Sabtu, 02 November 2019

DAWU (EPISODE 4 : DUKAKU)


Malam kian menggelap ketika aku hendak terlelap. Bulan membentuk purnama di langit. Sinarnya sedikit menerangi ruangan yang sedang kutempati untuk sekadar merebahkan tubuh. Ketiga saudaraku memilih tidur di luar, agaknya hawa panas akhir-akhir ini membuat mereka tak betah untuk tidur di dalam ruangan sepertiku.

Tak kulihat ibuku sedari sore. Dia sedang pergi entah kemana. Sudah menjadi kebiasaan ibuku pergi meninggalkan kami anak-anaknya. Tanpa pesan, tanpa pamit. Tak pernah kubertanya kemana atau untuk urusan apa dia pergi. Asal dia datang dengan membawa makanan, kami sudah senang.

Tiba-tiba perasaan tak enak menyelubungiku. Kubolak-balikkan badan yang sudah payah ini. Dan ketika mataku akan terpejam, kumendengar kegaduhan di luar.

Reflek, aku berlari keluar untuk mencari tau sumber kegaduhan. Aku khawatir dengan saudara-saudaraku yang berada di luar. Jangan-jangan terjadi sesuatu terhadap mereka.

Dan benar saja, ada pengganggu rupanya. Seketika mataku beradu dengan sosok itu. Lelaki yang sudah menjadikanku tersangka pencuri belanjaan ibu-ibu kompleks perumahan. 

Matanya nyalang menatap kami berempat. Dia mulai menggeram, aku dan saudara lelakiku ikut menggeram juga. Kami mencoba mengusirnya dari sini. Entah apa yang membuatnya berada di tempat kami dengan amarah yang terbakar.

Tiba-tiba dia menyerang saudara lelakiku. Memang, diantara kami berdua, saudaraku yang terlemah. Badan saudaraku lebih kecil dariku. Aku menyerang balik pada lelaki itu. Namun tubuhnya yang lebih besar berhasil menghalauku. 

Perkelahian beda postur tubuh yang terjadi di pertengahan malam tak dapat dielakkan. Aku dan saudara lelakiku versus lelaki berperawakan garong. Saudara lelakiku fix menjadi sasaran dia. Tak hentinya dia  menggolong dan menyerang saudaraku. 

Sekuat tenaga kucoba membantu saudaraku agar tidak menjadi bulan-bulanan dia. Kegaduhan yang kami buat sudah macam petasan. Ribut tak keruan. 

Sayang, aku belum sekuat itu, meskipun sudah kukerahkan segenap dayaku. Aku terengah-engah kehabisan tenaga. 

Di ketidakberdayaanku, saudaraku dibawa kabur loleh sosok itu. Aku mengejarnya dengan sisa tenagaku, tetapi tak berhasil menemukannya. Aku lunglai, terduduk di tengah-tengah jalan perumahan. Bagaimana nasib saudara lelakiku satu-satunya? 

Keesokan paginya, pikiranku masih kacau memikirkan saudaraku sambil terus mencoba mencari keberadaannya. Di saat itulah aku melihat pak haji bersama anak perempuan satu-satunya, membawa jasad saudaraku yang sudah terbujur kaku.

Sontak kuberlari mendekati mereka. Putri pak haji mendekatiku, dengan terisak dia berkata, “Hai kecil, dia saudaramu ya? Relakan dia ya, dia sudah pergi menemui Allah. Kamu jangan bersedih ya.”

Aku hanya mampu berduka. Tak ada kata-kata yang dapat kuucapkan melihat pemandangan dihadapanku. Kubalas perkataan gadis manis itu dengan pandangan penuh kesedihan.

Kelak baru kuketahui pejantan yang telah membunuh saudaraku, adalah ayah kami. Hanya karena tak ingin tersaingi keberadaannya, dia tega membunuh darah dagingnya sendiri.

Kemudian kulihat kembali jasad saudaraku untuk terakhir kalinya. Sebelum tanah menutup tubuh itu selamanya. 

6 komentar: