Senin, 25 November 2019

BUATLAH BIDADARI SURGA CEMBURU PADAMU



Suatu pagi di hari jumat penuh berkah tiba-tiba teman kuliahku, Meyta, mengirimkan pesan whatsapp kepadaku. Rupanya temanku mengirimkan sebuah pesan yang diteruskan, yang entah siapa gerangan orang yang  membuat pesan tersebut kali pertama. Awalnya aku membacanya sambil lalu karena ada tugas kantor yang harus aku selesaikan, hingga malam menjelang ketika tugas meninabobokan anak telah tuntas, aku kembali membaca dan mencerna pesan yang dikirimkan temanku pagi tadi.

Isinya cukup membuatku sirik hati. Bagaimana tidak, setelah kucerna dengan baik, pesan tersebut ternyata ditujukan kepada para istri. Taukah engkau wahai kaum Hawa, bahwa bidadari yang berada di surga mengecam para istri yang menyakiti hati suaminya?

Lah kok bisa? Pasti ada yang bertanya demikian. Tentu saja bisa, karena sejatinya suami suami yang mendampingi kita di dunia semata-mata hanyalah titipan, seperti halnya harta, tahta, serta anak-anak kita. Jika suami kita berperilaku salih selama di dunia, kelak dia akan didampingi oleh Huru’in, sang bidadari bermata jeli. Nah loh, lalu kita, sebagai istrinya bagaimana nasibnya? Jangan sedih ibu-ibu, kita bisa juga menjadi bidadari yang mendampingi suami kita kelak di akhirat, asalkan kita menjadi istri yang salihah bagi suami selama di dunia. 

Maka dari itu menjadi kewajiban para istri untuk menaati suami. Sudah sepatutnya kita menghormati suami, karena mereka adalah pemimpin dalam sebuah bahtera rumah tangga. Dan menaati suami adalah salah satu amalan yang dapat memasukkan wanita ke dalam surga dari pintu mana saja (sudah saya tulis di sini "Amalan-Amalan Wanita Ahli Surga").

Dalam sebuah kajian yang disampaikan oleh Ustaz Khalid Basalamah di kanal YouTube, amalan pertama yang dihisab oleh Allah adalah perihal salat dan hubungan dengan suami/istri kita. Jika urusan salat dan urusan dengan suami kita baik, in syaa allah urusan yang lainnya akan dimudahkan oleh Allah azza wa jalla. Lalu bagaimana cara bagi istri untuk bisa mendapatkan rida suami? Sangat mudah sebenarnya yaitu dengan melayani mereka secara ikhlas dan penuh kasih sayang. Kurangi rasa cemburu, kurangi bersikap cerewet, dan yang paling penting selalu mengalah serta meminta maaf terlebih dahulu jika terjadi perselisihan dalam rumah tangga.

Sanggupkah kita, para istri, meminta maaf terlebih dahulu jikalau terjadi perselisihan, walaupun sang suami yang salah? Hehehe. Pasti ada yang jawab, “Idih, kan suamiku yang salah, harusnya dia duluan yang meminta maaf, aku sih ogah. Gengsi!” (eaaakkk, curhat ya Mamah Dedeh, wkwkwkwk). Namun itulah syariat yang dibuat oleh Sang Maha Mengetahui, para istrilah yang wajib mengulurkan tangan untuk memohon maaf terlebih dahulu. 

Lelaki adalah makhluk yang keras, tegas, kaku, berego tinggi, maka perlu diimbangi dengan sentuhan lembut seorang wanita. Mereka akan luluh dengan kelembutan sikap dan tutur kata kita. Bukan malah mencari siapa yang salah dan yang benar, di sini kita sedang mencari keridaan suami. Karena rida suami adalah jalan kita menuju surgaNya. Bayangkan jika ada seorang istri yang meninggal namun belum mendapat keridaan suami kita. Naudzubillah ya mak-mak salihah.

Namun, lagi-lagi akan ada pertanyaan lain seperti “Bagaimana jika sang suami yang zalim kepada istrinya?”. Jangan jawab, diretur aja bisa ga? (wakakaka, percayalah ada yang menjawab demikian saat di kajian). Diretur, macam barang saja ya si suami. Atau ada juga yang protes dengan mengatakan, “Bagaimana kalau suamiku merasa selalu benar?”.  Kemudia ada yang menjawab dengan, aku tinggal minggat aja deh (tepok jidat), dan jawaban-jawaban nyeleneh lainnya. Jangan dong mak-mak.

Menjadi tugas istri untuk mengingatkan suami agar kembali ke jalan Allah dan tidak berlaku zalim kepada keluarganya. Tak lupa juga untuk memanjatkan doa kepada Sang Maha Mengabulkan agar dibukakan hati suami kita yang telah diliputi godaan setan. Yang terakhir bersabarlah atas suamimu yang masih berlaku zalim.

Ya, tidak sulit bagi setan untuk menghancurkan suatu biduk rumah tangga manusia. Setan akan masuk kedalam celah bahkan sekecil apapun. Godaan setan inilah yang membuat suami di saat-saat awal pernikahan penuh cinta berubah menjadi penuh amarah, terjadinya KDRT, atau yang terparah suami meninggalkan syariat agama.

Adalah curahan hati seseorang, sebut saja Gifta, yang menceritakan keruhnya suasana rumah tangganya. Sudah bertahun-tahun biduk rumah tangganya laksana neraka dunia. Suami yang tidak lagi memperhatikan istrinya, minim memedulikan anak, tidak memberi nafkah lahir batin, KDRT secara verbal, dan jarang melaksanakan perintah agama. Dan yang membuatku semakin pilu, Gifta jauh dari sanak saudaranya. Dia hanya memiliki suami yang seharusnya melindungi dia dan anak-anaknya di rumah itu.

Namun apakah Gifta menyerah dengan keadaan rumah tangga yang karut marut? Tidak, dia wanita yang kuat. Walau terkadang beban berat itu ingin membuatnya menyerah, tetapi kembali dia teringat untuk terus bersabar. Dia tidak ingin dikalahkan oleh setan. Suatu kali dia bercerita, “Rasanya sudah ga kuat, tetapi kalau aku bercerai, setan akan bahagia. Si setan akan mendapatkan mahkota dari pemimpinnya kalau kami bercerai.” Maa syaa allah, semoga Allah membangunkan rumah untukmu di surga kelak, layaknya Allah membangunkan rumah di surga untuk Asiyah istri Firaun. Dan bagi istri yang dizalimi suami di dunia, kelak dia akan menjadi bidadari surga dan akan disandingkan dengannya lelaki yang salih. Sabar memang sepahit empedu, namun yakinlah buahnya semanis madu.

Apakah yang akan mak-mak lakukan jika dihadapkan dengan keadaan yang seperti Gifta hadapi? Menyerah dengan jalan bercerai atau tetap bersabar menghadapinya? Entahlah, kalau aku mungkin belum sekuat Gifta. Jika suami zalim kepada istrinya, bacalah istighfar, berusaha menutup celah agar suami tidak bersikap kasar, dan tetaplah mengalah dengan sering mengucap kata maaf. Selama suami tidak menjerumuskan sang istri untuk meninggalkan syariat islam, tetaplah berbakti kepadanya. Balaslah kezaliman suami dengan kebaikan. Beratkah mak-mak? Dijawab dalam hati saja ya.

Jadi para istri, buatlah bidadari-bidadari di surga cemburu kepadamu. Bersyukurlah jika di dunia kita telah berjodoh dengan suami yang salih. Cukuplah dengan mentaati dan berbakti kepada suamimu, maka engkau akan mendapatkan ridanya. Tiada kata-kata manis yang romantis dibandingkan dengan kata-kata, “Wahai ummi, jika kelak abi meninggal terlebih dahulu, jangan menikah lagi ya. Karena aku ingin kita kelak tetap berdampingan di surganya Allah”. Wallahualam.

16 komentar:

  1. Meyta kayak nama temenku mba. Jangan2 temen yang tertukar? Duh ya Allah kenapa komenku ga penting banget yak🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Muahahhaa...mungkin sebenernya mereka putri kembar, yang terpisahkan, halaaahhh

      Hapus
  2. MasyaAllah,kuat sekali mba Gifta ini... sedih banget sih kisahnya... 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget mba, sedih kalo denger curhatanny, rasane kudu tak bawa ke pak ustaz aja suaminya, *loh kok aq yg bawa

      Hapus
  3. Balasan
    1. Hu um mba, wanita kuat yang sebener2nya dia ini

      Hapus
  4. Baca ini sambil mrebes mili hiks

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Wakwakwak...in syaa allah disegerakan mba Re

      Hapus
  6. Mashaallah...bisa dijabarkan dengan panjang lebar oleh seorang Nita...Semoga Allah memberkahi kita rumah tangga yang adem ayem rukun hingga maut memisahkan..hingga bidadari pun cemburu pada kita...sampe skrg yg aku mah mikir..entah apa yg merasukiku sampe ngirim WA tentang itu ke kamu ya... Wallahu alam..pasti Allah yang menggerakkan aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah yang namanya jodoh meyt, jodoh bkn melulu soal suami meyt, pertemanan qt jg suatu jodoh yg sdh diatur oleh Allah azza wa jalla

      Hapus