Sabtu, 23 November 2019

FAMILY ROAD TRIP (MAMPIR SEJENAK KE JOGJAKARTA)

Akhirnya tiba saatnya kami mengucapkan sayonara kepada kota Jakarta. Serangkaian acara pernikahan anak bungsu omku usai sudah.  Sebelum pulang, kami sudah berpamitan kepada keluarga besar om di acara resepsi pernikahan. Tak lupa kami mengucapkan terimakasi atas sambutan hangat serta undangan untuk menghadiri setiap prosesi menjelang pernikahan hingga acara resepsinya.

Semua barang bawaan sudah kami packing  sejak pagi hari sebelum kami bertolak pulang. Kami memutuskan untuk melakukan perjalanan pulang malam hari, karena ingin menghindari kemacetan yang terjadi di gerbang tol Cikampek. Itupun karena saran dari kakak kami yang mengatakan kalau gerbang tol Cikampek di sore hari pasti padat merayap, maklumlah jam pulang kantor.

Kami menurut saja.setelah melaksanakan salat magrib, kamipun berpamitan kepada kakak yang selama ini telah menjadi tuan rumah yang baik kepada adik-adik dan keponakan-keponakannya. Dan benarlah kata kakak, beberapa kilometer sebelum memasuki gerbang tol Cikampek, volume kendaraan semakin banyak, macetpun tak dapat dihindari. Ya, kita nikmati saja, entah kapan lagi kami dapat merasakan macetnya  tol Cikampek. Hehehe.

Seperti halnya  saat berangkat ke Jakarta, sepanjang perjalanan pulang kali ini pak suami masih kuat untuk memegang kendali mobil.sedangkan aku full menjaga dan memperhatikan kenyamanan anak-anak. Hari telah menjelang subuh tatkala kami memasuki kota Magelang. Mobil berbelok sejenak ke pelataran masjid. Sembari menunggu azan Subuh, suami memejamkan mata sejenak untuk melepas lelah. Lumayanlah tidur-tidur ayam 30 menit.

Setelah menuntaskan salat subuh, perjalanan kami lanjutkan.  Ah, sampai hampir lupa aku. Kami tidak berencana langsung pulang menuju Mojokerto, tetapi singgah sejenak di kota yang selalu  berhasil membuatku rindu, Jogjakarta. Kami menginap di Jogja semalam. Jarak Magelang-Jogja tidak terlalu jauh, kira-kira membutuhkan waktu 1 - 1,5 jam. Namun karena pak suami mengemudi dengan santai (sambil mampir foto-foto di depan kampus Akmil dan SMA Taruna, hihihi), 2 jam kemudian  baru sampai d Jogja.


Pukul 8 pagi ketika kami berada di kota gudeg, dan perut sudah meraung-raung minta diisi. Namun kami tidak mencari sarapan gudeg, kami ingin mencoba sarapan menu lain. Dan pilihannya jatuh kepada soto seger Hj. Fatimah (kalau tidak salah ya) yang terletak di daerah Deresan, Jogjakarta. Tersedia dua macam soto di sini, soto ayam dan soto daging, ada juga menu pecel bagi yang kurang menyukai soto.

Soto seger bu Hj. Farida

Soto seger bu Hj. Farida disajikan dalam sebuah mangkuk yang berukuran tidak terlalu besar, kuahnya bening dengan cita rasa gurih dengan sedikit rasa manis. Dan yang menggiurkan adalah, kondimennya itu loh, banyak sekali pilihannya. Beraneka macam sate bumbu manis, dari sate daging, sate ayam, aneka jerohan, ada juga perkedel , gorengan, dan kerupuk. Duh, inginnya sih incip semuanya, tapi tahan, tahan, ingat kolesterol. Hahaha. Semuanya nikmat.

Setelah perut kenyang dan hati riang, kami mulai jalan kembali berkeliling menyusuri kota Jogja sambil menunggu waktu check-in hotel.  Kami memilih menginap di Hotel Airlangga yang berlokasi di jalan Prawirotaman. Banyak bule-bule yang menginap di hotel daerah ini, yang membuat auranya mirip dengan jalan Legian di Bali (kata temenku sih, soalnya aku sudah lama sekali tidak ke Bali). Pilihan hotelnya banyak, dan cukup bersahabat di kantong.

Karena masih capek, siang hari itu kami habiskan dengan merecharge energi saja. Malam harinya kami kembali berburu makanan. Dan menu makan malam kami kala itu adalah mencicipi kuliner bakmi Mbah Gito yang super duper laris manis. Iya, sesampainya di sana, meja-meja sudah nyaris terisi penuh. Syukurlah kami masih kebagian tempat duduk. Kami memilih bakmi goreng, bakmi nyemek, dan nasi goreng untuk diincipi.

Waktu tunggu kedatangan kuliner si  bakmi terbilang cukup lama, mungkin karena jumlah pengunjung yang ramai  jadi harus ekstra sabar untuk menunggunya (tapi masih lebih lama untuk mengantre bakmi Kadin kok). Setelah cukup lama menunggu akhirnya pesanan kami datang juga. Tanpa babibu, segera kami santap hidangan tersebut. Rasanya, enaaakkk. Gurih dan mantul deh kalau anak jaman now bilang.
Bakmi Mbah Gito
Namun, menurutku harganya sedikit pricey sih, untuk sepiring bakmi kita harus membayar 30 ribu rupiah (soalnya dibandingin sama mie goreng abang-abang di komplek perumahan yang cuma 11 ribu sih, wkwkwkwk). Eits, tidak mengapa karena harga tersebut membuat kami bahagia dan kenyang pastinya. Kami lantas berkendara kembali sambil berkeliling untuk melihat suasana kota Jogjakarta. Waktu sudah larut ketika kami memutuskan untuk kembali ke hotel.

Waktu sehari semalam memang tak cukup untu kami melepas rindu dengan kota dengan sebutan kota pelajar ini. Namun apa daya, rutinitas sudah menunggu kami di rumah. Keesokan harinya kami sudah harus melanjutkan perjalanan pulang. Lagi-lagi kami berwisata kuliner. Karena diiming-iming suami sate klathak, aku jadi ingin mencicipinya juga dong. Ada beberapa pilihan sate klathak di kota ini. Sebenarnya penasaran dengan sate klathak Pak Pong yang fenomenal itu, tapi bayangan harus mengantri berjam-jam menyurutkan niat itu. Akhirnya kami mencoba sate klathak Pak Jede khas Jejeran yang berada di jalan Nologaten.

Tak perlu berlama-lama untuk menunggu pesanan kami. Seporsi sate klathak, tengkleng, nasi goreng kambing , dan nasi putih terhidang di meja. Rasa sate klathak Pak Jede jika dinikmati tanpa kuah, sangat sederhana sekali, sepertinya hanya dibumbui garam saja. Rasanya dibuat sederhana karena memang makannya mesti dicocol di kuah yang mirip kuah gule (atau memang kuah gule?hahaha), jadi agar tidak terjadi tabrakan rasa kalau satenya diberi bumbu kompleks (ini analisaku saja sih). Cukup unik menurutku.

