genre               : Komedi Cinta
ISBN                 : 979-780-067-9
Tebal                : 189 halaman



Kamis, 21 November 2019

MENGULAS BUKU BERJUDUL “HAJI GRATIS (SEMUA BISA KE BAITULLAH)”



Ke Baitullah bukan Monopoli orang yang berharta. Kesempatan itu terbuka bagi siapa saja. Tulisan tersebut terpampang di cover buku yang berjudul “HAJI GRATIS (SEMUA BISA KE BAITULLAH)”. Umat muslim mana sih yang tidak ingin menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Ya, kita semua pasti sangat ingin dan merindukan untuk dapat melaksanakan ibadah haji atau setidaknya menjalankan ibadah umrah terlebih dahulu.

Namun pada kenyataannya, banyak faktor yang menghalangi kita untuk bisa mendatangi rumah Allah yang sangat megah di Mekah dan Madinah tersebut. Salah satunya adalah faktor biaya. Sudah menjadi rahasia umum jika untuk bisa ke sana dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Banyak banner iklan berseliweran baik di pinggir jalan maupun di pagar-pagar rumah yang berisi ajakan menuju Baitullah. Tak sedikit pula yang menunjukkan nominal harga yang harus dibayarkan, yang kisaran harganya antara 19 juta hingga 30 juta per kepala.

Seperti beberapa hari yang lalu, salah seorang teman baikku yang memiliki travel haji dan umrah tetiba mengirim pesan whatsapp untuk menawarkan umrah dengan biaya 30 juta. Itu sudah harga teman (katanya, hihihi). Biaya tersebut untuk melaksanakan umrah selama 13 hari dan menginap di hotel bintang lima. Bintang lima gaes. Wow! Sangat menggiurkan sekali, tapi sayang dengan halus kutolak tawarannya, karena...(rahasia, hihihi).

Mungkin angka 30 juta rupiah bagi sebagian orang bukanlah angka yang besar. Namun, bagi kaum duafa, fakir miskin, atau orang yang berpenghasilan pas-pasan angka tersebut terbilang fantastis. Jangankan 30 juta rupiah, bisa memegang uang 10-50 ribu rupiah per hari saja rasa syukur mereka amat sangat luar biasa. Bagaimana mungkin mereka dapat menunaikan umrah apalagi haji jika uang yang berada di kantong mereka sangat minim.

Dan di sinilah mengapa buku ini terbit. Buku Haji Gratis ini mengklaim bahwa banyak jalan menuju Baitullah. Umrah dan haji tidak lagi melulu diperuntukkan bagi mereka yang bergaji tinggi atau berstatus kaya. Kaum duafa, fakir miskin, atau orang yang berpenghasilan pas-pasan ternyata juga bisa memenuhi panggilan Allah untuk menuju rumahNya.

Di dalam buku karya M. Anwar Sani ini, terhimpun cerita-cerita inspiratif tentang bagaimana orang-orang yang hanya dapat bermimpi ke rumah Allah bisa terwujud mimpinya. Bagaimana bisa? Yang pertama adalah karena kekuatan doa. Jangan sekali-sekali meremehkan kekuatan doa. Doa yang kita langitkan bisa saja sewaktu-waktu diijabah oleh Sang Maha Mengabulkan.  Seperti yang dituliskan oleh Ustaz Yusuf Mansur di bab pembuka buku ini bahwa Allah mengarahkan manusia agar selalu berdoa dan memohon hanya kepadaNya, serta mengingatNya setiap saat, dalam kondisi apapun. Seperti sabda Rasulullah saw yang berbunyi, “Berdoalah kepada Allah disertai dengan keyakinan bahwa Allah akan memperkenankan. Ketahuilah bahwa Allah tidak menerima doa dari kalbu yang lalai dan lengah.” (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi melalui Salman). Ketahuilah kawan, Allah akan merasa malu jika tidak mengabulkan doa seorang hamba yang telah bermunajat kepadaNya.

