Jumat, 17 Januari 2020
Senin, 23 Desember 2019
RADEN PATAH SANG SULTAN DEMAK (BAGIAN 1)
Mendung
menggelayut di wajah Baginda Raja Brawijaya V, Bhre Kertabhumi sang penguasa
bumi Majapahit. Dirinya sedang dilanda kegalauan yang amat sangat. Permaisuri
tercintanya, Ratu
Dwarawati, mengajukan permintaan yang terasa sulit untuk dia luluskan. Bagaimana
tidak, sang ratu Majapahit memohon kepadanya untuk mengirim selirnya, Putri Siu Ban Ci, yang tengah
mengandung jabang bayinya kembali ke tanah kelahirannya, negeri Campa.
Raja
Majapahait menatap penuh cinta kepada sang selir yang sedang tertidur pulas di
sampingnya malam itu. Pikirannya melalanglang buana entah kemana. Di satu sisi
dia sangat mencintai Putri Siu
Ban Ci, namun di sisi lain dia juga sangat menyayangi permaisuri yang telah
setia mendampingi hidupnya, meskipun tanpa kehadiran seorang anak dari rahimnya.
Dan kini kehadiran buah hati diidam-idamkan sang raja akan terlahir ke dunia,
tetapi kehadirannya malah memunculkan kecemburuan sang ratu.
“Yang
Mulia Baginda Raja, maafkan kalancangan hamba jika harus membuat Baginda
memilih,” kata sang Ratu Majapahit
kala itu di hadapan Bhre Kertabhumi yang sedang berada di singgasananya.
“Apakah
tidak ada pilihan lainnya Adindaku tercinta? Permintaan itu terlalu sulit untuk
kuiyakan. Usia kandungan Putri Siu Ban Ci telah memasuki usia 6 bulan. Alangkah
baiknya jika sang putri melahirkan putranya terlebih dahulu, bukankah demikian
Adinda?” jawab
sang raja mencoba menawar keinginan sang ratu.
Namun
keinginan ratu telah bulat, tanpa tedeng aling-aling dia ingin si selir itu
pergi dari tanah Majapahit. Rasa cemburunya terlalu besar untuk dibendung. Dia
bahkan tak memedulikan nasib sang jabang bayi di kandungan ibunya.
“Maaf, Baginda Raja hanya memiliki dua pilihan saja. Memilih
hamba yang kembali ke rumah orang tua hamba atau Baginda Raja mengembalikan
Putri Siu Ban Ci ke negeri Campa,”
jawab Ratu Dwarawati lembut namun penuh ketegasan.
Berhari-hari,
di atas singgasananya sang raja berpikir keras. Pun hingga malam ini. Meskipun sang raja telah membuat
keputusan, tetapi hatinya tak tega untuk mengutarakan niatnya kepada putri cantik
jelita itu. Sambil menghela napas berat, dia elus rambut hitam legam sang putri
kerajaan Campa itu, mungkin untuk terakhir kalinya.
Keputusan
sang Raja sudah bulat, sebesar apapun rasa cintanya kepada Siu Ban Ci, dia
harus rela melepaskannya, dan memilih Ratu Dwarawati. Tanpa sepengetahuan sang selir,
Raja Brawijaya V telah memanggil Arya Damar, putranya yang berada di negeri
Palembang, untuk datang ke
Majapahit dan menitipkan putri kerajaan Campa itu
kepadanya.
“Semoga Tuhan Yang Maha
Agung melindungimu dan anak kita, kekasih
hatiku,” bisiknya kepada sang selir.
“Semoga kelak kemudian hari, semesta berbaik hati mau mempertemukanku
dengan anak kita. Entah dalam kondisi seperti apa. Dan semoga Tuhan Maha Pengampun
mau memaafkan keputusanku ini,” lanjutnya sembari tetap berbisik. Kali ini dibarengi
dengan kecupan hangat yang mendarat manis
di pipi putih bersih Putri Siu Ban Ci.
Sang putri masih terlelap dalam tidurnya yang sedang
bermimpi indah tentang raja yang
bersenda gurau bersama si bayi dalam gendongannya, tanpa mengetahui bahwa
keberadaannya di tanah Majapahit akan segera berakhir dalam beberapa hari
kedepan.
#RCO_level4
#odop_batch7
#OneDayOnePost
Kamis, 19 Desember 2019
THE GIRL WHO SAVED THE KING OF SWEDEN
RCO
level 3 telah memasuki tahap akhir. Dan tugas tantangan di level 3 ini adalah
membuat tulisan yang berisi perbedaan dan persamaan tradisi/kebiasaan
antara Indonesia dengan negara asal buku tersebut.
Buku
‘The Girl Who Saved The King Of Sweden’
karya Jonas Jonasson ini cukup menarik ceritanya. Buku fiksi setebal 560
halaman berkisah tentang petualangan dan perjalanan hidup seorang wanita
bernama Nombeko Mayeki, gadis yang berasal dari Soweto, Afrika Selatan. Nombeko
lahir di wilayah dari negara Afrika Selatan yang hidup di bawah garis
kemiskinan, dan sebagian besar penduduknya buta huruf. Di usia lima tahun yang
normalnya adalah masa-masa bahagia bagi anak-anak kecil untuk bermain, Nombeko
habiskan untuk bekerja sebagai pemikul tong tinja di perusahaan pengurasan
jamban.
Dia
tidak ingin mengikuti arus lingkungannya yang selain sebagai penguras jamban, orang-orang
di sekitarnya juga menghabiskan waktu mereka
untuk mabuk tiner, menonsumsi obat-obat terlarang, menenggak alkohol,
hal-hal yang tidak berguna pada intinya. Tak terkecuali ibunya juga. Sungguh
menyedihkan memang. Di saat Nombeko seharusnya menghabiskan waktunya untuk
bermain, bergembira, dan bersekolah, ternyata dia harus bekerja keras untuk
kelangsungan hidupnya, dan ibunya.
Namun
Nombeko bukan gadis Soweto pada umumnya, dia termasuk anak yang gigih, pekerja
keras, dan mau belajar. Karena tak ingin mati muda seperti para tetangganya,
maka Nombeko ingin pindah dari Soweto. Dengan barang yang berhasil dia ambil
dari jasad Thabo, tetangganya yang mengajari dia membaca, Nombeko pergi
meninggalkan Soweto. Tujuannya adalah Perpustakaan Nasional di Pretoria.
Namun
nasib kurang beruntung menimpanya. Dan karena kesialannya dia harus berurusan
dengan seorang insinyur gadungan pemabuk yang hidupnya beruntung bernama
Engelbrecht van der Westhuizen. Alih-alih membaca buku di perpustakaan nasional
di pretoria, Nombeko harus menjadi seorang pekerja di sebuah laboratorium
senjata nuklir di Pelindaba. Dan dari sinilah petualangan hidup NOmbeko
dimulai.
Pada
dasarnya Nombeko adalah orang dengan rasa keingintahuan tinggi, dia menghabiskan
waktunya di laboratorium asuhan insinyur Westhuisen sebagai petugas kebersihan
dan membaca buku-buku yang terdapat di perpustakaan Pelindaba. Nombeko anak
yang cerdas, dia dapat berhitung secara cepat dengan caranya yang unik dan
cepat menguasai bahasa asing, yaitu bahasa Cina dialek Wu.
Kehidupan
Nombeko semakin penuh dengan kejutan tatkala dia harus bertanggung jawab atas
bom nuklir berkekuatan 3 megaton yang tidak seharusnya dia bawa ke Swedia.
Nombeko yang seharusnya dapat hidup tenang atas kebebasannya, malah dibuat
pusing dengan keberadaan bom nuklir.
Kehidupan
para tokoh di novel ini sepertinya kurang sesuai dengan adat ketimuran yang
dijunjung oleh negeri kita. Si insinyur yang pemabuk bahkan di jam kerja,
tetangga Nombeko yang hidup dengan drugs. Dan juga kehidupan Nombeko bersama
kekasihnya yang masih menganut konsep kebebasan khas bangsa barat yang masih tabu untuk dilakukan di bangsa kita ini (meskipun sekarang banyak yang melakukannya sih).
Namun
pada akhirnya novel ini cukup menarik
dengan guyonan-guyonan satirenya. Meskipun agak membosankan bagiku. Entah mungkin
karena ekspektasiku yang mengharapkan ini adalah sebuah novel penuh aksi. Hihihi.
Minggu, 15 Desember 2019
BELAJAR DAN BERKEMBANG BERSAMA KOMUNITAS ODOP
Entah saat ini aku harus merasa senag atau sedih. Empat pekan yang kulalui bersama kelas non-fiksi ODOP batch 7 sebagai lanjutan kelas menulis komunitas One Day One Post akan segera berakhir. Aku, dan mungkin juga sebagian besar para peserta ODOP batch 7 yang saat ini sudah menjadi bagian dari keluarga besar komunitas ODOP, merasa sangat beruntung. Beruntung karena di sini aku dan teman-teman mendapatkan ilmu yang sangat berharga. Ilmu tentang dunia tulis menulis yang dibagikan secara cuma-cuma oleh para master di bidangnya. Aku yang dari tidak tau menjadi banyak tau.
Tak berhenti
membagikan ilmu dunia menulis, di kelas non-fiksi kembali kami menerima ilmu
tentang perblogingan, dan lagi-lagi secara gratis. Gratis! Tak main-main,
pematerinya pun orang-orang yang mumpuni di bidang perblogingan. Namun sayangnya,
aku masih belum paham betul. Hiks (apa karena aku yang elmot ya, wakwakwak). Sedikit
banyak aku jadi tau kalau kita bisa menghasilkan uang dari blog yang kita
miliki saat ini, dari iklan, dari adsense, dari banyaknya viewer yang melihat
artikel kita, dari mana saja sepertinya. Hihihi. Bagaimana cara menaikkan
DA/PA, cara membuat judul artikel dengan bantuan SEO, dan istilah-istilah
perblogingan yang jujur masih awam bagiku.
Mungkin
ada baiknya jika materi perblogingan yang disampaikan oleh para mastah, diikuti dengan praktik secara
langsung. Tidak mudah memang jika harus online dalam waktu berbarengan untuk
melakukan praktik secara langsung dari ilmu yang disampaikan oleh pemateri. Tak
jauh-jauh, aku saja mengikuti materi sambil meninabobokan si bayik, bagaimana
bisa buka laptop dan mempraktekkan ilmunya. Hihihi. Atau mungkin diadakan kelas
khusus untuk mengutak-atik blog kita ya. Hanya sekedar saran saja semua itu,
demi memaksimalkan blog yang telah dipunyai saat ini.
Aku juga
banyak belajar dari tulisan teman-teman loh. Setiap melakukan blog walking, aku
ikut menyerap ilmu yang dibagikan oleh mereka. Rata-rata tulisan teman-teman
ODOP batch 7 ciamik soro, alias
bagus-bagus sekali. Sering kali aku menemukan kosakata-kosakata baru dari blog
teman-teman. Tak jarang juga aku belajar, bagaimana mengangkat suatu cerita
yang biasa-biasa saja, namun tampak luar biasa karena diramu dengan kata-kata
yang apik dan mengena. Mantab buat kalian semua! Ahh, aku bersyukur bisa
bertemu dengan komunitas yang satu ini. Kemampuan menulisku meningkat 100%
setelah menjadi peserta dan mengikuti kelas menulis ODOP.
Tak hanya
ilmu menulis, aku juga bertemu dengan orang-orang keren yang konsisten dalam
menulis, para pegiat literasi tanah air, yang datang dari berbagai macam latar
belakang dan disiplin ilmu. Jangan melihat asalnya, pendidikannya, pekerjaannya,
atau keluarganya, bacalah tulisan-tulisan mereka. Banyak pelajaran hidup yang
kupetik dari cerita-cerita yang dibagikan oleh mereka. Pokoknya teman-teman
komunitas ODOP ini luar biasa.
Aku salut
kepada teman-teman yang rajin posting setiap hari tanpa berhutang satu kalipun
disela-sela kesibukannya di dunia nyata. Andai aku bisa seperti mereka. Bisa sebenarnya,
semuanya tergantung niat. Hihihi. Maka dari itu salah satu harapanku adalah
bisa tetap bisa mengasah kemampuan menulis selepas mengikuti segala macam
kegiatan komunitas ODOP dan tetap bisa menjalin silaturahim dengan teman-teman
ODOP. Semoga kelak jika ada waktu dan kesempatan kita dapat berkumpul,
syukur-syukur dapat menelorkan suatu karya bersama. Amin.
Pesanku untuk
teman-teman, jangan berhenti menulis, menulislah untuk menebarkan kebaikan. Siapa
tau dari tulisan yang kita bagikan, kelak akan menjadi amal jariyah bagi diri
kita. Terimakasih banyak teruntuk semua mba-mba pije, mas-mas pije, pemateri yang
keren abis yang telah rela berbagi ilmu,
waktu, dan membersamai perjalanan kami para peserta ODOP batch 7. Biarlah Allah
yang membalas segala peluh dan lelah kalian. Peluk online satu-satu (bagi para
ukhtinya yaaa).
Tetap semangat
menulis ya teman-teman ODOP. Kutunggu karya-karya moncer kalian lahir dari para
penerbit. Salam literasi!
Sabtu, 14 Desember 2019
BERKREASI BERSAMA PIZZA MAKER JUNIOR
Hal yang dapat membuat orang tua menjadi bangga dan
bahagia salah satunya adalah menlihat buah hati mereka tumbuh menjadi anak-anak
yang cerdas dan kreatif. Itulah sebabnya di masa-masa golden age, orang tua dianjurkan untuk menstimulasi daya
kreativitas anak-anaknya dengan mengajak mereka bermain sepuasnya. Dengan membebaskan
mereka bermain sesuka hati diharapkan anak-anak dapat mengasah syaraf-syaraf
sensorik, motorik, serta kreativitas mereka.