Sate klathak ala Pak Jede
Dan, kamipun benar-benar meninggalkan kota Jogja setelah menandaskan kuliner sate klathak Pak Jede. Anak-anak cukup menikmati perjalanan di kota ini. Ada rasa tidak rela untuk berpisah, diri ini ingin tinggal barang dua atau tiga hari lagi. Kata pak suami, “In syaa allah kapan-kapan kembali ke Jogja, sambil menjelajah lebih banyak tempat lagi”. Yayaya, semoga kami dapat  kembali berkunjung ke kota yang penuh kenangan bagiku dan pak suami ini, entah kapan. Namun aku yakin kami pasti kembali. Sayonara Jogja, sampai berjumpa pula.

Jumat, 22 November 2019

AMALAN-AMALAN WANITA AHLI SURGA




Assalamualaikum salih people. Sudah hari jumat lagi. Tak terasa hari bergulir dengan cepat. Semoga Allah selalu melimpahkan keberkahanNya kepada kita semua. Allahumma amin.

Baik, in syaa allah setiap hari jumat aku akan membagikan ilmu yang aku dapatkan dari kajian khusus akhwat yang rutin diselenggarakan setiap hari jumat juga. Pemateri  kajian kali ini diisi oleh Ustazah Rosyidah dengan tema amalan-amalan apa saja yang dapat mengantarkan wanita  menjadi ahli surga.

Pertama kali melihat flyernya saja aku sudah bersemangat. Siapa sih yang tidak mendambakan surganya Allah. Namun ternyata, surga Allah itu dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci oleh manusia. Dan begitu juga sebaliknya, neraka Allah dikelilingi oleh hal-hal yang disenangi oleh hawa nafsu manusia. Artinya adalah, jalan untuk menuju itu tidak mudah, banyak cobaan dan godaannya, yang berasal dari siapa lagi kalau bukan setan. (Yakali cobaannya gampang, hadiahnya kipas angin doang. Hihihi.)

Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”.

(HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany)

Hadis sahih yang dituturkan oleh Rasulullah saw di atas yang menjadi jaminan bahwa para wanita dapat masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan. Namun tetap ada S&K yang berlaku. Tidak banyak sih cuma melaksanakan tiga amalan saja, pasti mampu kan? In syaa allah.

Amalan  yang pertama, salat lima waktu. Sebagai muslimah yang taat dan beriman kepada Allah, sudah menjadi kewajiban kita untuk menunaikan rukun islam yang kedua ini. Shalat lima waktu merupakan perintah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh umat islam tanpa terkecuali.

Tunaikanlah ibadah salat dengan memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun, dan kewajiban-kewajiban salat. Meskipun ada batas waktu tertentu dalam melaksanakan salat, tetapi  hendaknya salat fardu dilaksanakan di awal waktu karena itu merupakan keutamaan.

Sesungguhnya, mengapa salat itu terasa berat, karena setan telah memasang perangkap agar manusia bisa menemaninya masuk ke dalam neraka. Astaghfirullah. Perangkap-perangkap tersebut antara lain adalah :
·           Membiarkan manusia terlena dengan masalah mubah
·           Meremehkan hal-hal yang sunnah
·           Mengulur-ulur waktu salat
·           Mengganggu salat manusia dengan pikiran-pikiran yang bermacam-macam

Lakukanlah salat dengan tertib dan penuh konsentrasi. Semaksimal mungkin, pusatkan semua pikiran kita hanya tertuju pada Allah azza wa jalla ketika melaksanakan ibadah salat. Maka dari itu kita harus memaksa diri  agar selalu taat dalam mengerjakan kewajiban ini. Jadikan salat bukan hanya sebagai kewajiban, namun juga suatu kebutuhan, kebutuhan akan limpahan rahmat dari Sang Maha Pencipta.

Amalan yang kedua adalah, mengerjakan puasa Ramadan. Seperti halnya salat, puasa Ramadan hukumnya juga wajib dilakukan oleh seluruh umat muslim tanpa terkecuali. Bagi wanita, ada kalanya kita tidak dapat secara penuh melaksanakan ibadah puasa Ramadan karena mendapatkan tamu bulanan.

Maka dari itu, wanita yang puasanya bolong karena datang bulan, wajib mengqada puasanya di hari lain. Biasanya  ada rasa malas yang menghinggapi tatkala akan mengganti puasa Ramadan di lain hari. Terkadang alasannya karena tidak ada yang menemani dirinya untuk berpuasa. Atau ada pula alasan lupa berapa jumlah puasa yang harus diganti. Jadi mulai sekarang bagi para wanita yang belum membayar puasa Ramadannya, segera dibayar ya, jangan tunggu hingga Ramadan tahun depan tiba kembali. 

Amalan yang ketiga adalah, menaati suami. Jika dua amalan sebelumnya adalah kewajiban yang harus dilakukan seorang muslimah kepada Allah dan Rasulullah, maka amalan terakhir adalah melaksanakan kewajibannya kepada sesama manusia yaitu kepada suaminya.

Seorang wanita yang merindukan surga hendaknya dapat menjadi istri yang dapat menyenangkan hati suaminya serta menjadi penguat bagi suaminya. Wahai kaum Hawa, tidakkah kau tau bahwa kesalihan seorang istri memengaruhi kesalihan seorang suami.

Adapun tiga sifat wanita yang kelak menghuni surga. Sifat-sifat itu adalah :
·           Al Wadud, yaitu wanita yang banyak melahirkan anak (wanita yang subur)
·           Al Walud, yaitu wanita yang penuh cinta kepada suaminya
·           Al Aud ‘ala zaujiha, yaitu wanita yang selalu kembali kepada suaminya dan ketika sang istri menzalimi suaminya maka dia akan berkata “Ini tanganku dalam genggamanmu, aku tidak akan tidur hingga engkau rida kepadaku”.

Maksud dari sifat yang ketiga adalah ketika terjadi pertengkaran antara suami dan istri, kaidahnya sang istrilah yang datang terlebih dahulu untuk memohon maaf kepada sang suami.  Janganlah kita, para wanita, memarahi suami kita karena suatu kesalahan. Atau yang lebih parahnya tidak mensyukuri rezeki yang diberikan oleh suami kita.

Rasulullah pernah bersabda “Bersedekahlah para wanita karena kebanyakan dari kalian itu menjadi bara api neraka Jahanam.’ Maka ada wanita bangsawan dan kedua pipinya berwarna (merah) berdiri bertanya, ‘Kenapa wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Karena kalian seringkali mengadu dan mengufuri pemberian suami.”  (HR. Muslim, no. 885)

Demikianlah penjelasan tentang amalan-amalan wanita ahli surga. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk menjadi wanita yang dapat mendampingi suami kita di dunia dan kelak di surga. Allahumma amin.