Adalah kisah Dasril, seorang tukang kopi yang hidupnya serba kekurangan, awalnya bermimpi berangkat ke Tanah Suci. Namun siapa sangka, Allah membukakan jalan untuk Dasril agar bisa ke sana. Rupanya Allah mengirimkan mitra bisnis, seorang saudagar kopi, yang meminta Dasril agar dijualkan kopinya. Ternyata dia memperoleh laba berlimpah hingga cukup baginya pergi haji. Tidak ada satupun yang mustahil bagi Allah, jika Sang Maha Perkasa sudah mengatakan kun fayakun, min haitsu laa yahtasib.

Yang kedua adalah, perbanyak sedekah. Seperti yang dikisahkan dalam buku ini. Ada seorang tua renta, Mbah Kemi namanya, yang telah ditinggal pergi sang istri selamanya. Dia hidup sebatang kara karena anak terkasih merantau ke luar pulau. Namun tak ada sedikitpun kekhawatiran perihal hidupnya. Hingga dia diberi kabar untuk dapat menunaikan umrahke Tanah Suci. Pria renta yang sehari-hari untuk makan saja masih bergantung dari uluran tangan tetangganya bisa berumrah. Itu semua karena keikhlasannya menyedekahkan kambing untuk kurban yang dia lakukan. Di saat hidup Mbah Kemi serba kekurangan, dia masih mampu berkurban kambing. Alhasil Allah ganti kurbannya dengan umrah. Ma syaa Allah.

Jadi anggapan bahwa pergi haji bagi orang kaya sepertinya sudah tidak berlaku lagi. Ditulis dalam buku yang aku dapatkan secara gratis dari YDSF ini bahwa, tidak jaminan orang miskin pasti tidak bisa berangkat haji, dan tidak jaminan juga orang kaya pasti bisa berangkat haji. Banyak kisah-kisah lain yang membuat hatiku trenyuh dengan bentuk ketawakalan dan ketawadukan orang-orang yang dikisahkan di buku ini. Tak sedikit yang hanya berbekal doa dengan khusyuk dan bersedekah dengan ikhlas, mereka diberi kemudahan untuk menuju Haramain.

Setelah menuntaskan membaca buku ini, ada pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik benakku. Sudah khusyukkah kita dalam bermunajat kepada Allah? Sudahkah kita mengeluarkan sebagian harta untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya? Seberapa sering kita memohon dan memanjatkan doa kepada Allah? Mampukah kita ikhlas bersedekah di kala rezeki kita sedang seret?

Tak salah kiranya jika kawan-kawan membaca buku ini sebagai penggugah agar lebih bersemangat untuk melaksanakan umrah atau haji. Allah saja memampukan dan memudahkan mereka yang kurang mampu untuk datang  ke Haramain. Semuanya kembali lagi ke diri kita masing-masing. Kalau niat sudah terpatri, doa telah dilangitkan, sedekah sudah dimaksimalkan, maka tidak ada alasan bagi Allah untuk tidak memberi kemudahan jalan bagi hambanya menuju Baitullah. Wallahualam.

Identitas Buku
Judul            : Haji Gratis
Penulis          : M. Anwar Sani
Penerbit        : Sygma Creative Media Corp.
Tahun           : 2013
Tebal            : 108 halaman
ISBN            : 978-979-055-486-3

#reading_challenge_odop
#rco_odop6
#tugas_rco_pekan1
#ulasan_buku
#review_buku

Selasa, 19 November 2019

NICHE BLOGKU


Akhirnya perjuanganku untuk mengenal dunia literasi memasuki babak baru. Setelah berhasil melalui tantangan menulis setiap hari dan memposkan tulisan di blog selama delapan pekan, aku dinyatakan lulus dan resmi menjadi keluarga besar komunitas One Day One Post (ODOP). Namun perjalanan belum berakhir, karena setelah dinyatakan lulus, kami sebagai anggota baru ODOP harus memilih jalur tulisan sesuai dengan kata hati kami.