Kembali ke saat si sulungku berada di kelas TK A,
kami para orang tua iseng-iseng merencanakan kegiatan untuk anak-anak kami. Salah
satu ibu dari teman si sulung mengutarakan idenya untuk mengajak anak-anak
bermain sambil belajar membuat pizza. Loh,
memang ada kegiatan semacam itu ya?, pikirku yang belum paham. Ternyata ada,
yaitu di restoran pizza paling laris di Indonesia yang gerainya sudah menjamur
dimana-mana. Apalagi jika bukan restoran Pizza Hut.
Ya, Pizza Hut ternyata memiliki agenda kegiatan
bernama Pizza Maker Junior yang
diperuntukkan bagi anak-anak berusia 5-12 tahun yang ingin tau bagaimana cara
membuat pizza sendiri sebelum pizza disajikan di atas meja. Tentu saja mereka
takkan melakukannya sendiri, karena akan ada kakak-kakak yang mendampingi anak-anak
selama berada di dapur restoran. Harga yang ditawarkan untuk mengikuti kegiatan
Pizza Maker Junior ini cukup murah. Per anak akan ditarik biaya Rp 42.000,00.
Hari yag ditetapkan pun tiba. Kami, para ibu
melakukan janji temu di lokasi yaitu di restoran Pizza Hut sore hari sekitar
pukul 14.00. Suara riuh rendah anak-anak langsung disambut ramah oleh
kakak-kakak pramusaji. Seperti pada umumnya anak-anak ketika bertemu dengan
teman-temannya, mereka langsung berbaur, bermain, dan bersenda gurau. Tak butuh
waktu lama bagi anak-anak untuk menunggu, karena selang beberapa saat mereka
dipanggil dan disuruh berbaris rapi sebelum memasuki area dapur restoran.
Namun sayang, kami para ibu tidak dapat mengikuti
kegiatan tersebut. Hanya 1 orang ibu saja yang dapat mendampingi untuk
mengabadikan momen anak-anak berkreasi. Sembari menunggu anak-anak berkegiatan,
para ibu dapat bersantai sejenak di dalam restoran sambil ngobrol ngalor-ngidul, dan tentu saja berselfie
ria. Cukup lama juga menunggu mereka
selesai membuat pizzanya.
Dari foto-foto yang dibagikan oleh salah satu ibu
wali murid, kegiatan membuat pizza diawali dengan mecuci tangan, dilanjutkan
dengan memasang sarung tangan plastik secara mandiri. Setalah tangan mereka
higienis, mereka diberi dough pizza yang siap untuk diberi topping, tetapi mula-mula mereka diajari terlebih dahulu oleh
kakak juru masak. Mereka diperkenalkan aneka macam topping yang dapat diisikan
ke atas pizza. Setelah itu barulah mereka mulai menata topping dan dilanjutkan dengan
memberi aneka saos. Satu per satu anak-anak menyelesaikannya. Dan pizza pun
siap dipanggang.
Kurang lebih 45 menit kemudian, anak-anak telah
selesai melakukan kegiatan membuat pizza. Senyum bahagia dari keduabelas anak peserta
kegiatan ini otomatis muncul di wajah mereka. Kembali mereka bersenda gurau
sambil menunggu pizza hasil kreativitas mereka matang. Dan, akhirnya pizza
hasil karya anak-anakpun telah matang. Dengan penuh kegembiraan, mereka menerima
pizza hasil kreasinya. Sayang, pizza kreasi sulungku tak sempat kuabadikan,
karena sudah dia nikmati di perjalanan pulang.
Soal rasa, tetap sama seperti rasa Pizza Hut, yang
membedakan hanyalah kerapian dalam menyusun topping pizza. Namanya juga
anak-anak, menatanya masih asal. Namun bukan itu yang dinilai, tetapi lebih
kepada keberanian mereka untuk mencoba dan belajar hal-hal baru. Belajar untuk
berkreasi dalam memberikan topping, belajar untuk mandiri, dan belajar untuk
mencintai kebersihan.
Jumat, 13 Desember 2019
BAITI JANNATI
Tiap-tiap pasangan yang telah halal dalam ikatan tali pernikahan pasti mendambakan keluarga yang sakinah, mawadah, dan rahmah. Keluarga yang dipenuhi dengan kedamaian, rasa kasih sayang, serta karunia akan menciptakan suasana rumah tangga yang bahagia, hingga serasa berada di dalam surga. ‘Baiti jannati’, rumahku adalah surgaku. Siapa yang tak menginginkan kondisi rumah yang seperti demikian.
Untuk menciptakan suasana rumah di dunia laksana di
surga bukan perkara yang gampang. Akan ada saja masalah dan musibah yang
datang silih berganti untuk menguji
kita. Entah itu dari si suami, istri, anak, mertua, atau bahkan dari tetangga
sebelah rumah. Maka dari itu tak sedikit yang tidak dapat mewujudkan impian
rumahku adalah surgaku.
Namun, ada juga pasangan suami istri yang dapat
mewujudkannya. Suatu keluarga dikatakan dapat mewujudkan kondisi baiti jannati
salah satu contohnya adalah ketika sang suami akan selalu merasa rindu akan
rumahnya, rindu akan sambutan hangat dari anak-anaknya, rindu akan senyuman
yang merekah dari bibir istrinya.
Ya, kajian khusus muslimah yang rutin diadakan
setiap hari jumat, pagi ini membahas kiat-kiat untuk membangun rumahku adalah surgaku. Materi kajian bertema
baiti jannati kali ini disampaikan
oleh Ustaz Armedi Raharja, Lc.
Salah satu syarat untuk membentuk rumah yang bak
surga adalah pasangan suami dan istri yang bertakwa kepada Allah. Rumah yang
penuh cinta kasih tentunya akan terwujud jika sang nahkoda yang tak lain adalah
suaminya merupakan sosok yang salih. Dan perlu adanya sosok salihah sebagai
pendukung dan pendamping yang tak lain adalah sang istri.
Bayangkan apa jadinya jika sosok suami sebagai
pemimpin keluarga memiliki perangai yang tidak
baik, jauh dari Allah, dan bukan sosok yang salih, dapat dipastikan rumah
tangganya akan seperti neraka. Akan banyak percekcokan, kemarahan yang berujung
KDRT, bahkan mungkin berakhir perceraian di pengadilan agama.
Meskipun tak mudah, Islam telah memberikan kiat-kiat
untuk membangun rumah yang bak di surga. Apa sajakah kiat-kiat tersebut?
Pertama,
luruskan niat. Bagi
para singlelilah yang in syaa allah dalam waktu dekat akan bertemu jodohnya
masing-masing, mari niatkan menikah karena Allah, niatkan menikah karena ingin
mendapatkan generasi-generasi penerus yang salih, menikah karena untuk
mengantarkan diri kepada surga Allah.
Memanglah benar jika segala sesuatu itu bergantung
pada niatnya. Jika niat awalnya saja sudah salah, maka akan jauh dari berkah
Allah. Adapaun contoh niat yang salah misalnya adalah menikah karena harta atau
menikah karena kepepet usia. Dan bagaimana bagi yang sudah terlanjur menikah?
Jika niatnya belum untuk beribadah kepada Allah, segeralah ubah niat tersebut.