Kamis, 21 November 2019

MENGULAS BUKU BERJUDUL “HAJI GRATIS (SEMUA BISA KE BAITULLAH)”



Ke Baitullah bukan Monopoli orang yang berharta. Kesempatan itu terbuka bagi siapa saja. Tulisan tersebut terpampang di cover buku yang berjudul “HAJI GRATIS (SEMUA BISA KE BAITULLAH)”. Umat muslim mana sih yang tidak ingin menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Ya, kita semua pasti sangat ingin dan merindukan untuk dapat melaksanakan ibadah haji atau setidaknya menjalankan ibadah umrah terlebih dahulu.

Namun pada kenyataannya, banyak faktor yang menghalangi kita untuk bisa mendatangi rumah Allah yang sangat megah di Mekah dan Madinah tersebut. Salah satunya adalah faktor biaya. Sudah menjadi rahasia umum jika untuk bisa ke sana dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Banyak banner iklan berseliweran baik di pinggir jalan maupun di pagar-pagar rumah yang berisi ajakan menuju Baitullah. Tak sedikit pula yang menunjukkan nominal harga yang harus dibayarkan, yang kisaran harganya antara 19 juta hingga 30 juta per kepala.

Seperti beberapa hari yang lalu, salah seorang teman baikku yang memiliki travel haji dan umrah tetiba mengirim pesan whatsapp untuk menawarkan umrah dengan biaya 30 juta. Itu sudah harga teman (katanya, hihihi). Biaya tersebut untuk melaksanakan umrah selama 13 hari dan menginap di hotel bintang lima. Bintang lima gaes. Wow! Sangat menggiurkan sekali, tapi sayang dengan halus kutolak tawarannya, karena...(rahasia, hihihi).

Mungkin angka 30 juta rupiah bagi sebagian orang bukanlah angka yang besar. Namun, bagi kaum duafa, fakir miskin, atau orang yang berpenghasilan pas-pasan angka tersebut terbilang fantastis. Jangankan 30 juta rupiah, bisa memegang uang 10-50 ribu rupiah per hari saja rasa syukur mereka amat sangat luar biasa. Bagaimana mungkin mereka dapat menunaikan umrah apalagi haji jika uang yang berada di kantong mereka sangat minim.

Dan di sinilah mengapa buku ini terbit. Buku Haji Gratis ini mengklaim bahwa banyak jalan menuju Baitullah. Umrah dan haji tidak lagi melulu diperuntukkan bagi mereka yang bergaji tinggi atau berstatus kaya. Kaum duafa, fakir miskin, atau orang yang berpenghasilan pas-pasan ternyata juga bisa memenuhi panggilan Allah untuk menuju rumahNya.

Di dalam buku karya M. Anwar Sani ini, terhimpun cerita-cerita inspiratif tentang bagaimana orang-orang yang hanya dapat bermimpi ke rumah Allah bisa terwujud mimpinya. Bagaimana bisa? Yang pertama adalah karena kekuatan doa. Jangan sekali-sekali meremehkan kekuatan doa. Doa yang kita langitkan bisa saja sewaktu-waktu diijabah oleh Sang Maha Mengabulkan.  Seperti yang dituliskan oleh Ustaz Yusuf Mansur di bab pembuka buku ini bahwa Allah mengarahkan manusia agar selalu berdoa dan memohon hanya kepadaNya, serta mengingatNya setiap saat, dalam kondisi apapun. Seperti sabda Rasulullah saw yang berbunyi, “Berdoalah kepada Allah disertai dengan keyakinan bahwa Allah akan memperkenankan. Ketahuilah bahwa Allah tidak menerima doa dari kalbu yang lalai dan lengah.” (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi melalui Salman). Ketahuilah kawan, Allah akan merasa malu jika tidak mengabulkan doa seorang hamba yang telah bermunajat kepadaNya.

Adalah kisah Dasril, seorang tukang kopi yang hidupnya serba kekurangan, awalnya bermimpi berangkat ke Tanah Suci. Namun siapa sangka, Allah membukakan jalan untuk Dasril agar bisa ke sana. Rupanya Allah mengirimkan mitra bisnis, seorang saudagar kopi, yang meminta Dasril agar dijualkan kopinya. Ternyata dia memperoleh laba berlimpah hingga cukup baginya pergi haji. Tidak ada satupun yang mustahil bagi Allah, jika Sang Maha Perkasa sudah mengatakan kun fayakun, min haitsu laa yahtasib.

Yang kedua adalah, perbanyak sedekah. Seperti yang dikisahkan dalam buku ini. Ada seorang tua renta, Mbah Kemi namanya, yang telah ditinggal pergi sang istri selamanya. Dia hidup sebatang kara karena anak terkasih merantau ke luar pulau. Namun tak ada sedikitpun kekhawatiran perihal hidupnya. Hingga dia diberi kabar untuk dapat menunaikan umrahke Tanah Suci. Pria renta yang sehari-hari untuk makan saja masih bergantung dari uluran tangan tetangganya bisa berumrah. Itu semua karena keikhlasannya menyedekahkan kambing untuk kurban yang dia lakukan. Di saat hidup Mbah Kemi serba kekurangan, dia masih mampu berkurban kambing. Alhasil Allah ganti kurbannya dengan umrah. Ma syaa Allah.

Jadi anggapan bahwa pergi haji bagi orang kaya sepertinya sudah tidak berlaku lagi. Ditulis dalam buku yang aku dapatkan secara gratis dari YDSF ini bahwa, tidak jaminan orang miskin pasti tidak bisa berangkat haji, dan tidak jaminan juga orang kaya pasti bisa berangkat haji. Banyak kisah-kisah lain yang membuat hatiku trenyuh dengan bentuk ketawakalan dan ketawadukan orang-orang yang dikisahkan di buku ini. Tak sedikit yang hanya berbekal doa dengan khusyuk dan bersedekah dengan ikhlas, mereka diberi kemudahan untuk menuju Haramain.

Setelah menuntaskan membaca buku ini, ada pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik benakku. Sudah khusyukkah kita dalam bermunajat kepada Allah? Sudahkah kita mengeluarkan sebagian harta untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya? Seberapa sering kita memohon dan memanjatkan doa kepada Allah? Mampukah kita ikhlas bersedekah di kala rezeki kita sedang seret?

Tak salah kiranya jika kawan-kawan membaca buku ini sebagai penggugah agar lebih bersemangat untuk melaksanakan umrah atau haji. Allah saja memampukan dan memudahkan mereka yang kurang mampu untuk datang  ke Haramain. Semuanya kembali lagi ke diri kita masing-masing. Kalau niat sudah terpatri, doa telah dilangitkan, sedekah sudah dimaksimalkan, maka tidak ada alasan bagi Allah untuk tidak memberi kemudahan jalan bagi hambanya menuju Baitullah. Wallahualam.