Ya, kelas dibagi menjadi dua, kelas Fiksi dan Non-Fiksi. Kamipun berpisah sementara di sini, demi untuk menimba dan memperdalam ilmu menulis kami. Dan pilihanku jatuh kepada kelas non-fiksi, karena jujur aku kurang pandai untuk mengarang suatu cerita fiksi. Namun sesungguhnya keinginan untuk mengasah kemampuan di tulisan fiksi juga membuncah. Apa daya, kami hanya diberi satu pilihan agar lebih fokus untuk memaksimalkan kemampuan menulis kami.

Setelah pengumuman kelulusan, kegiatan menulisku terjeda selama satu minggu. Seakan ada euphoria karena terbebas dari tuntutan menulis yang telah rutin kulakukan selama 8 pekan. Namun, jedanya kelewatan. Hehehe. Dan hari senin kemarin kelas non-fiksi telah resmi dimulai, akhirnya aku menulis lagi.

Ada kecanggungan kembali. Pertanyaan semacam “Harus menulis apa, nih?” atau “Duh, bingung, nulis tentang apa ya?” atau “Kok ga ada ide nulis ya” muncul kembali. Yak, writer’s blog terjadi. Lagi pula siapa suruh untuk berlama-lama tidak menulis. Hihihi. Namun jangan sedih, sebagai seorang (calon) penulis (kambuhan), sudah sewajarnya jika apa yang terjadi di sekitar kita menjadi bahan tulisan.

Secara kebetulan, materi minggu pertama kelas non-fiksi adalah membahas tentang niche blog. Materi niche blog kali ini diisi oleh senior ODOP, kak Rindang Yuliani. Dari penjelasan kak Rindang, yang dimaksud dengan niche blog adalah tema atau topik yang menjadi fokus utama blogger dalam menyajikan konten di blog. Setiap orang pasti mempunyai fokus tulisan yang berbeda-beda, kalau seragam nanti kurang asik gitu ya. Hihihi. Ada blogger yang mengkhususkan blognya membahas tema  tertentu, contohnya Trinity yang mengukuhkan dirinya sebagai travel blogger.

Sudah menjadi niat semenjak awal mengikuti open recruitment ODOP, aku ingin membagikan kebaikan melalui tulisan-tulisanku. Aku ingin tulisanku bisa membawa manfaat bagi pembacanya. Karena ada salah satu peserta ODOP (maaf, aku lupa siapa, kalau merasa, silahkan komen di bawah ya) pada waktu awal-awal kita dikumpulkan dalam grup besar ODOP ada yang bertanya, apakah tulisan kita nanti juga akan dihisab? Dan ada mba atau mas PJ yang menjawab, iya, tentu saja tulisan kita kelak akan dihisab. Nah loh, makin was-waslah aku dalam bertutur kata melalui tulisan.

Berawal dari niatan itulah, melalui tulisan di blog, aku ingin berbagi sedikit tentang ilmu-ilmu agama yang aku dapat melalui kajian-kajian yang aku ikuti. Belum banyak memang, ilmuku masih cetek. Masih seujung kuku, sedangkan ilmu yang dimiliki oleh Sang Rahman Rahim amat sangat luas. Tulisan berlabel Kajian Ilmu masih berisi tujuh tulisan, dan aku yakin akan terus bertambah.

Apakah tulisanku akan melulu tentang kajian ilmu saja? Sementara ini belum. Menurut penjelasan Kak Rindang, dalam satu blog maksimal berikan tiga topik atau tema agar blog yang kita miliki bisa menghasilkan uang (monetized). Namun aku belum sampai dalam tahap mengkomersilkan blog, maklumlah aku masih newbie, orang baru kemarin sore nyemplung di dunia perbloggingan (eh ini bener ga sih, perbloggingan, wakwakwak).

