Senin, 09 Desember 2019

PENIPUAN MASA KINI

 Di antara teman-teman, apakah ada yang pernah mengalami pengalaman ditipu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab? Di zaman yang serba online seperti saat ini, kasus-kasus penipuan secara online rupanya semakin marak saja. Tak sekali dua kali aku menerima pesan pendek atau sms yang isinya berupa penipuan. Entah itu dalam bentuk informasi lowongan pekerjaan, informasi jual beli rumah, informasi persewaan rumah, dan lain sebagainya.

Masih terngiang diingatan beberapa tahun kebelakang, yang kala itu viral sms penipuan yang berisi mama minta pulsa. Rupanya si mama sudah banyak pulsa jadi tidak lagi meminta-minta pulsa kepada sembarang anak, hihihi. Isi pesan penipuan yang sering aku terima biasanya singkat, padat, namun tidak jelas. Semisal “Kalau sudah transfer tolong hubungi nomor 081********* saja”, atau “Transfer ke rek bank XXX dengan norek XXXXXXXXXX a.n fulan”, atau “Selamat nomer anda terpilih sebagai pemenang pertama dari Tel****** dan mendapatkan hadiah sebesar 100 juta rupiah”, atau pesan-pesan lain yang kurang lebih isinya demikian.

Kembali ke tujuh tahun yang lalu di tahun 2012, ketika mama minta pulsa lagi marak-maraknya. Aku sudah mewanti-wanti orang-orang di sekitarku agar tidak mudah tertipu dengan sms atau telepon-telepon tak jelas yang mengabarkan sesuatu yang belum tentu kebenarannya, lalu dengan gampangnya mereka meminta sejumlah uang kepada korbannya. Tak dinyana, malah aku sendiri yang tertipu. Hiks. Modusnya adalah berpura-pura mengenalku dan berbicara (sok) akrab kepadaku di telepon. Dan nahasnya aku terperdaya oleh suara si penelepon. Huft. Aku benar-benar mengira sang penipu adalah temanku. Uang sebesar 500 ribu dalam bentuk pulsa telepon melayang dari buku tabunganku, dan masuk ke dia.

Kejadian selanjutnya, sekitar setahun yang lalu, giliran suamiku yang tertipu. Huhuhu. Ceritanya, suamiku memperoleh panggilan pekerjaan melalui sebuah e-mail. Dan kebetulan juga suamiku memang mengirimkan lamaran pekerjaan ke PT yang bersangkutan. Lalu suamiku mengirimkan whatsapp ke nomer yang tertera untuk mengonfirmasi info yang dia dapat melalui e-mail. Merasa umpannya termakan, sang penipu membalas dan menginformasikan hal-hal yang harus suamiku lakukan. Singkat  cerita, suamiku diperintahkan untuk mengirimkan sejumlah uang untuk sewa hotel di Denpasar, karena interview akan dilakukan di kota itu.

Bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, suamiku menurut saja. Dan baru tersadar tatkala uang sudah berpindah tangan. Sebenarnya sudah ada ebberapa kejanggalan, seperti kop surat panggilan interview yang tidak memakai kop surat PT yang bersangkutan. Kejanggalan lainnya, mengapa suamiku harus mentransfer sejumlah uang kalau mau interview? Bukankah seharusnya ditanggung oleh si perusahaan? Yah, namanya juga tertipu, korban tidak akan sadar kalau sudah kena tipu. Kamipun hanya bisa mengikhlaskan uang itu (meskipun aslinya belum ikhlas 100% sih, wakwakwak).

Dan semalam, temanku juga menshare oknum yang dia curigai sebagai penipu. Ada sebuah booth yang berkedok menawarkan undian berhadiah dengan alasan dia akan membuka toko olektronik di suatu mall di Surabaya. Temanku iseng masuk ke booth tersebut, lalu ditawari segala macam barang-barang elektronik.  Sampailah pada tahap menggesek nomer undian, hal ini dilakukan temanku karena saking penasarannya dengan system penipuannya. Dan temanku mundur teratur, asal tau saja piker temanku. Di sinilah korban akan tertipu, ketika ditawari hadiah utama, korban akan menebus barang tersebut dengan nominal tertentu, yang tentu saja harga barangnya di bawah harga standar, sebagai umpan agar orang tertarik untuk menebusnya. Dan jika penipu berhasil, si korban akan membawa hadiah tersebut. Namun malangnya adalah, hadiah yang didapat tidak sesuai ekspektasi, bahkan terkadang tidak dapat dipakai di saat awal mencobanya (di rumah tentu saja) atau barang yang di dapat sudah dalam kondisi rusak. Hmm, menyebalkan memang.

Geram, kesal, gemas rasanya jika mengetahui ada saja orang yang pekerjaannya hanya kirim-kirim sms penipuan, dan berharap ada seseorang yang percaya dengan isi pesan tersebut. Hallo? Tidak maukah anda-anda ini mencari pekerjaan yang halal lagi tayib? Sudah sebegitu mentokkah hidup anda? Apakah tubuh dan otak mereka sudah tidak cukup sehat untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih bermanfaat? Ah, entah apa yang (merasuki) ada di otak mereka. Di kala biaya hidup semakin tinggi, segala cara dilakukan agar dapat menutupi segala kebutuhan hidup. Namun ingatlah, hasil penipuan bukanlah hasil yang baik. Ingatlah akan dosa yang akan kalian tanggung jika terus hidup dari hasil menipu. Semoga Tuhan segera mengembalikan para penipu ini ke jalan yang lurus kembali. Amin.

12 komentar:

  1. Aku jg mbak hampir ketipu minggu lalu. Ceritanya bosku menyuruh mencari diatributor minyak goreng. Nah, aku nemu di google. Mereka beriklan di blog juga loh. Pas aku datangi, trnyata pergudangan yg dijadikan alamat adalah fiktif. Aku diberi tahu satpam, karena sudah ada korban.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Allah..terlalu bgt gt yaa..segala upaya dilakukan biar dapat mangsa
      Semoga mereka segera kembali ke jalan yg benar yaa

      Hapus
  2. Hebat Kakakku, senang membacanya
    #semangat

    BalasHapus
  3. Harus selalu waspada n bijak menyikapi sesuatu ya ...

    BalasHapus
  4. Belum pernah sih, soalnya mungkin penipunya takut duluan sama kegalakanku wkekek

    BalasHapus
  5. Semakin berjalannya waktu kehidupan semakin mengerikan. Banyak modus penipuan hingga nyawa taruhannya. Miris sedih hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. astaghfirullah, ngeri banget mba
      semoga kita selalu dlm lindungan Allah azza wa jalla

      Hapus