Kedua,
pilihlah pasangan yang salih dan salihah. Seperti
sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Nikahilah wanita karena
empat perkara, karena hartanya, nasabnya (keturunan), kecantikannya, dan
agamanya, dan pilihlah wanita yang taat agamanya maka kamu akan beruntung.”
Tidak ada salahnya memang menikahi wanita yang
cantik atau kaya. Namun alangkah baiknya jika seorang lelaki menikahi wanita
yang salihah. Karena kecantikan akhlak, adab, dan ilmu agama seorang wanita akan
mengalahkan kecantikan dzahirnya.
Ketiga,
pilihlah pasangan yang berilmu. Tentu saja ilmu yang
dimaksud adalah ilmu syariat. Lelaki dan wanita yang akan menikah sebaiknya
telah mengetahui tentang hak-hak dan kewajiban-kewajibannya ketika kelak
menjadi seorang suami dan istri. Begitu pula seorang wanita, hendaknya memilih
lelaki yang baik agamanya. Ketakwaan seseorang berbanding lurus dengan
keharmonisan terhadap keluarganya.
Sebagai salah satu contohnya adalah kewajiban suami
untuk menafkahi istrinya, serta kewajiban istri untuk mengurus suami,
anak-anak, dan rumah tangganya. Ada pula hak-hak seorang suami yang wajib
dilaksanakan oleh istrinya, salah satunya adalah seorang istri harus taat
kepada suaminya. Dan istri juga berhak untuk memperoleh hak-haknya, dapat
dibaca di sini 'Hak-Hak Wanita Dalam Islam'.
Keempat,
berlapang dada dan mudah mengalah. Salah
satu resep keharmonisan rumah tangga yang lain adalah istri yang selalu
mengalah, meskipun sang suami yang bersalah. Baca pula 'Amalan-Amalan Wanita Ahli Surga' sebagai pengingat kepada para
istri salihah, bahwa wanita yang sabar dan selalu mengalah merupakan sifat
wanita yang kelak akan menghuni surga. Ingat ya ibu-ibu untuk selalu mengalah
kepada para suami! Ada pesan dari Ustaz Armedi yang ditujukan kepada ibu-ibu
peserta kajian pagi ini.
“Terkadang
mengalah bukan berarti salah. Terkadang mengalah bukan berarti kalah. Namun terkadang
mengalah adalah memberikan kesempatan kepada orang yang kita sayang untuk
berubah.”
Kelima,
memprioritaskan negeri akhirat. Rumah tangga yang
bahagia, harmonis, dan penuh cinta takkan terwujud jika tanpa diiringi dengan
beribadah kepada Allah. Menyamakan visi dan misi kedua belah pihak sebelum
mengikat janji dalam ikatan pernikahan bahwa tujuan akhirnya adalah kehidupan
di akhirat. Yaitu dengan memperbanyak membaca Al Quran, melaksanakan salat, melaksanakan
puasa, menyedakahkan hartanya. Niscaya Allah akan mengucurkan berkah-Nya yang
sedemikian rupa kepada bahtera rumah tangga yang demikian ini.
Demikianlah kiat-kiat yang disampaikan oleh pemateri
untuk menciptakan sebuah baiti jannati. Mungkin mudah bagi seorang suami untuk
membelikan sang istri sebuah rumah. Namun apakah rumah yang dia belikan telah
berhasil menciptakan sebuah surga kecil bagi rumah tangga yang sedang
diarunginya? Mari jadikan ini semua sebagai kontemplasi. Riak-riak kecil akan selalu
datang menghampiri, dan tetap yakinkan diri bahwa Allah akan selalu memberikan
petunjuk bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh berada di jalan-Nya. Wallahualam.
Kamis, 12 Desember 2019
RESOLUSI MENULIS DI TAHUN 2020
Wah, tak terasa kelas menulis non-fiksi komunitas ODOP batch 7 sudah memasuki pekan terakhir. Di pekan ini pula para peserta kelas menulis non-fiksi diberikan tantangan terakhirnya, dengan tema “Resolusi Menulis Di Tahun 2020”.
Flashback
di hari di mana tak terlintas di
pikiranku untuk mengikuti open
recruitment batch 7 komunitas one day
one post. Di tulisan-tulisanku sebelumnya, aku selalu berterimakasih kepada
Silvana, teman kala sekolah tempo dulu yang masih aktif berkirim pesan, karena
dari dialah aku bisa mengetahui komunitas ODOP ini. Jujur pada awalnya aku
pesimis, karena aku bukan penulis, aku lebih sebagai pembaca. Namun aku
teryakinkan, bukan bagus jelaknya tulisan kita yang akan dinilai, namun lebih
kepada seberapa besar niat kita untuk tetap menulis secara kontinu selama 60
hari.
Memang berat pada
awalnya. Tak sedikit juga peserta yang berguguran di tiap minggunya. Membagi waktu
menulis di sela-sela kegiatan di dunia nyata yang cukup padat membuatku
keteteran. Tak jarang aku menulis sebelum jam pulang kantor, atau bahkan baru
bisa menulis di malam hari setelah dua jagoan hebatku tidur. Alhamdulillah segala
tantangan selama 60 hari itu dapat kulalui dengan, yah cukup baik.
Berlanjut memasuki
kelas penjurusan. Sedikit galau untuk memilih kelas fiksi atau non-fiksi.
Setelah aku pertimbangkan cukup setengah matang, dan tak lupa membaca
basmalah, kupilih kelas non-fiksi. Alasannya karena materi yang ditawarkan
kelas non-fiksi menarik perhatianku, salah satunya untuk mengoptimalkan blog. Aku
penasaran karena kabarnya dari blog yang kita miliki bisa menghasilkan uang. Keren nih, pikirku, dari hobi menulis bisa
menghasilkan uang.
Namun kembali lagi, aku
kan hobi baca, bukan menulis. Eits, jangan salah, aku jadi suka menulis juga
kok, meski terkadang masih diliputi rasa malas. Hihihi. Di kelas non-fiksi ini
lagi-lagi keniatan kita untuk istikamah menulis secara kontinu diuji lagi
selama kurang lebih 30 hari (atau lebih ya, aku lupa). Dan lagi-lagi cukup keteteran.
Di kelas lanjutan ini aku merasa malah lebih parah, lebih sering berhutang
tulisan. Padahal dibandingkan ketika masih menjadi peserta ODOP, di kelas
lanjutan ini lebih ringan bebannya karena per pekan diwajibkan menulis 6
tulisan saja. Jadi ada 1 hari bebas untuk tidak menulis, lebih tepatnya 1 hari
itu untuk fokus mencicil tulisan antologi.