Ada label Traveling Dan Kuliner yang muncul di blog milikku. Tentu saja isinya tak jauh-jauh dari cerita jalan-jalan dan makanan. Keluargaku hobi makan dan jalan-jalan, maka dari itu kutuangkan saja cerita perjalanan dan wisata kuliner kami ke suatu tempat dalam tulisan. Ada juga tulisanku tentang resep masakan yang menjadi favorit keluarga. Siapa tau akan membantu atau menginspirasi bagi siapa saja yang membaca blogku.

Sebenarnya, aku ingin fokus di dua topik tulisan yaitu kajian ilmu dan traveling/kuliner, tetapi sepertinya masih banyak sekali tulisan-tulisanku yang random (seperti orangnya yang random). Namun menurutku, apapun niche blog yang kawan-kawan pilih, berikan tulisan yang membawa dan menularkan energi positif bagi para pembacanya. Kita tidak pernah tau seberapa besar tulisan kita berpengaruh bagi orang lain. Tetaplah menulis, tetaplah bermanfaat. Salam literasi.

#tantangan_odop_lanjutan_pekan1
#onedayonepost7
#odop7
#niche_blog


Selasa, 05 November 2019

KESAN PERTAMA BEGITU MENANTANG, SELANJUTNYA BEGITU KURINDUKAN

sumber gambar : klik di sini


Lega, senang, bahagia,  tetapi sekaligus terharu dan sedih. Rasanya nano-nano campur aduk begitu pokoknya. Bagaimana tidak? 8 pekan harus melewati tantangan untuk menulis di blog pribadi itu seperti hal yang tak bisa kusangka dan kuduga. Seperti keajaiban dunia, hahaha agak lebay memang.

Ya, akhirnya kami berada di penghujung akhir kelas menulis One Day One Post batch 7 (ODOP). Namun memang benar-benar tidak menyangka,  bisa istikamah menulis setiap hari saja (meskipun pernah berhutang 2 kali sih) bagiku itu sudah luar biasa, ditambah bisa menaklukkan segala macam tantangan yang diluncurkan oleh kelas menulis ODOP itu lebih luar biasa lagi. Tantangannya tidak kaleng-kaleng pula. Selalu berhasil membuat otak berpikir keras (terutama otakku ya, tapi lumayan lah ya otakku terpakai juga jadinya, hahaha).

Intinya menulis ternyata penuh perjuangan, sudah macam ketika jatuh bangun aku menyelesaikan kuliah di kampus  ITS tempo dulu. Kesan pertama mengikuti kelas menulis ODOP begitu menantang, dan setelah dijalani selama beberapa minggu ternyata mengasyikkan juga. Bisa mencurahkan isi hati dan isi pikiran ke dalam sebuah tulisan itu sesuatu yang menarik dan menggoda. Menggodaku untuk bermain kata-kata dan mengolah diksi.

Ilmu menulisku otomatis juga berambah. Senang sekali mendapatkan ilmu gratis selama menjadi peserta. Yang awalnya kukira tulisan non–fiksi itu sama saja, ternyata berbeda-beda jenisnya. Ada feature, artikel, esai, biografi, jurnalisme, opini, dan lain sebagainya. Belum lagi tulisan fiksi yang genrenya juga banyak. Ada novel, novelet, cerita pendek, cerita bersambung, dan lain sebagainya. Diberi materi cara membuat puisi, outline cerita fiksi, opening dan ending cerita fiksi. Duh, kurang baik bagaimana ODOP ini.

Diajari dan diberi tips menulis oleh para pemateri yang sudah master di dunia kepenulisan itu macam mendapakan berlian loh. Dan ini gratis, tidak perlu bayar, apalagi subscribe, like, atau share hahaha. Sungguh pengalaman yang sangat berharga bagiku yang ilmunya masih nol puthul kalau kata orang Jawa.