Identitas Buku
Judul            : Haji Gratis
Penulis          : M. Anwar Sani
Penerbit        : Sygma Creative Media Corp.
Tahun           : 2013
Tebal            : 108 halaman
ISBN            : 978-979-055-486-3

#reading_challenge_odop
#rco_odop6
#tugas_rco_pekan1
#ulasan_buku
#review_buku

Rabu, 20 November 2019

FAMILY ROAD TRIP KE JAKARTA


Jakarta

Akhirnya aku bisa kembali untuk menuturkan kisah perjalanan keluargaku ke pernikahan saudara kami di Jakarta. Aku kira tidak akan bisa menuliskan pengalaman ruwet yang menyenangkan ini, karena sudah lulus ODOP. Padahal seharusnya lulus ODOP kan tetap rajin menulis ya. Rasa malas rupanya mampu mengalahkan keinginan untuk melanjutkan cerita yang sebenarnya sudah ada di pikiranku. (Intinya dipikir aja tidak segera dilaksanakan. Heu)

Baik, kembali ke cerita family road trip keluargaku ke Jakarta. Sesampainya di rumah kakak di daerah Bekasi, kami langsung terlelap dan melepas segala lelah yang hinggap di tubuh kami. Syukurlah anak-anak tertidur dengan nyenyak tanpa ada adegan drama terjaga dan menangis di pagi buta, karena badan emak rasanya tak kuat jika harus menghadapinya, Nak, wakwakwak.

Kami terbangun dengan badan yang jauh lebih mendingan. Kami  menghabiskan waktu di rumah kakak saja seharian itu, karena agenda untuk berjumpa dengan kelarga Om yang akan melaksanakan hajatan pernikahan masih esok hari. Anak-anak menghabiskan waktu dengan bermain dan bersenda gurau dengan dua sepupu jauhnya ini. Mereka tampak sangat akrab, meskipun intensitas perjumpaan mereka bisa dihitung jari.

Keesokan harinya tepatnya hari Jumat, berdua, aku dan suami telah bersiap menuju ke rumah Om yang berada di kawasan Cinere, Depok. Kami hanya berbekal smart phone, google maps, dan rasa PD tingkat nasional (wakwakwak). Ini adalah kali pertama kami menuju rumah Om dan kami buta arah. Kami benar-benar bergantung pada Allah dan google maps.

Apakah perjalanan kami mengalami kendala? Tentu saja, kami kesasar dong. Padahal kami sudah menempuh jalan tol untuk menuju ke sana, namun masih saja kesasar. Hanya karena salah membelok, kacaulah perjalanan kami. Hufftt.  Hahaha.

Kami kemudian memutuskan untuk keluar tol dan menempuh jalur non-tol, agar lebih mudah untuk bertanya ketika kami tersesat. Perjalanan kami terjeda sejenak, karena suami harus melaksanakan ibadah shalat jumat. Setelahnya, perjalanan kami lanjutkan. Setelah cukup lama berjibaku di jalan raya, kamipun menemukan titik terang untuk menuju tempat bersua. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 ketika kami akhirnya bisa berjumpa.

Hal pertama yang dilakukan adalah saling bertukar kabar kami masing-masing, karena memang sudah cukup lama kami tidak berjumpa dengan keluarga besar om.  Kebetulan kami bertemu di sebuah resto di dekat rumah Om. Makanan sudah tersedia di meja makan ketika aku dan suami datang. Acara makan siang bersama kamipun diselingi dengan canda tawa dan obrolan ringan seputar kehidupan kami. 

Acara ngobrol kemudian berpindah ke rumah Om. Singkat cerita Om juga mengundang kami untuk menghadiri prosesi siraman yang akan diadakan esok hari. Dengan senang hati kuiyakan undangan tersebut dan kamipun berpamitan.

Esok paginya, kami sudah berada di jalanan ibukota kembali. Kali ini dengan tingkat kepedean yang lebih tinggi, karena sedikit banyak kami mulai hafal dengan trayek menuju rumah om.
Acara sudah akan dimulai ketika kami datang. Halaman rumah om rupanya sudah disulap menjadi bernuansa Jawa. Ada dekorasi janur di gerbang pintu masuk ke rumah om yang siap menyambut para tamu. Di halaman rumahnya, juga  terlihat gubukan mungil yang telah dihiasi bunga-bubga cantik di atasnya, lengkap dengan gentong berisi air dari tujuh mata air yang nantinya akan diguyurkan kepada si calon manten.  

Pukul 09.00 tepat acarapun dimulai. Rangkaian prosesi siraman adat Jawa diawali dengan pemasangan bleketepe oleh om di antara hiasan janur yang diletakkan di gerbang rumah tadi. Dilanjutkan dengan acara sungkeman, dimana sepupuku, si calon manten, meminta maaf dan memohon doa kepada seluruh anggota keluarga agar diberikan kelancaran hingga hari pernikahan tiba.


Pemasangan bleketepe oleh ayah calon manten

Acara sungkeman yang dilakukan oleh calon manten kepada ayahanda tercinta
Suasana mengharu biru sangat terasa sekali, di saat sepupuku mengucapkan beberapa patah kata sebagai ucapan rasa syukur dan terimakasih kepada sang ayah dan kakak-kakaknya, karena dia akan melanjutkan jenjang kehidupan yang baru bersama calon suaminya kelak. Aku ikut terharu, hiks.

Selanjutnya adalah acara puncaknya, dimana si calon manten yang terlihat ayu sekali, menuju gubukan mungil untuk melakukan prosesi siraman. Seluruh anggota keluarga satu persatu mengguyurkan air ke calon manten, dimulai dari sang ayah dan dilanjutkan oleh kakak-kakaknya, dan keluarga yang lain.
Siap untuk melakukan prosesi siraman

Setelah prosesi siraman selesai, acara berikutnya adalah prosesi jualan dawet yang dilakukan oleh sang ayah. Para tamu diberi kepingan sebagai pengganti uang yang terbuat dari tanah liat yang kemudian ditukarkan untuk mendapatkan segelas dawet. Makna dibalik prosesi ini adalah sang ayah mendoakan agar kelak sang anak dan suaminya selalu diberi kelancaran rezeki oleh Sang Maha Pemberi Karunia. (kalau tidak salah sih ya). Dan selesai sudah serangkaian acara prosesi siraman hari itu.

Hari yang dinantipun tiba, yaitu acara resepsi pernikahan. Hari yang paling berbahagia bagi pasangan pengantin baru. Resepsi acara dilaksanakan di salah satu gedung di kawasan HR Rasuna Said. Meskipun ada sedikit drama kesasar, tapi hal itu tidak menyurutkan langkah kami menuju tempat resepsi.

Pasangan pengantin terlihat sumringah dengan senyum yang selalu terkembang di bibir keduanya. Kami turut melangitkan doa yang terbaik untuk kebahagiaan dan kelanggengan pernikahan mereka. Semoga sakinah, mawaddah, dan rahmah dari Sang Maha Pengasih dan Penyayang selalu melimpahi pasangan baru ini. Amin.

