Rabu, 30 Oktober 2019

DAWU (EPISODE 2 : PEJANTAN TANGGUH)

Lalu di mana peran ayahku? Ah, jangan ditanya di mana dia. Aku tak pernah mengenal sosoknya. Diantara tiga lelaki yang selalu berada di sekeliling ibuku, aku tak tau pasti yang mana ayahku. Ibuku tak pernah bercerita, pun aku tak mau tau.

Aku dan keluargaku berjuang keras untuk bertahan hidup. Tak ada ayah yang melindungi kami. Tak ada tempat berteduh permanen untuk kami. Tak jarang aku dan saudara-saudaraku harus rela kepanasan, kedinginan, dan bahkan kehujanan. 

Diusir dan digusur sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kami. Seperti sore itu ketika tak sengaja aku lewat di depan rumah bergaya minimalis bercat putih gading itu. Kupandangi rumah itu dengan penuh harap semoga sang empunya rumah berbaik hati memberiku sedikit makanan, walaupun hanya makanan sisa. Namun usiran yang ku terima.

“Ih, sana, sana, pergi kamu dari sini. Dekil sekali kamu. Jangan berani-berani kamu masuk rumah ini lagi.Oke!” Kata perempuan muda berkepang dua, berumur belasan tahun yang menghuni rumah itu.
Dengan langkah gontai kutinggalkan rumah itu. Sehina itukah aku dihadapan mereka, Ya Rabb? Tak ada sedikit pun niat burukku kepada mereka. 

Hidupku mungkin terlihat mengenaskan di mata kebanyakan orang, tetapi kuterima takdir Sang Maha Pencipta dengan lapang dada. Bersyukur masih bisa bermain dan bersenda gurau dengan ketiga saudaraku. Sebagai lelaki tertua di antara ketiga saudaraku , aku harus bisa melindungi mereka.

Ya, aku bertekad untuk menjadi pejantan tangguh bagi keluargaku. Takkan kubiarkan diriku menjadi pribadi yang lemah dan cengeng. Aku akan bertahan dalam kondisi sesulit apapun.

2 komentar:

  1. Tadinya masih menebak-nebak ini tokoh cewek apa cowok, terjawab sudah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lanjutin hingga akhir ya bu kiya..yeyeyelalala

      Hapus