Apakah hanya mendapat ilmu menulis saja di kelas menulis ODOP batch 7. Oh, tentu tidak. Setelah dinyatakan lulus dari seleksi open recruitment, seluruh peserta dipersatukan dalam suatu grup besar whatsapp bernama grup ODOP batch 7. Kemudian kami dipecah menjadi 8 grup kecil. Tiap  grup kecil awalnya berjumlah 22 orang kalau tidak salah. Dan disinilah aku berada, di grup Konstantinopel. Seleksi alam terjadi. Jumlah peserta yang awalnya 22 beringsut mengecil menjadi 13 orang. Hiks sedih.

13 orang peserta plus 4 PJ (baca: pije) dari Konstantinopel in syaa allah akan lulus dari kelas menulis ODOP batch 7 kali ini. Susah, senang, sedih, bahagia, galau telah kami lewati bersama. Saling menyapa, saling menguatkan, saling mengingatkan, saling cakar (mba Jihan sama mas Syaif nih lakonnya, hahaha), saling kirim sticker lucu, saling bercanda menjadi isi percakapan kami. Seluruh keluarga besar Konstantinopel selalu berhasil membuatku tertawa bahkan di saat-saat tersibukku. Para pije, maafkan keberisikan kami ya.

Guys, aku akan merindukan kalian semua. Mba Naila, Mba Nining, Mba Sakifah, Mba Dian Fajar, Mba Jihan, Mba Riana, duo Bunda Lilis, Mba Rahayu, Mba Arina, Mba Retno, Mba Karis, Mba Lasmi, Mba Sari, Mba Dewi, dan yang tercakep (cowo sendiri masalahnya, hahaha) Mas Syaif. Eh, tapi kita akan tetap lanjut kan ya, hihihi. Keluarga baruku ini semuanya bertalenta dan berprestasi, semuanya keren. Aku belajar banyak hal baru dari mereka. Semoga ada kesempatan kita dapat bersua di dunia nyata ya. Kalian semua luar biasa kalau kata Ariel NOAH.

Semoga Komunitas One Day One Post di masa mendatang akan menelurkan banyak pejuang literasi bagi negeri tercinta kita. Semakin banyak penggiat literasi bagi kaum milenial, semakin banyak penulis yang hadir dengan karya-karya hebatnya, semakin banyak penulis yang menyebarkan virus kebaikan melalui tulisan di blog atau media lainnya. Berharap besar masyarakat dunia nyata dan dunia maya di Indonesia semakin suka membaca. Ingat, ayat pertama Al Quran yang diturunkan adalah Iqra’ yang artinya membaca. Negara kita akan maju jika masyarakatnya suka membaca dan menulis.

Akhir kalam, tiada awal tanpa ada akhir. Terimakasih kuucapkan pada para PJ, para pemateri, dan teman-teman peserta ODOP atas kesempatan,  ilmu , dan pengalaman yang sangat berharga ini. Semoga di akhir ODOP ini merupakan awal baru bagi kami utuk lebih giat menulis lagi. Tidak mandeg setelah kelas menulis ini berakhir. Semoga komunitas ODOP semakin jaya di darat, laut, dan udara. Tetap semangat menulis kawan-kawanku semua. I love you 3456. Hahaha.

Kamis, 31 Oktober 2019

BIOGRAFI SANG PJ KECE DARI LONDON. "SILVANA : LITERASI ADALAH PASSION BARUKU"

Bukan sekedar basa basi.
Biografi ini aku dedikasikan untuk teman sekolahku di bangku SMP dan SMA yang hingga saat ini kami masih berteman baik. Dari bujuk rayu dia juga, aku mencoba untuk mengikuti kelas menulis One Day One Post. Kukira aku takkan berhasil untuk sampai pada pekan-pekan terakhir. Sebagai syarat kelulusan, kami para peserta ODOP harus memenuhi 2 tantangan akhir, salah satunya adalah menulis biografi peserta ODOP atau  PJ. Sebagai bentuk rasa terimkasihku kepadanya, aku memilih untuk menulis biografi sang PJ dari kelompok London. Tak lain dan tak bukan, dialah Silvana Devinta Sari. Semoga tulisan biografi ini bisa mengantarkanku ke pintu gerbang kelulusan ODOP.