Alhamdulillah, kami diberi kemudahan untuk mengikuti seluruh acara pernikahan saudaraku. Tibalah kami untuk mengepak barang-barang kami dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibu kota Jakarta. Waktunya kami kembali lagi ke kehidupan normal kami di Mojokerto. Eits, tapi tunggu dulu, karena kami akan berbelok sejenak di kota yang istimewa, yaitu Jogjakarta. Apakah seseru perjalanan kami sebelumnya. Nantikan ceritanya ya.


Selasa, 19 November 2019

NICHE BLOGKU


Akhirnya perjuanganku untuk mengenal dunia literasi memasuki babak baru. Setelah berhasil melalui tantangan menulis setiap hari dan memposkan tulisan di blog selama delapan pekan, aku dinyatakan lulus dan resmi menjadi keluarga besar komunitas One Day One Post (ODOP). Namun perjalanan belum berakhir, karena setelah dinyatakan lulus, kami sebagai anggota baru ODOP harus memilih jalur tulisan sesuai dengan kata hati kami.

Ya, kelas dibagi menjadi dua, kelas Fiksi dan Non-Fiksi. Kamipun berpisah sementara di sini, demi untuk menimba dan memperdalam ilmu menulis kami. Dan pilihanku jatuh kepada kelas non-fiksi, karena jujur aku kurang pandai untuk mengarang suatu cerita fiksi. Namun sesungguhnya keinginan untuk mengasah kemampuan di tulisan fiksi juga membuncah. Apa daya, kami hanya diberi satu pilihan agar lebih fokus untuk memaksimalkan kemampuan menulis kami.

Setelah pengumuman kelulusan, kegiatan menulisku terjeda selama satu minggu. Seakan ada euphoria karena terbebas dari tuntutan menulis yang telah rutin kulakukan selama 8 pekan. Namun, jedanya kelewatan. Hehehe. Dan hari senin kemarin kelas non-fiksi telah resmi dimulai, akhirnya aku menulis lagi.

Ada kecanggungan kembali. Pertanyaan semacam “Harus menulis apa, nih?” atau “Duh, bingung, nulis tentang apa ya?” atau “Kok ga ada ide nulis ya” muncul kembali. Yak, writer’s blog terjadi. Lagi pula siapa suruh untuk berlama-lama tidak menulis. Hihihi. Namun jangan sedih, sebagai seorang (calon) penulis (kambuhan), sudah sewajarnya jika apa yang terjadi di sekitar kita menjadi bahan tulisan.

Secara kebetulan, materi minggu pertama kelas non-fiksi adalah membahas tentang niche blog. Materi niche blog kali ini diisi oleh senior ODOP, kak Rindang Yuliani. Dari penjelasan kak Rindang, yang dimaksud dengan niche blog adalah tema atau topik yang menjadi fokus utama blogger dalam menyajikan konten di blog. Setiap orang pasti mempunyai fokus tulisan yang berbeda-beda, kalau seragam nanti kurang asik gitu ya. Hihihi. Ada blogger yang mengkhususkan blognya membahas tema  tertentu, contohnya Trinity yang mengukuhkan dirinya sebagai travel blogger.

Sudah menjadi niat semenjak awal mengikuti open recruitment ODOP, aku ingin membagikan kebaikan melalui tulisan-tulisanku. Aku ingin tulisanku bisa membawa manfaat bagi pembacanya. Karena ada salah satu peserta ODOP (maaf, aku lupa siapa, kalau merasa, silahkan komen di bawah ya) pada waktu awal-awal kita dikumpulkan dalam grup besar ODOP ada yang bertanya, apakah tulisan kita nanti juga akan dihisab? Dan ada mba atau mas PJ yang menjawab, iya, tentu saja tulisan kita kelak akan dihisab. Nah loh, makin was-waslah aku dalam bertutur kata melalui tulisan.

Berawal dari niatan itulah, melalui tulisan di blog, aku ingin berbagi sedikit tentang ilmu-ilmu agama yang aku dapat melalui kajian-kajian yang aku ikuti. Belum banyak memang, ilmuku masih cetek. Masih seujung kuku, sedangkan ilmu yang dimiliki oleh Sang Rahman Rahim amat sangat luas. Tulisan berlabel Kajian Ilmu masih berisi tujuh tulisan, dan aku yakin akan terus bertambah.

Apakah tulisanku akan melulu tentang kajian ilmu saja? Sementara ini belum. Menurut penjelasan Kak Rindang, dalam satu blog maksimal berikan tiga topik atau tema agar blog yang kita miliki bisa menghasilkan uang (monetized). Namun aku belum sampai dalam tahap mengkomersilkan blog, maklumlah aku masih newbie, orang baru kemarin sore nyemplung di dunia perbloggingan (eh ini bener ga sih, perbloggingan, wakwakwak).

Ada label Traveling Dan Kuliner yang muncul di blog milikku. Tentu saja isinya tak jauh-jauh dari cerita jalan-jalan dan makanan. Keluargaku hobi makan dan jalan-jalan, maka dari itu kutuangkan saja cerita perjalanan dan wisata kuliner kami ke suatu tempat dalam tulisan. Ada juga tulisanku tentang resep masakan yang menjadi favorit keluarga. Siapa tau akan membantu atau menginspirasi bagi siapa saja yang membaca blogku.

Sebenarnya, aku ingin fokus di dua topik tulisan yaitu kajian ilmu dan traveling/kuliner, tetapi sepertinya masih banyak sekali tulisan-tulisanku yang random (seperti orangnya yang random). Namun menurutku, apapun niche blog yang kawan-kawan pilih, berikan tulisan yang membawa dan menularkan energi positif bagi para pembacanya. Kita tidak pernah tau seberapa besar tulisan kita berpengaruh bagi orang lain. Tetaplah menulis, tetaplah bermanfaat. Salam literasi.

#tantangan_odop_lanjutan_pekan1
#onedayonepost7
#odop7
#niche_blog


Senin, 18 November 2019

DOSA-DOSA BESAR YANG MEMPERCEPAT AZAB



Hari Jumat yang lalu, tepatnya tanggal 15 November 2019, aku dan teman-teman menghadiri kajian khusus muslimah. Kajian rutin yang bertempat di aula Gajah Mada Swalayan kali ini membahas tentang dosa-dosa besar apa saja yang mempercepat azab Allah kepada hambanya. Jadi, azab-azab ini tidak diberikan kepada hambanya kelak di akhirat, tetapi diturunkan langsung ketika di dunia.

Ibu-ibu yang haus akan siraman  ilmu agama mulai memadati aula sejak pukul 08.00 . Ya, sebagian besar pesertanya adalah emak-emak bergamis. Karena sebagai emak-emak milenial, kita dituntut agar menguasai ilmu agama untuk membekali anak-anak kami. Dengan harapan agar anak-anak kami kelak menjadi generasi milenial yang berakidah dan berakhlak yang baik. Pukul 08.15 acara kajian yang dipimpin oleh Ustaz Subhan sebagai pemateri pun dimulai.