Namanya juga manusia,
diberikan keringanan, terkadang malah menggampangkan. ‘Ah, nanti saja belum nemu ide nih’, setelah nanti saja ‘Eh, besok saja deh, kok sekarang capek ya’,
keesokannya ‘huwaduh, deadline tugas
kantor kok sudah di depan mata, tulisannya dirapel besok aja deh’, begitu
saja terus sampai hutang menulis semakin menumpuk. Kalau kata flyer berisi nasihat yang dibagikan mommy Jayko a.k.a mba Jihan, orang
terajin yang pernah kukenal di Konstantinopel squad, ‘jangan suka menunda-nunda tugas, konon kabarnya ketika kita
meningglakan tugas yang belum terselesaikan, dia akan bertemu dengan tugas lain
yang juga ditinggalkan, kemudian mereka jatuh cinta, kemudian akan beranak
pinak, banyak sekali’. (Baru tau kan, kalau tugas yang menumpuk bisa
menimbulkan indikasi untuk mereka saling jatuh cinta? Aku pun). Dan memang
seperti itu pada kenyataannya. Hutang menulis menumpuk, terseok-seok untuk
membayarnya. (Ini berlaku bagiku yah).
Maka dari itu, jika
ditanya apakah resolusi menulisku di tahun 2020? Aku tak ingin muluk-muluk
dalam membuat resolusi menulis di penghujung tahun yang telah siap menyambut
kedatangan tahun yang baru ini. Apa sajakah resolusi itu?
· Bisa
menulis secara berkelanjutan, setidaknya dalam seminggu ada tulisan berfaedah
yang bisa aku posting di blogku. Entah seminggu sekali, dua kali, syukur-syukur
bisa posting setiap hari. Amin.
· Menulis
untuk menyebarkan kebaikan, sehingga bisa bermanfaat bagi para pembacanya.
· Ingin
menjajal menjadi seorang content writer,
siapa tau bakat menulis yang mulai terasah ini dapat menghasilkan sedikit
pundi-pundi kekayaan bagi dompetku. Lumayan untuk membeli popok sekali pakai si
adik. Hihihi.
· Mendalami
ilmu perbloggingan yang meskipun hingga detik ini aku masih belum paham. DA/PA,
SEO, blog domain TLD, adsense, dll adalah istilah-istilah baru dalam hidupku
kamus perblogginganku. Namun pelan-pelan aku akan mempelajarinya.
· Mencoba mengikuti lebih banyak lomba-lomba menulis blog. Sepertinya menyenangkan setelah tugas pekan tiga
kelas non-fiksi menantang pesertanya untuk mengikuti lomba menulis blog. Iseng-iseng
berhadiah. Pasti ada kepuasan tersendiri jika aku berhasil memenangkan lomba
blog yang kuikuti, iya kan?
Kurasa lima resolusi
menulisku di tahun 2020, yang jika kubaca ulang ternyata muluk-muluk (wakwakwak),
sementara cukup. Namun tak ada salahnya bukan. Setidaknya aku memiliki
kisi-kisi tentang kegiatan menulis yang dapat aku lakukan di tahun yang baru. Akhir kata
aku ingin menyampaikan, menulislah sesuatu yang bisa membuatmu bahagia, siapa
tau dari tulisan kita dapat turut membawa kebahagiaan bagi para pembacanya. Tetaplah
semangat menulis di tahun yang baru!
#tantangan_pekan4_kelas_nonfiksi
#odop_batch7
#komunitas_odop
#OneDayOnePost
#kelasnonfiksiODOP
#tantangan_pekan4_kelas_nonfiksi
#odop_batch7
#komunitas_odop
#OneDayOnePost
#kelasnonfiksiODOP
Selasa, 10 Desember 2019
WISATA KULINER ANTAR KOTA DALAM PROPINSI
Apakah sih hal yang paling menyenangkan ketika kita
berjalan-jalan keluar kota? Menjelajahi tempat-tempat wisata yang ada di kota
yang kita singgahi? Berselfie ria di spot-spot foto yang disediakan oleh tempat
wisatanya? Atau mencoba kuliner lokal kota tersebut?
Memang sih, ketika kita berkunjung ke suatu kota untuk berdarmawisata, kita pasti akan bersenang-senang di tempat wisatanya. Tak lupa juga berfoto ria untuk mengabadikan momen-momen indah bersama keluarga. Namun bagiku, yang paling menyenangkan, tak lain dan tak bukan adalah mencicipi makanan khas atau makanan yang paling populer di kota tersebut. Takkan lengkap rasanya kalau sudah ke suatu kota, namun tidak menyempatkan untuk menjajal masakannya.
Memang sih, ketika kita berkunjung ke suatu kota untuk berdarmawisata, kita pasti akan bersenang-senang di tempat wisatanya. Tak lupa juga berfoto ria untuk mengabadikan momen-momen indah bersama keluarga. Namun bagiku, yang paling menyenangkan, tak lain dan tak bukan adalah mencicipi makanan khas atau makanan yang paling populer di kota tersebut. Takkan lengkap rasanya kalau sudah ke suatu kota, namun tidak menyempatkan untuk menjajal masakannya.
Berikut akan aku tuliskan menu-menu makanan yang
wajib dicoba jikalau berkunjung di kota-kota ini. Aku tak menanggung kalau
tiba-tiba perut jadi terasa keroncongan karena membayangkan menu-menu makanan
ini ya, hihihi. Mari aku bahas satu per satu, makanan apa sajakah itu.
Kota
Tulungagung
Di tahun 2009, kantor menempatkanku di kota
Tulungagung untuk mengerjakan proyek jembatan kereta api di daerah Ngujang. Jadi
selama kurang lebih setahun, waktuku lebih
banyak kuhabiskan di Tulungagung. Lalu, apa kuliner khas di Tulungagung? Jawabannya
adalah kacang shanghai dan ayam lodho. Ya, ayam lodho adalah primadona di kota
ini. Dari penampilannya, ayam lodho mirip sekali dengan kare ayam. Namun dari
segi rasa, ayam lodho dan kare ayam ada sedikit perbedaan. Jika kare ayam lebih
terasa rempahnya, maka ayam lodho dominan dengan rasa pedasnya, dan ayam di
masakan ini akan dibakar dahulu sebelum dimasukkan ke dalam kuah santannya. Jadi
ada aroma-aroma gosong namun gurih jika dinikmati.
Bagi penikmat kuliner pedas, ayam lodho khas
Tulungagung dijamin bikin huh hah huh hah.
Bagaimana tidak kuahnya yang sudah terasa pedas, akan disajikan dengan side dish yaitu urap-urap yang rasanya,
pedas pula. Masih kurang pedas? Jangan sedih, karena kita masih akan disuguhi
dengan sambal bawang yang tidak kalah hot
juga. Namun entah mengapa aku serasa tak ingin menyisakan sajian ini, meskipun
harus rela sakit perut setelahnya, hahaha. Yang aku suka juga adalah, di salah
satu warung langgananku kala itu, menu ayam lodho ini disajikan dengan nasi
gurih yang semakin menambah nikmat. Bagaimana? Mau mencoba ayam lodho juga?
Kota
Malang
Kota Malang merupakan salah satu kota yang sering
aku datangi, karena aku blasteran Sidoarjo – Malang, ibuku yang asli Kota Apel.
Hampir setiap tahun kami menyempatkan diri ke sana untuk bersilaturahim ke sanak
saudara. Apakah makanan khas kota Malang? Bakso.
Tak salah kiranya kalau aku menjuluki Malang sebagai
Kota Bakso. Karena hampir semua rasa bakso di kota ini nikmat rasanya. Jangankan
bakso yang bermerk, bakso tiktoktiktok yang dijual gerobagan saja rasanya
maknyus. Tak percaya? Silahkan berkunjung ke Malang, lalu random memilih dan menikmati
bakso abang-abang. Dijamin enak.
Namun bakso favoritku masih saja bakso Presiden. Ada juga bakso kota Pak Man atau bakso di food court Mitra, semuanya enak
dilidahku. Adakah bakso-bakso lainnya yang enak? Rekomendasikan ke aku, nanti
jika aku ke Malang, tak segan aku untuk mencobanya.
Kota
Surabaya
Bagiku, Surabaya adalah kota kedua setelah kota
tempat tinggalku. Selama 12 tahun aku numpang tinggal di ibukota Jawa Timur ini
untuk menyelesaikan studi S1-ku di salah satu PTN dan dilanjutkan untuk mengais
rezeki. Jadi sedikit banyak aku hafal segala macam kuliner yang lezat di
Surabaya.
Banyak makanan khas Surabaya yang menjadi favoritku.
Ada tahu tek Pak Jayen Dharmahusada, pangsit mie KS (Kotamadya Surabaya), pecel samsat Kertajaya, tahu campur Kalasan, rujak cingur Genteng Durasim, bebek goreng Palupi, soto ayam cak Har, nasi campur Bu Rudi. Sepertinya bakal penuh daftar
makanan yang menjadi favoritku di kota ini ya. Hehehe.
Dari kesemuanya, jawaranya adalah rujak cingur Genteng Durasim. Enak sekali loh. Ahhh, aku jadi membayangkan rasa rujaknya. Bolehlah dicoba ketika teman-teman berkunjung ke kotanya Bu Risma. Adakah kuliner Surabaya yang wajib coba lainnya? Silahkan direkomendasikan padaku.
Dari kesemuanya, jawaranya adalah rujak cingur Genteng Durasim. Enak sekali loh. Ahhh, aku jadi membayangkan rasa rujaknya. Bolehlah dicoba ketika teman-teman berkunjung ke kotanya Bu Risma. Adakah kuliner Surabaya yang wajib coba lainnya? Silahkan direkomendasikan padaku.
Pulau
Madura
Nah, jika menyeberang ke Pulau Madura, yang kutuju
sudah barang tentu, bebek goreng Sinjay. Kuliner ini memang sudah tersohor
sejak lama. Kita akan melihat antrian yang mengular begitu sampai di tempat
ini. Rasanya memang enak, bebeknya enak, sambal pencitnya (mangga muda) juga
nendang.
Antriannya memang membuat malas sih. Saranku,
pesanlah sekaligus agak banyak agar tidak mengantri kembali jika ternyata ingin
menambah. Terakhir mengunjungi bebek sinjay di madura sudah beberapa tahun yang
lalu. Namun tak usah berkecil hati, karena rupanya gerai bebek sinjay sudah
merambah di beberapa kota di Jawa Timur. Jadi bagi yang penasaran, cukup
mendatangi gerai bebek sinjay terdekat. Soal rasa dijamin sama, sama-sama
nikmat.
Untuk sementara, cukup sekian info makanan di kota-kota yang pernah aku kunjungi. Kabari aku jikalau ada tempat-tempat kuliner yang wajib dicoba di kota teman-teman ya. Bila ada kesempatan, aku akan mengunjungi dan mencicipi makanannya.
Untuk sementara, cukup sekian info makanan di kota-kota yang pernah aku kunjungi. Kabari aku jikalau ada tempat-tempat kuliner yang wajib dicoba di kota teman-teman ya. Bila ada kesempatan, aku akan mengunjungi dan mencicipi makanannya.
Senin, 09 Desember 2019
PENIPUAN MASA KINI
Di antara teman-teman, apakah ada yang pernah
mengalami pengalaman ditipu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab? Di zaman
yang serba online seperti saat ini, kasus-kasus penipuan secara online rupanya semakin
marak saja. Tak sekali dua kali aku menerima pesan pendek atau sms yang isinya
berupa penipuan. Entah itu dalam bentuk informasi lowongan pekerjaan, informasi
jual beli rumah, informasi persewaan rumah, dan lain sebagainya.
Masih terngiang
diingatan beberapa tahun kebelakang, yang kala itu viral sms penipuan yang
berisi mama minta pulsa. Rupanya si mama sudah banyak pulsa jadi tidak lagi
meminta-minta pulsa kepada sembarang anak, hihihi. Isi pesan penipuan yang
sering aku terima biasanya singkat, padat, namun tidak jelas. Semisal “Kalau sudah
transfer tolong hubungi nomor 081********* saja”, atau “Transfer ke rek bank
XXX dengan norek XXXXXXXXXX a.n fulan”, atau “Selamat nomer anda terpilih
sebagai pemenang pertama dari Tel****** dan mendapatkan hadiah sebesar 100 juta
rupiah”, atau pesan-pesan lain yang kurang lebih isinya demikian.
Kejadian selanjutnya,
sekitar setahun yang lalu, giliran suamiku yang tertipu. Huhuhu. Ceritanya,
suamiku memperoleh panggilan pekerjaan melalui sebuah e-mail. Dan kebetulan
juga suamiku memang mengirimkan lamaran pekerjaan ke PT yang bersangkutan. Lalu
suamiku mengirimkan whatsapp ke nomer yang tertera untuk mengonfirmasi info yang
dia dapat melalui e-mail. Merasa umpannya termakan, sang penipu membalas dan
menginformasikan hal-hal yang harus suamiku lakukan. Singkat cerita, suamiku diperintahkan untuk
mengirimkan sejumlah uang untuk sewa hotel di Denpasar, karena interview akan
dilakukan di kota itu.
Bagaikan kerbau
yang dicucuk hidungnya, suamiku menurut saja. Dan baru tersadar tatkala uang
sudah berpindah tangan. Sebenarnya sudah ada ebberapa kejanggalan, seperti kop
surat panggilan interview yang tidak memakai kop surat PT yang bersangkutan. Kejanggalan
lainnya, mengapa suamiku harus mentransfer sejumlah uang kalau mau interview? Bukankah
seharusnya ditanggung oleh si perusahaan? Yah, namanya juga tertipu, korban
tidak akan sadar kalau sudah kena tipu. Kamipun hanya bisa mengikhlaskan uang
itu (meskipun aslinya belum ikhlas 100% sih, wakwakwak).
Dan semalam,
temanku juga menshare oknum yang dia curigai sebagai penipu. Ada sebuah booth yang berkedok menawarkan undian
berhadiah dengan alasan dia akan membuka toko olektronik di suatu mall di
Surabaya. Temanku iseng masuk ke booth tersebut, lalu ditawari segala macam
barang-barang elektronik. Sampailah pada
tahap menggesek nomer undian, hal ini dilakukan temanku karena saking
penasarannya dengan system penipuannya. Dan temanku mundur teratur, asal tau
saja piker temanku. Di sinilah korban akan tertipu, ketika ditawari hadiah
utama, korban akan menebus barang tersebut dengan nominal tertentu, yang tentu
saja harga barangnya di bawah harga standar, sebagai umpan agar orang tertarik
untuk menebusnya. Dan jika penipu berhasil, si korban akan membawa hadiah
tersebut. Namun malangnya adalah, hadiah yang didapat tidak sesuai ekspektasi,
bahkan terkadang tidak dapat dipakai di saat awal mencobanya (di rumah tentu
saja) atau barang yang di dapat sudah dalam kondisi rusak. Hmm, menyebalkan
memang.
Geram, kesal,
gemas rasanya jika mengetahui ada saja orang yang pekerjaannya hanya kirim-kirim
sms penipuan, dan berharap ada seseorang yang percaya dengan isi pesan
tersebut. Hallo? Tidak maukah anda-anda ini mencari pekerjaan yang halal lagi
tayib? Sudah sebegitu mentokkah hidup anda? Apakah tubuh dan otak mereka sudah
tidak cukup sehat untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih bermanfaat? Ah, entah
apa yang (merasuki) ada di otak mereka. Di kala biaya hidup semakin tinggi,
segala cara dilakukan agar dapat menutupi segala kebutuhan hidup. Namun ingatlah,
hasil penipuan bukanlah hasil yang baik. Ingatlah akan dosa yang akan kalian
tanggung jika terus hidup dari hasil menipu. Semoga Tuhan segera mengembalikan para penipu ini ke jalan yang lurus kembali. Amin.
Minggu, 08 Desember 2019
TAHSIN AL QURAN
Di tulisan sebelumnya, aku telah menulis beberapa
hak-hak yang diperoleh seorang muslimah dalam Islam. Salah satunya adalah hak untuk
menuntut ilmu, karena Rasulullah pernah bersabda bahwa menuntut ilmu itu wajib
hukumnya bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan (HR. Ibnu Majjah).
Dan adapun ilmu yang diprioritaskan untuk dipelajari adalah ilmu syariat islam,
ilmu yang berasal dari kalamullah (Al Quran), hadist, serta, perkataan para
sahabat.
Sejak dua tahun yang lalu, tepatnya ketika
mengandung anak kedua, di penghujung tahun
2017 aku mengikuti kelas memperbaiki bacaan Al Quran. Lebih tepatnya aku mengikuti
kelas tahsin. Tahsin, menurut wikipedia,
adalah kata dari bahasa Arab yang berarti memperbaiki, meningkatkan, atau
memperkaya. Tahsin dalam Islam mengandung makna bahwa tuntutan agar dalam
membaca Al Quran harus benar dan tepat sesuai dengan contohnya demi
terjaganya orisinalitas praktik tilawah sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW,
masih menurut situs wikipedia. Jadi dalam
membaca Al Quran, kita tidak boleh asal bisa membaca saja, namun juga harus
memperhatikan tajwid dan makhraj tiap huruf-huruf hijaiyah.
Masih kuingat hari pertama mengikuti kelas tahsin
yang didampingi oleh guru mengaji yang cukup mumpuni, kami berenam kala itu, dan saat disuruh
membaca AlFatihah, hasilnya 80% bacaanku salah. Ya Allah, jadi selama
bertahun-tahun aku membaca sang ummul
quran masih banyak kesalahannya (kemudian istighfar banyak-banyak). Kukira,
aku yang telah mengikuti les mengaji semenjak kecil, bacaannya sudah betul
semua (duh, kepedean sekali ya). Kata Ustazah Iffah, guru tahsin kami, itulah
pentingnya belajar ilmu tajwid.
Ilmu tajwid adalah ilmu yang mempelajari bagaimana
cara membaca Al Quran dengan lafal dan ucapan yang benar. Belum lagi kami harus
memperbaiki makhraj setiap huruf hijaiyahnya. Makhraj adalah tempat keluarnya huruf
hijaiyah yang menjadi dasar kata-kata di dalam Al Quran. Ustazah Iffah
mengatakan, panjang pendeknya tajwid serta makhraj bacaan kita alangkah baiknya
jika benar, karena beda pelafalan atau pengucapannya maka akan berbeda pula
artinya. Al Quran banyak mengandung doa, kita tidak mau kan jikalau dalam
berdoa dengan maksud memperoleh kebaikan, tetapi karena kesalahan bacaan
artinya jadi buruk (hiks).
Namun aku tak sendiri, teman-teman yang mengikuti
kelas tahsin juga bernasib hampir sama denganku. Masih banyak
kesalahan-kesalahan baik besar maupun kecil. Ya, itulah gunanya belajar. Kita benar-benar
belajar dari yang paling dasar, kita belajar dengan menggunakan buku
Ummi jilid 1. Kita mengawalinya dengan memperbaiki makhrajnya, dengan disisipi
pelajaran tajwid satu per satu di setiap pertemuannya. Mengingat kembali hukum
tajwid yang pernah dipelajari ketika sekolah, yang rupanya ingatan akan pelajaran
tersebut sudah mulai terhapus karena faktor usia. Syukurlah kita mendapatkan
guru mengaji yang super telaten dan super sabar. Walaupun lidah kita sudah
belibet mengucapkan suatu huruf, jika masih salah akan tetap dibenarkan sampai
betul-betul benar.
Teman-temanku di kelas tahsin sebagian besar adalah
ibu-ibu. Dan aku kagum dengan semangat belajar ibu-ibu yang luar
biasa besar, maa syaa allah. Mereka menyempatkan waktu mereka di sela-sela kesibukan mereka dengan
dunia perumahtanggaan atau dunia perkantoran agar bisa belajar membaca Al Quran dengan baik dan benar.
Memang benarlah bahwa tidak ada kata terlambat bagi siapa saja yang mau
belajar dan Allah pasti akan memberikan kemudahan jalan kepada orang-orang yang mau belajar.
Daripada menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berfaedah, lebih
baik jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna. Di setiap akhir kelas,
ustazah selalu memberikan PR tajwid untuk dikerjakan, serta mengingatkan untuk
tetap membaca Al Quran, dan lebih-lebih jika mau menghafalkannya. Salah benar
tidak mengapa, Allah Maha Mengetahui, asal tidak meninggalkannya. Karena di
setiap huruf Al Quran yang kita baca, kita akan memperoleh pahala. Wallahualam.
“Perumpamaan
orang yang membaca Qur’an sementara dia telah menghafalkannya, maka bersama
para Malaikat yang mulia. Dan perumpamaan yang membaca dalam kondisi berusaha
keras (belajar membacanya) maka dia mendapatkan dua pahala.”
(HR.
Bukhori, 4653 dan Muslim, 798)
Sabtu, 07 Desember 2019
HAK-HAK WANITA DALAM ISLAM
Alhamdulillah, segala puji
aku panjatkan kepada Allah azza wa jalla karena masih melimpahkan segala nikmat
dan karunia-Nya kepadaku dan keluargaku. Tak terasa sudah memasuki hari jumat
kembali. Salah satu hari yang aku tunggu-tunggu kedatangannya, pasalnya setiap
hari jumat aku akan menimba ilmu di kajian khusus muslimah yang diadakan oleh salah
satu swalayan yang ada di kotaku.