***

“Saya bersemangat dan penuh dedikasi untuk mengembangkan karier di bidang kepenulisan. Dunia literasi adalah passion baru bagi saya dan takkan berhenti belajar untuk meningkatkan kemampuan saya di bidang ini."

-SILVANA DEVINTA SARI-


sumber : instagram @lunamaya

KELAHIRAN SANG BUNGA

Mentari pagi yang hangat di bulan Maret baru saja menampakkan diri di ufuk timur. Kehangatan sinarnya seakan ingin menyambut kehadiran jiwa-jiwa yang baru saja dilahirkan ke dunia. Ya, di hari itu tepatnya tanggal 14 Maret 1983, seorang bayi mungil baru saja hadir di tengah-tengah keluarga yang menantikannya.

Silvana Devinta Sari, adalah nama yang disematkan pada bayi cantik itu oleh kedua orangtuanya. Putri kedua dari pasangan Ibu Anny Hernawang Srihastuti dan Bapak Bagus Hariadi lahir secara normal, sehat, dan tanpa kekurangan suatu apapun di Rumah Sakit Gatoel kota Mojokerto.

Karena nama adalah doa dan pengharapan orangtua, nama yang dia sandang juga memiliki arti yang mendalam. Harapannya kelak bayi kecil ini akan tumbuh menjadi wanita yang anggun , cantik, dan mampu menebarkan aura mewangi laksana bunga.


MASA SEKOLAH PENUH WARNA

Wanita 36 tahun yang akrab disapa Silvana, tumbuh di lingkungan keluarga yang harmonis bersama sang kakak. Kasih sayang orangtuanya tercurah kepada dua bersaudara ini. Masa-masa kecil yang bahagia dan masa-masa remaja yang penuh warna ia habiskan di kota yang terkenal dengan kue onde-onde, Mojokerto.

Jenjang sekolah dasar, Silvana tempuh di SDK Tunas Nusa Harapan. Setelah enam tahun mengenyamnya, dia melanjutkan sekolahnya di salah satu SMP favorit yaitu SMPN 1 Kota Mojokerto. Berlanjut ke jenjang sekolah menengah atas, lagi-lagi SMA favorit berhasil dia masuki yaitu di SMAN 1 Sooko Kabupaten Mojokerto.

Semua jenjang pendidikan dari SD sampai dengan SMA Silvana lakoni dengan mulus. Tidak ada nilai-nilai rapor yang mengecewakan di tiap catur wulannya.

Semasa penjurusan di SMA, dia lebih memilih mengambil jurusan IPS dibandingkan IPA. Bukan tanpa sebab, dia ingin mengejar impiannya untuk berkuliah di jurusan Hubungan Internasional yang sudah ia pupuk semenjak di bangku kelas 2 SMA.


MERANTAU UNTUK MENGEJAR IMPIAN

Selepas SMA, Silvana yang telah melalui masa sweet seventeen tetap ingin melanjutkan impiannya untuk berkuliah di jurusan HI. Dia berhasil melalui tes UMPTN (SBMPTN kalau jaman now) yang ketat di tahun 2001. Tak sia-sia usahanya untuk belajar dan berdoa dengan tekun agar diterima di sana, dengan menyisihkan hampir ribuan peserta UMPTN.

Silvana akhirnya melenggang sebagai mahasiswi jurusan Hubungan Internasional di salah satu universitas terbaik di Indonesia, Universitas Airlangga Surabaya. Lima tahun waktu yang dia tempuh untuk menyelesaikan studinya. Tepatnya  di tahun 2006 Silvana berhasil menyandang gelar Sarjana Ilmu Politik (S.IP).

Tak butuh waktu lama bagi Silvana yang baru saja lulus S1 untuk mendapatkan pekerjaan. Dia diterima bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris di Atma English Course Surabaya. Tak tanggung-tanggung, dia tidak hanya menjadi pengajar, dia juga bertindak sebagai pengembang materi pembelajaran, penyusun buku penunjang pengajaran, pelatih reguler bagi para tutor, event fasilitator, dan editor tabloid kursus Atma English Course.

Namun mendung tiba-tiba menyelubungi kebahagiaan keluarga Silvana. Di tahun 2008 sang ibunda tercinta berpulang ke Rahmatullah karena sakit. Dia kehilangan seorang sosok yang di setiap untaian doa yang dipanjatkan kepada Sang Khalik selalu mustajab. But life must go on. Dia tidak mau terpuruk terlalu dalam karena ketiadaan sang bunda. 

Di tahun 2010, Silvana berkesempatan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2. Dia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Widya Mandala Surabaya. Tiga tahun waktu yang dia butuhkan untuk menyelesaikannya, yaitu di tahun 2013 Silvana sukses memperoleh gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris (M.Pd).


LITERASI SEBAGAI TERAPI

Sebenarnya Silvana sudah mencintai dunia literasi sedari dulu.  Hobi di kala senggang tak jauh-jauh dari buku. Entah dia habiskan dengan membaca, menulis, atau berkorespondensi. 

Silvana adalah penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Cerita Dari Digul merupakan buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer yang jadi favoritnya. Buku lain yang dia sukai adalah Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata, dan Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan.

Ketertarikannya pada bahasa juga sudah dia tunjukkan semenjak kecil. Tak heran jika Silvana muda sudah menguasai bahasa Inggris dengan baik. Ia melakukan banyak korespondensi dengan teman-temannya dengan berbahasa Inggris serta berinteraksi dengan para bule di chat room via internet. 

Wanita yang telah dianugerahi seorang bayi lucu berusia 6 bulan ini ternyata menemukan sebuah kesenangan melalui menulis. Suatu kali dia pernah membuat sebuah blog untuk menyalurkan hobi menulisnya, tapi hanya iseng belaka. Karena tidak serius, blognya jadi mandeg.

Akhirnya dia memulai kembali menulis di blog. Kali ini Silvana benar-benar menemukan kebahagiaan melalui kegiatan ini. Bagi Silvana, saat menulis dia seperti sedang melakukan terapi yang menyenangkan. Dia bisa menuangkan isi hati dan pikirannya melalui tulisan. Seakan menjadi candu, dia jadi keterusan.

Kecintaannya pada dunia literasi akhirnya membuahkan hasil. Silvana telah menelurkan tulisan-tulisannya dalam bentuk buku antologi. Perempuan Hebat (2018), Ruang Tengah Cerita Cinta (2018), Sederet Cerita Para Pecinta Buku (2018), serta Klasik (2019) adalah buku antologi karyanya.


Salah satu buku antologi karya Silvana

Namun dia tidak akan berhenti sampai di sini saja. Seperti apa yang dia sampaikan di lembar curiculum vitae menulisnya, “Saya bersemangat dan penuh dedikasi untuk mengembangkan karier di bidang kepenulisan. Dunia literasi adalah passion baru bagi saya dan takkan berhenti belajar untuk meningkatkan kemampuan saya di bidang ini."

Hingga saat ini Silvana masih aktif di komunitas One Day One Book dan One Day One Post. Ya, Silvana Devinta Sari, salah satu PJ dari kota London di kelas menulis ODOP batch 7 ini memang kece. Semoga karier menulis teman baikku ini semakin mengangkasa. Dan tak sabar rasanya menunggu buku solo karya dia. Doa terbaik kucurahkan untuk kariermu di dunia tulis menulis. Saranghae chingu.

Mojokerto, 30 Oktober 2019.

#tantangan_pekan8_odop
#tantangan_menulis_biografi
#biografi_singkat
#kelas_menulis