Sebagai pembuka kajian, Ustaz Subhan memaparkan bahwa setiap dosa-dosa ataupun kedurhakaan kita kepada Allah azza wa jalla pasti akan mendatangkan azab. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah dalam QS Asy Syura ayat 30 yang artinya:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.

Dari kajian yang diberikan oleh beliau, terkuaklah dosa-dosa besar yang mempercepat azab Allah kepada hambanya. Berikut adalah dosa-dosa besar tersebut.

1. Syirik kepada Allah

Sebagai seorang muslim, kita pasti tau bahwa syirik kepada Allah adalah dosa yang sangat besar. Syirik kepada Allah adalah tindakan menyekutukan atau menyembah sesuatu selain kepada Allah Sang Maha Pencipta. Tidak sedikit surat-surat di dalam Al Quran yang menerangka tentang bagaimana Allah mengazab suatu kaum karena menyekutukanNya.

Sebut saja kaum Nabi Nuh yang dibinasakan dengan cara ditenggelamkan dalam suatu banjir besar. Seperti yang tertuang dalam Al Quran QS Nuh ayat 25 yang artinya, “Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah”.

Oleh Allah mereka akhirnya ditimpakan banjir besar, karena kaum Nabi Nuh telah menyembah berhala-berhala yang diberi nama Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

2. Pilih-pilih dalam mengimani syariat Allah

Sebagai muslim yang baik, tidak dibenarkan jika kita memilih-milih syariat Allah. Misalnya dengan mengambil syariat Allah yang menguntungkan bagi dirinya dan menolak sebagiannya karena dirasa terlalu memberatkan. Janganlah pula kita mencaci syariat yang telah ditetapkan oleh Allah.

Seperti yang telah difirmankan Allah di Al Quran surat An Nisa ayat 150 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, "Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)," serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir)”.

3. Menyelisihi sunah Rasulullah

Selain dilarang memilih-milih syariat allah, umat muslim juga dilarang untuk menyelisihi sunah Rasulullah, kita harus taat dan tunduk patuh padanya. Apabila kita menyelisihinya, sama saja kita telah menyelisihi perintah Allah.

Ada dua pedoman yang wajib dipegang teguh oleh kaum muslimin yaitu Al Quran dan sunah Rasul. Seperti sabda Rasulullah yang artinya, “Wahai manusia, sungguh telah aku tinggalkan di tengah-tengah kalian suatu perkara yang jika kalian pegang teguh niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya” (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan Malik). 

4. Maraknya perbuatan zina

Karena sesungguhnya perbuatan zina adalah perbuatan keji yang paling keji. Allah sangat membenci perbuatan zina apalagi yang dilakukan secara terang-terangan. Seperti yang tertuang dalam Al Quran surat Al Isra ayat 32 yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”.

Tidakkah kita takut jika Allah akan mendatangkan suatu azab berupa penyakit yang mematikan kepada kita karena melakukan perbuatan zina. Astaghfirullah.

Di akhir pertemuan, beliau juga berpesan kepada jamaah kajian muslimah agar tidak melewatkan membaca zikir “LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR” (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) di pagi hari sebanyak 100 kali. Karena barang siapa yang membacanya maka akan dihapus dosanya sebanyak 100 dan dituliskan kebaikan untuknya sebanyak 100. Dan apabila ia meninggal sebelum petang, maka surga baginya.

Demikianlah penjelasan yang disampaikan oleh Ustaz Subhan. Pukul 09.00 acara kajian diakhiri dan ditutup dengan membaca doa kafaratul majelis. Semoga kita semua selalu dilindungi Allah dari dosa-dosa besar ya teman-teman. Allahumma amin.

Selasa, 05 November 2019

KESAN PERTAMA BEGITU MENANTANG, SELANJUTNYA BEGITU KURINDUKAN

sumber gambar : klik di sini


Lega, senang, bahagia,  tetapi sekaligus terharu dan sedih. Rasanya nano-nano campur aduk begitu pokoknya. Bagaimana tidak? 8 pekan harus melewati tantangan untuk menulis di blog pribadi itu seperti hal yang tak bisa kusangka dan kuduga. Seperti keajaiban dunia, hahaha agak lebay memang.

Ya, akhirnya kami berada di penghujung akhir kelas menulis One Day One Post batch 7 (ODOP). Namun memang benar-benar tidak menyangka,  bisa istikamah menulis setiap hari saja (meskipun pernah berhutang 2 kali sih) bagiku itu sudah luar biasa, ditambah bisa menaklukkan segala macam tantangan yang diluncurkan oleh kelas menulis ODOP itu lebih luar biasa lagi. Tantangannya tidak kaleng-kaleng pula. Selalu berhasil membuat otak berpikir keras (terutama otakku ya, tapi lumayan lah ya otakku terpakai juga jadinya, hahaha).

Intinya menulis ternyata penuh perjuangan, sudah macam ketika jatuh bangun aku menyelesaikan kuliah di kampus  ITS tempo dulu. Kesan pertama mengikuti kelas menulis ODOP begitu menantang, dan setelah dijalani selama beberapa minggu ternyata mengasyikkan juga. Bisa mencurahkan isi hati dan isi pikiran ke dalam sebuah tulisan itu sesuatu yang menarik dan menggoda. Menggodaku untuk bermain kata-kata dan mengolah diksi.

Ilmu menulisku otomatis juga berambah. Senang sekali mendapatkan ilmu gratis selama menjadi peserta. Yang awalnya kukira tulisan non–fiksi itu sama saja, ternyata berbeda-beda jenisnya. Ada feature, artikel, esai, biografi, jurnalisme, opini, dan lain sebagainya. Belum lagi tulisan fiksi yang genrenya juga banyak. Ada novel, novelet, cerita pendek, cerita bersambung, dan lain sebagainya. Diberi materi cara membuat puisi, outline cerita fiksi, opening dan ending cerita fiksi. Duh, kurang baik bagaimana ODOP ini.

Diajari dan diberi tips menulis oleh para pemateri yang sudah master di dunia kepenulisan itu macam mendapakan berlian loh. Dan ini gratis, tidak perlu bayar, apalagi subscribe, like, atau share hahaha. Sungguh pengalaman yang sangat berharga bagiku yang ilmunya masih nol puthul kalau kata orang Jawa.

Apakah hanya mendapat ilmu menulis saja di kelas menulis ODOP batch 7. Oh, tentu tidak. Setelah dinyatakan lulus dari seleksi open recruitment, seluruh peserta dipersatukan dalam suatu grup besar whatsapp bernama grup ODOP batch 7. Kemudian kami dipecah menjadi 8 grup kecil. Tiap  grup kecil awalnya berjumlah 22 orang kalau tidak salah. Dan disinilah aku berada, di grup Konstantinopel. Seleksi alam terjadi. Jumlah peserta yang awalnya 22 beringsut mengecil menjadi 13 orang. Hiks sedih.