Selayaknya minggu-minggu
sebelumnya, materi kajiannya seputar wanita. Dan hari jumat ini akan membahas
tentang hak-hak wanita dalam Islam yang akan
disampaikan oleh Ustaz Muhammad Luthfi. Setelah beres dengan masalah domestik
rumah tangga dan mengantarkan duo salihku ke madrasah masing-masing, aku segera
meluncur ke tempat kajian bersama teman-temanku.
Pukul 8 lebih sedikit
acara rutin satu mingguan inipun dimulai, rupanya pak ustaz sudah datang lebih
awal dari para pesertanya. Luar biasa. Dan antusias pesertapun semakin tinggi,
terbukti makin bertambahnya peserta kajian dari minggu ke minggunya. Masyaa allah,
tabarakallah ya emak-emak salihah.
Sebagai intronya, Ustaz
Luthfi hak-hak yang diberikan Islam kepada para wanita adalah sekaligus sebagai
bantahan atas tudingan yang menganggap Islam mengungkung para kaum Hawa. Disebutkan
pula oleh Ustaz Luthfi bahwa sebelum kehadiran
Islam, wanita dianggap tidak ada harganya, kedudukannya sangat rendah,
dicampakkan, bahkan wanita dianggap tidak ada keutamaannya sama sekali. Intinya,
beberapa bangsa di belahan dunia, masih
menganggap wanita makhluk yang hina. Astaghfirullah, aku miris mendengarnya.
Kemudian hadirlah Islam
yang mengubah stigma yang salah tersebut. Kenyataannya, Islam sangat menghormati
dan menghargai kedudukan seorang wanita. Baik tak perlu berlama-lama lagi, akan
aku ringkas materi kajian tentang hak-hak wanita dalam Islam.
1. Hak memperoleh
pahala yang setara dengan pria
Allah telah berfirman
di dalam al quran yang menyuruh hamba-hamba-Nya agar berlomba-lomba untuk
berbuat kebaikan. Allah menyuruh seluruh manusia, tanpa memandang gender, untuk
mencari pahala sebanyak-banyaknya dalam hal beribadah. Salah satu pahala yang
besar adalah berjihad, dan taukah wahai para wanita, jihad kita tidak perlu
dengan menenteng senjata dan maju ke medan perang. Jihad wanita ada
dimana-mana, contohnya adalah melalui kehamilannya dan melakukan ibadah haji.
2. Hak mendapatkan
kemuliaan di sisi Allah
Yang membedakan manusia
yang satu dengan yang lainnya adalah dalam hal ketakwaan. Allah tidak pernah
memandang bulu, baik pria atau wanita, sama saja di hadapan Sang Rahman Rahim. Seperti
yang tertuang dalam Al Quran surat Al Isra 70 yang artinya, “Dan sesungguhnya
telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di
lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka
dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami
ciptakan.”
3. Hak memperoleh
warisan
Dalam Islam, wanita
juga berhak untuk mendapatkan warisan. Wanita akan mendapatkan harta warisan
separuh, dan pria akan mendapatkan warisan secara utuh. Namun, dibalik utuhnya pembagian
warisan yang diterima oleh kaum pria adalah karena kaum pria harus menafkahi
istrinya. Maka dari itu pria mendapatkan lebih banyak untuk kemudian diberikan
kepada wanitanya, jadi wanita dalam hal ini akan mendapatkan lebih banyak
dibandingkan pria. Bahkan wanita tidak perlu membagi harta warisan yang diperolehnya. Hebatnya lagi, wanita berhak
untuk mendapatkan rumah dari suaminya. (Pada senang pasti nih.)
4. Hak untuk menuntut
ilmu
“Menuntut ilmu adalah
wajib bagi setiap muslim”, begitulah sabda Rasulullah kepada umatnya. Wajib bagi
setiap muslim, baik pria maupun wanita. Tentu saja ada adab-adab bagi para
wanita yang menuntut ilmu. Diutamakan adalah menuntut ilmu agama yang bersumber
dari kalamullah, sabda Rasulullah, dan perkataan para sahabat.
“Barang siapa yang
menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya untuk
menuju surga”. Nah, menarik bukan, selain mendapatkan ilmu, kita akan
dimudahkan untuk menggapai surga Allah. Namun, ada adab menuntut ilmu yang
harus diperhatikan juga, sesuai dengan adab-adab islami, misalnya tidak ada
ikhtilat ataupun khalwat.
Dikarenakan keterbatasan
waktu, Ustaz Luthfi hanya menyampaikan 4
poin saja. Untuk hak-hak wanita selanjutnya, aku lanjutkan dengan mengambil kajian
yang disampaikan oleh Ustaz Sholahuddin, dalam materi yang sama, tetapi di WAG SM
G-P83.
5. Hak untuk menentukan
mahar
Wanita berhak untuk
menentukan mahar dari pria yang akan
dinikahinya. Namun ciri-ciri wanita yang berkah adalah wanita yang mudah
maharnya. Meskipun bukan suatu aib juga jikalau sang mempelai wanita menentukan
suatu mahar yang dikehendakinya. Hal ini sejalan dengan firman Allah di surat
An Nisa ayat 4 yang berbunyi, “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang
kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka
menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka
makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik
akibatnya”.
6. Hak mendapatkan
nafkah dari suaminya
Sudah kewajiban bagi
suami untuk memberikan nafkah lahir dan batin kepada istri. Hendaklah para
suami mempergauli para istri dengan baik, memberikan kebutuhan sandang dan
pangannya, dan memberikan wasiat atau wejangan atau nasihat dengan cara yang
makruf. Janganlah bertindak kasar kepada kaum wanita ya wahai kaum Adam.
7. Hak untuk mendapatkan
pengasuhan anak
Hak ini diberikan bagi
wanita yang sedang mengalami kasus perceraian. Jika pasangan suami –istri akan
bercerai, maka sang istri berhak mendapatkan hak pengasuhan anak ketika usia
sang anak masih kecil, masih belum tamyiz (belum dapat membedakan baik buruknya
suatu hal). Hak pengasuhan anak sebaiknya diberikan kepada orang yang bertakwa
kepada Allah, karena pengasuhan anak tidak hanya secara fisik saja, namun juga
pengasuhan secara mental dan pengasuhan terhadap akhlak, akidah, serta ibadah
sang anak. Jika ibunya wanita yang salihah, pengasuhan dapat diberikan kepada
ibuny, dan sebaliknya. Dan jika keadaannya sama-sama orang tua yang salih, hak
pengasuhan tetap diberikan kepada ibunya.
Demikianlah beberapa hak-hak yang dapat diperoleh wanita dalam Islam. Sekali lagi Islam adalah agama yang memuliakan wanita. Sungguh beruntunglah kita yang terlahir sebagai wanita, karena ternyata banyak sekali keutamaan menjadi seorang wanita. Wallahu'alam.
Akhir kata, semoga ilmu yang aku bagikan bermanfaat dan bisa membagikan kajian ilmu selanjutnya. Wassalam.
Langganan:
Postingan (Atom)