13 orang peserta plus 4 PJ (baca: pije) dari Konstantinopel in syaa allah akan lulus dari kelas menulis ODOP batch 7 kali ini. Susah, senang, sedih, bahagia, galau telah kami lewati bersama. Saling menyapa, saling menguatkan, saling mengingatkan, saling cakar (mba Jihan sama mas Syaif nih lakonnya, hahaha), saling kirim sticker lucu, saling bercanda menjadi isi percakapan kami. Seluruh keluarga besar Konstantinopel selalu berhasil membuatku tertawa bahkan di saat-saat tersibukku. Para pije, maafkan keberisikan kami ya.

Guys, aku akan merindukan kalian semua. Mba Naila, Mba Nining, Mba Sakifah, Mba Dian Fajar, Mba Jihan, Mba Riana, duo Bunda Lilis, Mba Rahayu, Mba Arina, Mba Retno, Mba Karis, Mba Lasmi, Mba Sari, Mba Dewi, dan yang tercakep (cowo sendiri masalahnya, hahaha) Mas Syaif. Eh, tapi kita akan tetap lanjut kan ya, hihihi. Keluarga baruku ini semuanya bertalenta dan berprestasi, semuanya keren. Aku belajar banyak hal baru dari mereka. Semoga ada kesempatan kita dapat bersua di dunia nyata ya. Kalian semua luar biasa kalau kata Ariel NOAH.

Semoga Komunitas One Day One Post di masa mendatang akan menelurkan banyak pejuang literasi bagi negeri tercinta kita. Semakin banyak penggiat literasi bagi kaum milenial, semakin banyak penulis yang hadir dengan karya-karya hebatnya, semakin banyak penulis yang menyebarkan virus kebaikan melalui tulisan di blog atau media lainnya. Berharap besar masyarakat dunia nyata dan dunia maya di Indonesia semakin suka membaca. Ingat, ayat pertama Al Quran yang diturunkan adalah Iqra’ yang artinya membaca. Negara kita akan maju jika masyarakatnya suka membaca dan menulis.

Akhir kalam, tiada awal tanpa ada akhir. Terimakasih kuucapkan pada para PJ, para pemateri, dan teman-teman peserta ODOP atas kesempatan,  ilmu , dan pengalaman yang sangat berharga ini. Semoga di akhir ODOP ini merupakan awal baru bagi kami utuk lebih giat menulis lagi. Tidak mandeg setelah kelas menulis ini berakhir. Semoga komunitas ODOP semakin jaya di darat, laut, dan udara. Tetap semangat menulis kawan-kawanku semua. I love you 3456. Hahaha.

Minggu, 03 November 2019

DAWU (EPISODE 5 : ITULAH NAMAKU)

Dawu dan saudar-saudaranya
Sumber :  google

Aku masih teringat pada mendiang saudara lelakiku. Kejadian itu terlalu sakit untuk dilupakan. Sungguh kejam dan tak berperasaan lelaki yang seharusnya kupanggil ayah itu. Tak sudi rasanya  untuk bertemu dengannya lagi. Memori saat bermain dan bercanda dengan saudara lelakiku masih saja berputar di otak. Saudaraku yang malang, semoga engkau berbahagia di sana. 

Lamunanku tentang almarhum saudaraku di siang bolong itu mendadak terusik gegara panggilan keras pak haji. Oleh warga sekitar, pak haji sering dipanggil dengan sebutan Abah. 

Abah kini telah memasuki masa senja hidupnya, tinggal di rumah gedong bercat hijau prusi yang selalu kuintai kehidupan keluarganya. Abah jugalah yang kala itu, bersama anak gadisnya yang baik hati, menguburkan mayat saudara lelakiku.

Lagi-lagi Abah memanggil nama itu. “Dawu, dawu, dawu.” Dawu, hmmm. Baru kali itu kudengar namanya. Siapa gerangan Dawu? Namun tampaknya seseorang yang dia panggil tak jua kunjung datang.

Dari penglihatanku yang tajam, bisa kupastikan Abah sedang membawa sepiring makanan. Dan dari indra penciumanku, bisa kupastikan ada aroma ikan di dalam piring itu. Ahhh, andai saja makanan itu untukku. Pasti kulumat habis dalam waktu sekejap.

”Dawu, Dawu, sini kamu.” Aku tetap bergeming, buat apa bergerak toh dia tidak memanggilku. Namun dari pandangan mata Abah yang menjurus kepadaku, nama itu tertuju padaku.

“Hey, Pus kecil. Sini. Ini makanan buatmu.” Seketika aku bangkit, masih tidak percaya kalau yang dia panggil Dawu adalah aku. Karena aku tak bernama, ibuku tak pernah memberiku nama.

“Hey, cepat kemari. Keburu dimakan kucing lain nanti.” Spontan aku berlari mendekati lelaki tua baik hati itu. 

“Meong, meong, meong.” Jawabku tak sabar untuk segera memakannya.

“Ya, kucing pintar. Makanlah. Mulai sekarang, jika kupanggil kau dengan nama Dawu, datanglah. Dawu itu singkatan dari Damar Klawu." Jelasnya padaku yang sedang asyik masyuk dengan makanan di piring. Abah berkata padaku seolah dia sedang berkata kepada anak lelakinya sendiri.

"Dawu,  akan kusiapkan makanan untukmu dan saudara-saudaramu. Ajaklah mereka kemari ya. Tak tega aku melihat kalian mengais-ngais sampah untuk sekadar mendapatkan makanan.” Dia melanjutkan perkataannya padaku  sambil mengelus-elus bulu kelabuku yang kumal. Tak ada rasa jijik sedikitpun pada raut Abah.

“Meong, meong, meong.” Kuiyakan ajakannya dengan mengeong. Entah Abah paham atau tidak dengan jawabanku ini. Abah yang berhati tulus, ikhlas menyayangi makhluk ciptaan Sang Maha Pencipta tanpa memandang bulu.

Ya, aku hanyalah kucing kampung tak bertuan dan tak terawat yang selalu berkeliaran di sekitar perumahan Abah. Tak punya tempat bernaung , pun juga tak ada makanan nikmat pengganjal perut yang disediakan khusus untukku.

Namun kini kudapati lelaki baik hati yang akan memenuhi rasa laparku dan kedua saudaraku. Agaknya jadwal makanku akan teratur selayaknya anak-anak kucing di rumah Abah. 

Biarlah aku tidur di emperan teras rumah orang atau masjid. Itu sudah cukup. Aku sudah cukup bahagia dengan keadaanku saat ini. Hanya Sang Rahman Rahim yang akan membalas segala budi baik Abah padaku.


#tantangan_odop_pekan8
#menulis_cerbung
#kelasmenulisodop
#odopbatch7
#cerita_bersambung

Sabtu, 02 November 2019

DAWU (EPISODE 4 : DUKAKU)


Malam kian menggelap ketika aku hendak terlelap. Bulan membentuk purnama di langit. Sinarnya sedikit menerangi ruangan yang sedang kutempati untuk sekadar merebahkan tubuh. Ketiga saudaraku memilih tidur di luar, agaknya hawa panas akhir-akhir ini membuat mereka tak betah untuk tidur di dalam ruangan sepertiku.

Tak kulihat ibuku sedari sore. Dia sedang pergi entah kemana. Sudah menjadi kebiasaan ibuku pergi meninggalkan kami anak-anaknya. Tanpa pesan, tanpa pamit. Tak pernah kubertanya kemana atau untuk urusan apa dia pergi. Asal dia datang dengan membawa makanan, kami sudah senang.

Tiba-tiba perasaan tak enak menyelubungiku. Kubolak-balikkan badan yang sudah payah ini. Dan ketika mataku akan terpejam, kumendengar kegaduhan di luar.

Reflek, aku berlari keluar untuk mencari tau sumber kegaduhan. Aku khawatir dengan saudara-saudaraku yang berada di luar. Jangan-jangan terjadi sesuatu terhadap mereka.

Dan benar saja, ada pengganggu rupanya. Seketika mataku beradu dengan sosok itu. Lelaki yang sudah menjadikanku tersangka pencuri belanjaan ibu-ibu kompleks perumahan. 

Matanya nyalang menatap kami berempat. Dia mulai menggeram, aku dan saudara lelakiku ikut menggeram juga. Kami mencoba mengusirnya dari sini. Entah apa yang membuatnya berada di tempat kami dengan amarah yang terbakar.

Tiba-tiba dia menyerang saudara lelakiku. Memang, diantara kami berdua, saudaraku yang terlemah. Badan saudaraku lebih kecil dariku. Aku menyerang balik pada lelaki itu. Namun tubuhnya yang lebih besar berhasil menghalauku. 

Perkelahian beda postur tubuh yang terjadi di pertengahan malam tak dapat dielakkan. Aku dan saudara lelakiku versus lelaki berperawakan garong. Saudara lelakiku fix menjadi sasaran dia. Tak hentinya dia  menggolong dan menyerang saudaraku. 

Sekuat tenaga kucoba membantu saudaraku agar tidak menjadi bulan-bulanan dia. Kegaduhan yang kami buat sudah macam petasan. Ribut tak keruan. 

Sayang, aku belum sekuat itu, meskipun sudah kukerahkan segenap dayaku. Aku terengah-engah kehabisan tenaga. 

Di ketidakberdayaanku, saudaraku dibawa kabur loleh sosok itu. Aku mengejarnya dengan sisa tenagaku, tetapi tak berhasil menemukannya. Aku lunglai, terduduk di tengah-tengah jalan perumahan. Bagaimana nasib saudara lelakiku satu-satunya? 

Keesokan paginya, pikiranku masih kacau memikirkan saudaraku sambil terus mencoba mencari keberadaannya. Di saat itulah aku melihat pak haji bersama anak perempuan satu-satunya, membawa jasad saudaraku yang sudah terbujur kaku.

Sontak kuberlari mendekati mereka. Putri pak haji mendekatiku, dengan terisak dia berkata, “Hai kecil, dia saudaramu ya? Relakan dia ya, dia sudah pergi menemui Allah. Kamu jangan bersedih ya.”

Aku hanya mampu berduka. Tak ada kata-kata yang dapat kuucapkan melihat pemandangan dihadapanku. Kubalas perkataan gadis manis itu dengan pandangan penuh kesedihan.

Kelak baru kuketahui pejantan yang telah membunuh saudaraku, adalah ayah kami. Hanya karena tak ingin tersaingi keberadaannya, dia tega membunuh darah dagingnya sendiri.

Kemudian kulihat kembali jasad saudaraku untuk terakhir kalinya. Sebelum tanah menutup tubuh itu selamanya. 

Jumat, 01 November 2019

DAWU (EPISODE 3 : AKU BUKAN PENCURI)


Pagi itu kudengar ibu-ibu perumahan saling berdialog ketika sedang berbelanja di tukang sayur langganan mereka. Tak sengaja kucuri dengar obrolan seru yang sedang berlangsung.

“Iya Bu, belanjaan saya kemarin juga hilang satu. Pas saya buka di rumah, udah ga ada ikannya.” Kata ibu berdaster biru bunga-bunga.

“Sama, Jeng. Punya saya satu kresek hilang semua. Padahal saya taruh sebentar di badugan depan rumah. Pas balik mau ambil, eh, sudah ga ada, kreseknya sudah terkoyak,isinya ilang. Ngeselin kan.” Kali ini kata ibu berjilbab ungu panjang.

“Duh, kok jadi ga aman gini ya perumahan kita. Jangan suka kelupaan bawa belanjaannya kalau begitu Bu. Begitu selesai, langsung bawa masuk aja. Kalau ilang berkali-kali ya bisa rugi bandar kita.” Sahut ibu berjilbab merah muda.

Hmm, rupanya ada yang suka mencuri belanjaan ibu-ibu muda ini. Tapi siapa gerangan yang tega mengambil belanjaan mereka? Yang pasti bukan aku. Aku serba kekurangan, tapi aku tak mau melakukan tindakan terlarang itu.Mencuri adalah tindakan yang melanggar agama, Allah tidak suka itu. Aku mengetahuinya karena pak ustaz, yang biasa mengisi pengajian di masjid perumahan, melarangnya. Berdosa, begitu kata pak ustaz

Kulihat mereka masih melanjutkan obrolannya. Kali ini sambil melirik ke arahku. 
“Iya, jangan-jangan dia ya. Dia kadang ada di depan rumahku juga sih.” Ujar si ibu berdaster biru bunga-bunga.

Arrgghh. Hanya karena aku dekil, bukan berarti aku pencuri. Tak kugubris prasangka mereka. Lebih baik aku meninggalkan obrolan tanpa fakta itu. 

Aku berjalan cukup jauh meninggalkan ibu-ibu muda itu. Kutemukan tempat yang sepertinya nyaman untuk melamun, yaitu di bawah pohon yang cukup rindang. Kududuk di sana. 

Matahari sudah sepenggalah tatkala kulihat lelaki itu melintas di depanku. Salah satu diantara tiga lelaki yang selalu ada di sekeliling ibuku. Dia berjalan tanpa menghiraukan keberadaanku yang jelas-jelas dia lewati. Gayanya cuek dan terkesan angkuh, seolah-olah dia yang terkuat.

Kuhiraukan saja dia. Namun ada yang aneh dari gerak geriknya. Dari kejauhan kulihat diam-diam dia memasuki rumah ibu yang berdaster biru bunga-bunga. Sejurus kemudian, kulihat dia keluar sambil berlari dan membawa sesuatu. 

Ternyata dia pelaku yang dicari selama ini. Dia yang berbuat, aku yang kena pulutnya. Sial sekali.